Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: ”Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!”
Pernahkah kita merasa malas membaca berita tentang ketidakadilan karena setiap kali membacanya, hati justru semakin lelah? Harga kebutuhan naik, ada orang yang kehilangan pekerjaan, sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan yang layak, sementara kita sendiri sedang berusaha bertahan dengan persoalan keluarga dan pekerjaan. Pada titik tertentu, kepedulian sosial terasa seperti kemewahan yang hanya bisa dilakukan kalau hidup kita sudah beres.
Di tengah keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?” Pertanyaan itu penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “Apakah kesejahteraan bangsa memang bagian dari panggilan hidup saya sebagai pengikut Kristus?”
Mazmur 122 memberi kita sebuah cara pandang yang berbeda. Mazmur ini merupakan salah satu Songs of Ascents, nyanyian ziarah yang berkaitan dengan perjalanan umat menuju Yerusalem. Kota itu bukan hanya pusat kehidupan keagamaan Israel, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Bahkan ayat sebelumnya menyebut takhta-takhta penghakiman yang berdiri di sana. Karena itu, ketika pemazmur berdoa untuk damai Yerusalem, yang sedang ia doakan bukan sekadar suasana kota yang tenang. Ia sedang memohon kebaikan sebuah komunitas secara menyeluruh.
Di sini kita perlu berhati-hati. Mazmur 122:6-7 bukan janji bahwa setiap orang yang mencintai sebuah kota pasti menjadi kaya. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “damai” adalah shalom, sebuah istilah yang memiliki cakupan luas: kesejahteraan, keamanan, keutuhan, dan kondisi yang baik. Doa pemazmur menyentuh kehidupan bersama, bukan sekadar kenyamanan pribadi.
Menariknya, doa itu muncul setelah penyebutan takhta penghakiman. Ada hubungan yang kuat antara damai dan keadilan. Sebuah masyarakat tidak akan menikmati damai sejahtera yang utuh ketika orang-orang yang lemah terus dirugikan, ketika kebenaran dapat dibeli, atau ketika mereka yang memiliki kuasa tidak lagi peduli kepada mereka yang tidak berdaya.
Karena itu, kesejahteraan bangsa tidak bisa dipersempit menjadi pertumbuhan ekonomi atau keadaan yang aman. Kesejahteraan juga menyangkut bagaimana manusia diperlakukan, bagaimana keadilan ditegakkan, bagaimana yang rentan diperhatikan, dan bagaimana kita hidup bersama tanpa saling menghancurkan.
Di sinilah doa menjadi lebih dari sekadar kalimat yang kita ucapkan setelah menyanyikan lagu kebangsaan atau ketika melihat keadaan negara sedang sulit.
Doa seharusnya membentuk cara kita memandang bangsa.
Kalau kita sungguh meminta Tuhan memberikan damai kepada negeri ini, kita tidak bisa kemudian bersikap acuh ketika orang di sekitar kita diperlakukan tidak adil. Kalau kita berdoa agar masyarakat mengalami kesejahteraan, kita juga perlu bertanya apakah kehidupan kita sendiri ikut menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Bukan berarti kita harus menyelesaikan seluruh persoalan bangsa seorang diri. Kita juga tidak perlu merasa bersalah karena tidak mampu membantu semua orang. Ada batas pada tenaga, uang, waktu, dan kemampuan kita. Namun keterbatasan bukan alasan untuk kehilangan kasih.
Pelayanan Kristen justru sering dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Mungkin dari seorang pemimpin usaha yang memilih membayar pekerjanya dengan adil. Mungkin dari seorang pegawai yang tidak ikut menyebarkan fitnah tentang rekan kerjanya. Mungkin dari guru yang memperlakukan murid yang kurang mampu dengan martabat yang sama. Mungkin dari keluarga yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu tetangga yang sedang kesulitan.
Hal-hal seperti itu mungkin tidak masuk berita. Tidak ada kamera yang merekamnya. Tidak ada tepuk tangan yang menunggu.
Tetapi kasih Kristus memang tidak selalu bekerja melalui hal-hal yang terlihat besar.
Kita perlu mengingat bahwa kepedulian sosial bukanlah usaha untuk membeli perkenanan Tuhan. Kita tidak menolong sesama supaya Tuhan akhirnya menganggap kita cukup baik. Kita menolong karena di dalam Kristus kita sudah lebih dahulu menerima kasih karunia.
Salib Kristus menjadi pusatnya.
Di dalam Injil, kita tidak menemukan Juruselamat yang menjauh dari penderitaan manusia. Kristus datang mendekati manusia berdosa, menyentuh mereka yang dikucilkan, memperhatikan mereka yang lapar, menangisi Yerusalem, dan memberikan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Kasih-Nya tidak berhenti pada kata-kata.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang keadilan sosial dan pelayanan, ukurannya bukan sekadar seberapa banyak kegiatan yang berhasil kita lakukan. Pertanyaannya lebih dalam: apakah kasih Kristus semakin membentuk cara kita memperlakukan manusia?
Ini juga membuat kita perlu memeriksa hati sendiri.
