Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Terang di Balik Kubikel Kantor

Terang di Balik Kubikel Kantor

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
2
5
0
0

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Malam itu di dalam gerbong commuter line yang sesak, saya memandangi wajah-wajah lelah yang memantul di kaca jendela gelap. Kebanyakan dari kita baru saja pulang dari rutinitas panjang bernama pekerjaan, membawa sisa-sisa energi yang nyaris habis. Di sebelah saya berdiri dua orang pria berpenampilan rapi dengan kemeja yang lengannya digulung asal-asalan. Mereka sedang membicarakan cara mengakali laporan pengeluaran proyek akhir tahun dengan suara yang cukup pelan, namun masih bisa terdengar. Mereka tertawa kecil, menganggap manipulasi angka tersebut sebagai sebuah kelaziman yang wajar demi menyelamatkan anggaran departemen mereka.

Ada perasaan perih yang tiba-tiba muncul di dada saat mendengar percakapan santai tersebut. Bukan karena saya merasa lebih suci dari mereka, melainkan karena kesadaran betapa mudahnya nurani kita ikut berkompromi ketika tubuh sudah terlalu lelah. Kita semua tahu betapa menguras tenaganya bekerja di tengah tekanan target, politik kantor, dan tuntutan hidup yang terus mendesak. Seringkali, berbuat jujur terasa seperti jalan yang terlalu sepi dan merepotkan. Kita hanya ingin menyelesaikan tugas, menerima gaji di akhir bulan, dan pulang menemui keluarga dengan tenang.

Tekanan untuk menjadi sama dengan lingkungan sekitar sangatlah besar. Saat semua rekan kerja pulang lebih awal dengan memanipulasi absensi, atau ketika atasan meminta kita sedikit “kreatif” dengan nota pajak, menolak rasanya seperti mencari masalah yang tidak perlu. Kita mulai merasionalisasi kesalahan kecil. Kita meyakinkan diri sendiri bahwa sedikit kebohongan tidak akan meruntuhkan perusahaan. Lagipula, kita berpikir bahwa satu orang yang mencoba jujur tidak akan mampu mengubah budaya kerja yang sudah berakar kuat sejak lama.

Di titik rawan inilah perkataan Yesus Kristus di bukit ribuan tahun lalu menampar kenyamanan kita. Yesus tidak memanggil para pengikut-Nya untuk menjadi sekadar penonton yang pasif. Ia memanggil kita sebagai garam dan terang. Dalam konteks budaya Timur Dekat Kuno pada abad pertama, garam memiliki fungsi yang jauh lebih krusial daripada sekadar penyedap rasa kentang goreng. Sebelum ada teknologi lemari pendingin, garam adalah satu-satunya cara untuk mengawetkan daging agar tidak cepat membusuk di tengah cuaca panas Timur Tengah.

Kristus tidak memanggil kita untuk menjadi gula yang sekadar menutupi realitas pahit kehidupan dengan kata-kata manis. Ia memanggil kita menjadi garam yang secara aktif menahan laju pembusukan moral di sekitar kita. Yohanes Krisostomus, salah satu bapa gereja purba, memberikan tafsiran yang sangat indah mengenai bagian ini. Ia mencatat bahwa sifat dasar garam adalah tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Garam baru berfungsi ketika ia rela dilebur, menyerap ke dalam daging, dan seringkali wujudnya tidak terlihat lagi, namun dampaknya membuat daging itu bertahan lama.

Demikian pula integritas kita di tempat kerja seharusnya bekerja secara diam-diam namun efektif. Kita tidak perlu berteriak-teriak di tengah ruang rapat untuk memamerkan kesalehan moral. Menjadi garam seringkali berarti mengambil sikap sunyi untuk menolak ikut serta dalam gosip di meja makan siang. Menjadi garam berarti dengan tenang menolak menandatangani kuitansi kosong, meski itu membuat kita dianggap kaku oleh rekan kerja. Kehadiran kita yang sederhana dan berintegritas perlahan-lahan mencegah lingkungan kerja kita jatuh ke dalam pembusukan etika yang lebih parah.

Namun Yesus juga menggunakan metafora kedua yang tidak kalah tajamnya, yaitu terang. Jika garam bekerja secara tersembunyi untuk mencegah kebusukan, terang bekerja secara terbuka untuk memberikan arah. Sebuah kota yang terletak di atas gunung pada masa itu selalu menyalakan pelita di malam hari, menjadi suar penunjuk jalan bagi para musafir yang tersesat di kegelapan. Terang tidak diciptakan untuk dinikmati oleh dirinya sendiri, melainkan agar orang lain tidak tersandung dan jatuh.

Kenyataannya, berusaha menjadi garam dan terang dengan mengandalkan kekuatan moralitas sendiri adalah sesuatu yang sangat melelahkan. Jika kita hanya bersandar pada kompas etika pribadi, kita akan segera kehabisan tenaga, jatuh dalam keputusasaan, atau malah berubah menjadi orang farisi modern yang gemar menghakimi orang lain. Kita harus menyadari bahwa kita bukanlah sumber terang itu sendiri. Kita hanyalah cermin yang memantulkan terang yang sejati.

Injil Yohanes menegaskan bahwa Kristus adalah Terang dunia yang sesungguhnya. Ia yang tanpa dosa rela masuk ke dalam dunia yang gelap dan membusuk ini. Yesus hidup dengan integritas yang sempurna, menolak segala bentuk kompromi dengan kejahatan, dan karena itulah Ia dibenci hingga disalibkan. Di atas kayu salib, Ia membiarkan diri-Nya dihancurkan seperti bongkahan garam, agar kita yang seharusnya membusuk karena dosa dapat diselamatkan dan diawetkan untuk kehidupan kekal. Pengorbanan-Nya menggantikan posisi kita yang seringkali gagal mempertahankan kejujuran.

Ketika kita menyadari besarnya anugerah ini, motivasi kita dalam bekerja akan berubah total. Kita tidak lagi berusaha jujur di kantor karena takut dihukum oleh Tuhan atau sekadar mencari pujian dari manajemen. Kita mempertahankan integritas karena hati kita telah ditawan oleh kasih Kristus. Kita rindu memantulkan karakter-Nya yang mulia ke dalam ruang-ruang rapat, kubikel-kubikel sempit, dan di tengah kemacetan jalanan ibu kota. Anugerah Kristus membebaskan kita dari keharusan untuk tampil sempurna, sekaligus memberi kita kekuatan untuk bangkit kembali setiap kali kita gagal.

Esok hari, commuter line itu akan kembali penuh sesak dan meja kerja kita akan kembali dipenuhi tumpukan dokumen yang menyita pikiran. Tekanan untuk berkompromi pasti akan datang menyapa dengan wajah yang ramah. Saat kita kembali duduk di depan layar komputer besok pagi, biarlah kita mengingat anugerah penebusan yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan.

Ya Tuhan kami, ampunilah hati kami yang masih sering memilih jalan kompromi saat tubuh ini lelah dan takut dikucilkan. Berikanlah kami keberanian yang tenang untuk tetap menjadi garam yang mencegah kebusukan dan terang yang membawa harapan, memancarkan kasih-Mu yang utuh melalui setiap pekerjaan tangan kami
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa