Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Sering kali kita mendapati diri kita terjepit dalam situasi yang sangat khas di pemukiman padat kita, seperti saat seorang tetangga memarkir mobilnya tepat di depan pagar rumah kita padahal kita sedang terburu-buru untuk berangkat kerja. Atau mungkin, saat suara knalpot motor yang bising meraung-raung di gang sempit pada jam dua pagi, menembus dinding kamar dan membuyarkan tidur lelap kita setelah seharian bekerja keras. Kejengkelan yang muncul seketika itu sangatlah nyata, sebuah gejolak di dada yang menuntut kita untuk membuka jendela dan berteriak, atau minimal, memendam dongkol yang akan merusak suasana hati sepanjang hari. Kita merasa memiliki hak sepenuhnya untuk marah, karena secara objektif, kitalah pihak yang dirugikan dalam ketidakteraturan sosial tersebut.
Hidup berdampingan di tengah keberagaman dan keterbatasan ruang di Indonesia memang menawarkan tantangan integritas yang tidak sederhana setiap harinya. Kita berbagi aspal jalan yang sama, menghirup udara yang sama, dan sering kali terpaksa menoleransi kebiasaan orang lain yang sama sekali tidak selaras dengan nilai-nilai yang kita pegang. Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam pola “saling sikut” atau minimal menjadi pribadi yang sinis terhadap lingkungan sekitar. Kita sering kali merasa bahwa menjadi orang baik di tengah lingkungan yang tidak teratur adalah sebuah kesia-siaan yang hanya akan membuat kita terus-menerus diinjak-injak oleh ego orang lain.
Kegelisahan batin ini sebenarnya bukanlah fenomena baru, karena jemaat di Roma pada abad pertama pun mengalami gesekan yang tidak kalah hebatnya dalam komunitas yang sangat majemuk. Mereka hidup di bawah tekanan kekaisaran yang represif, sekaligus harus berhadapan dengan perbedaan latar belakang budaya antara Yahudi dan non-Yahudi yang sering kali memicu percikan konflik internal. Dalam konteks itulah, Rasul Paulus menuliskan sebuah kalimat yang sangat realistis namun sekaligus sangat menuntut dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Ia tidak memberikan perintah yang naif bahwa kita harus selalu berhasil membuat semua orang menyukai kita, melainkan ia memberikan sebuah garis batas tanggung jawab yang sangat jelas.
Jika kita melihat lebih dekat pada bahasa aslinya, frasa “sedapat-dapatnya” dan “kalau hal itu bergantung padamu” menggunakan penekanan pada tanggung jawab pribadi yang tidak bisa didelegasikan kepada pihak lain. Paulus memahami betul bahwa perdamaian adalah sebuah tarian yang membutuhkan dua orang, namun ia menegaskan bahwa bagian kita dalam tarian itu haruslah dikerjakan secara maksimal, terlepas dari apakah lawan bicara kita mau bekerja sama atau tidak. Ini adalah sebuah pengajaran etika sosial yang sangat dalam, di mana kemenangan seorang Kristen bukan terletak pada kemampuannya mengendalikan situasi atau mengubah perilaku orang lain, melainkan pada kemampuannya mengendalikan diri sendiri di bawah otoritas Kristus.
Hikmat dari para Bapa Gereja purba, salah satunya Yohanes Krisostomus, memberikan perspektif yang sangat tajam mengenai bagian ini dengan menekankan bahwa kita tidak boleh menjadi penyebab dari sebuah perselisihan. Krisostomus mengingatkan bahwa sementara kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berdamai, kita memiliki otoritas penuh untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun percikan api yang berasal dari sumbu emosi kita. Menjadi “orang yang membawa damai” tidak berarti kita harus menjadi keset kaki yang tidak memiliki prinsip, namun itu berarti kita menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, sebuah tindakan yang justru membutuhkan kekuatan karakter yang jauh lebih besar daripada sekadar membalas dendam.
Sering kali kita berpikir bahwa kita telah “kalah” saat kita memilih untuk mengalah atau memberikan jawaban yang lembut di tengah konfrontasi yang panas. Ego kita berteriak bahwa keadilan harus ditegakkan sekarang juga melalui kata-kata tajam yang mampu membungkam lawan. Namun, jika kita bercermin pada narasi besar Alkitab, kita akan menemukan bahwa Kristus sendiri adalah inkarnasi dari perdamaian yang tampak “kalah” namun sesungguhnya menang secara mutlak. Di atas kayu salib, Yesus tidak hanya membicarakan tentang damai, tetapi Ia menyerap seluruh konflik, kebencian, dan keberdosaan manusia ke dalam diri-Nya sendiri untuk menghasilkan perdamaian yang kekal antara Allah dan manusia.
Salib Kristus adalah episentrum di mana integritas dan kasih bertemu dalam titik yang paling ekstrem, menunjukkan bahwa jalan menuju damai sering kali harus melalui jalan penderitaan ego. Saat kita mampu memandang tetangga yang menyebalkan itu melalui lensa salib, kita akan mulai menyadari bahwa mereka pun adalah jiwa-jiwa yang sedang bergumul dengan kegelapan mereka sendiri, sama seperti kita dahulu sebelum disentuh oleh anugerah. Kesadaran akan betapa besarnya pengampunan yang telah kita terima dari Allah seharusnya menjadi bahan bakar utama bagi kita untuk memberikan ruang bagi kesalahan orang lain. Kita tidak lagi hidup dalam perdamaian demi citra diri sebagai orang baik, melainkan sebagai respons syukur karena kita telah terlebih dahulu didamaikan dengan Bapa melalui darah Anak-Nya.
Integritas karakter kita di lingkungan sekitar diuji justru saat keadaan tidak ideal, saat sistem di sekitar kita berantakan, dan saat orang-orang di sekeliling kita tidak memberikan timbal balik yang setimpal atas kebaikan kita. Menjadi teladan bukan berarti kita tidak pernah merasa marah atau lelah, tetapi berarti kita memilih untuk membawa perasaan-perasaan itu ke hadapan Tuhan daripada memuntahkannya kepada sesama. Damai sejati adalah sebuah keputusan untuk tetap tenang di tengah badai, karena kita tahu bahwa sauh jiwa kita tertambat pada Dia yang telah mengalahkan dunia. Dengan demikian, setiap gesekan di jalanan yang macet atau perselisihan batas tanah di pemukiman kita menjadi kesempatan bagi kerajaan Allah untuk hadir secara nyata melalui sikap hidup kita yang berbeda.
Esok hari saat kita membuka pagar rumah dan kembali berhadapan dengan realitas sosial yang mungkin masih sama menyebalkannya, kiranya kita tidak berangkat dengan kekuatan sendiri.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.