Kadang kita peduli terhadap bangsa selama bangsa itu berjalan sesuai dengan harapan kita. Kita mudah mendoakan kelompok yang kita sukai dan cepat kehilangan belas kasihan kepada orang yang berbeda pandangan. Kita berbicara tentang keadilan ketika diri kita dirugikan, tetapi menjadi diam ketika ketidakadilan menguntungkan kita.
Kita semua bisa jatuh ke dalam sikap seperti itu.
Karena itu, kepedulian sosial tidak boleh berubah menjadi kesombongan moral. Kita bukan kelompok manusia yang datang untuk menyelamatkan bangsa. Kristuslah Juruselamat. Kita hanya dipanggil untuk menjadi saksi kasih-Nya melalui kehidupan yang setia di tempat kita berada.
Mazmur 122 juga memperlihatkan bahwa kesejahteraan kota berkaitan dengan kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pemazmur tidak hanya berkata bahwa ia menginginkan Yerusalem baik demi kepentingannya sendiri. Pada bagian berikutnya, ia mengaitkan doanya dengan saudara, teman, dan rumah Tuhan. Kepentingan pribadi dan kebaikan komunitas tidak dipisahkan secara kaku.
Prinsip itu terasa dekat dengan kehidupan kita sebagai orang Indonesia.
Kesejahteraan bangsa pada akhirnya masuk ke ruang makan kita, sekolah anak-anak kita, tempat kerja kita, lingkungan tempat kita tinggal, dan hubungan kita dengan tetangga. Ketika masyarakat menjadi lebih adil, kehidupan bersama ikut menjadi lebih baik. Ketika kekerasan, korupsi, kebencian, dan ketidakpedulian berkembang, dampaknya juga akhirnya sampai kepada keluarga kita.
Itulah sebabnya mencintai bangsa bukan berarti menganggap bangsa sendiri selalu benar. Nasionalisme tidak menuntut kita menutup mata terhadap kesalahan. Justru kasih yang sehat membuat kita mampu melihat kekurangan dengan jujur sekaligus tetap menginginkan kebaikan.
Kita dapat mengkritik tanpa membenci. Kita dapat berbeda pendapat tanpa menganggap orang lain tidak layak dihormati. Kita dapat memperjuangkan keadilan tanpa menjadikan kemarahan sebagai identitas.
Damai sejahtera bukan berarti tidak pernah bersuara. Kadang kasih justru menuntut kita berbicara ketika seseorang diperlakukan tidak adil. Namun suara itu perlu keluar dari hati yang ingin mencari kebaikan, bukan dari keinginan untuk mempermalukan atau menghancurkan.
Ada sesuatu yang sederhana tetapi dalam dari doa pemazmur: ia meminta damai bagi sebuah tempat yang ia cintai.
Mungkin kita bisa membawa sikap itu ke dalam doa bagi Indonesia. Bukan hanya meminta agar ekonomi kita membaik, pekerjaan kita lancar, atau keluarga kita aman. Kita dapat berdoa agar para pemimpin memiliki hikmat, agar hukum ditegakkan dengan benar, agar mereka yang lemah tidak dilupakan, agar masyarakat tidak mudah diadu domba, dan agar kita sebagai warga negara memiliki keberanian untuk melakukan yang benar.
Lalu setelah berdoa, kita kembali menjalani pekerjaan kita.
Kita bekerja dengan jujur. Kita membayar apa yang menjadi tanggung jawab kita. Kita menolak mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Kita membantu ketika mampu. Kita memperlakukan pekerja, pelanggan, tetangga, bawahan, atasan, dan siapa pun yang kita jumpai sebagai manusia yang memiliki martabat.
Mungkin kelihatannya kecil.
Tetapi sebuah bangsa memang terdiri dari jutaan tindakan kecil yang dilakukan manusia setiap hari.
Karena itu, jangan merasa bahwa kepedulian kita tidak berarti hanya karena kita bukan pejabat, tokoh masyarakat, pengusaha besar, atau aktivis. Tuhan dapat memakai kesetiaan yang sederhana. Di tempat kerja, di rumah, di sekolah, di gereja, dan di lingkungan tempat kita tinggal, kita dapat menjadi bagian dari hadirnya kebaikan.
Kesejahteraan bangsa tidak hanya dimulai dari gedung pemerintahan. Ia juga dimulai dari hati manusia yang tidak lagi menganggap penderitaan orang lain sebagai urusan orang lain.
Dan bagi kita yang percaya kepada Kristus, kepedulian itu bukan beban untuk membuktikan diri. Itu adalah buah dari kasih karunia yang sudah lebih dahulu kita terima.
Kita boleh lelah. Kita boleh kecewa melihat keadaan negeri ini. Kita bahkan boleh mengakui bahwa kita tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi kita tidak perlu menyerah pada sinisme. Kita masih bisa berdoa, bekerja dengan jujur, mengasihi orang di sekitar kita, dan mengambil bagian dalam kebaikan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sebab ketika kita berdoa bagi kesejahteraan bangsa, kita sedang mengingat bahwa hidup kita tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan orang lain. Kesejahteraan bangsa adalah kesejahteraan kita juga. Dan ketika kasih Kristus menggerakkan kita untuk mengejar keadilan sosial, memperhatikan mereka yang rentan, serta menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari, kita sedang belajar mencintai negeri ini bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.