Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Surat Kristus Dibaca Lewat Sikap Kita Sehari Hari

Surat Kristus Dibaca Lewat Sikap Kita Sehari Hari

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
25
6
0
0

Karena telah nyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh hati manusia.
2 Korintus 3:3 (TB)

Pernahkah kita merasa diperhatikan secara diam-diam oleh tetangga atau rekan kerja, bukan karena mereka kagum, melainkan karena mereka sedang menunggu untuk melihat bagaimana kita bereaksi saat ada masalah? Beberapa waktu lalu, saya duduk di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan saat hujan deras. Di meja sebelah, ada seorang bapak yang saya tahu adalah anggota jemaat yang cukup aktif di gerejanya. Saat pesanan kopinya tumpah karena kecerobohan pelayan yang masih muda, saya melihat sesuatu yang tidak biasa. Alih-alih marah atau mengeluh tentang pelayanan yang buruk, ia justru tersenyum, membantu mengelap meja, dan berkata, “Tidak apa-apa, Mas, namanya juga lagi ramai.”

Kejadian kecil itu mungkin terdengar sepele, tetapi mata orang-orang di warung itu tertuju padanya. Di situlah saya sadar bahwa kesaksian yang paling efektif sering kali tidak terjadi di atas mimbar dengan pengeras suara, melainkan di atas meja kayu yang basah karena tumpahan kopi. Kita sering kali merasa bahwa menjadi saksi Kristus adalah sebuah beban pekerjaan tambahan yang sangat berat. Kita membayangkan diri kita harus menguasai perdebatan teologi yang rumit atau memiliki hidup yang tampak sempurna tanpa cela agar orang lain mau percaya.

Padahal, jika kita jujur pada diri sendiri, kita semua adalah pribadi yang berantakan, penuh retakan, dan sering kali merasa lelah dengan tuntutan hidup. Kita bergumul dengan kemarahan di tengah kemacetan, kita berjuang melawan rasa iri saat melihat kesuksesan orang lain di media sosial, dan kita sering kali gagal untuk bersabar terhadap pasangan atau anak-anak di rumah. Namun, di tengah semua kerapuhan itu, ada sebuah kebenaran yang membebaskan yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

Paulus sedang menghadapi situasi di mana banyak orang meragukan otoritasnya karena ia tidak membawa surat rekomendasi yang mentereng seperti pengajar-pengajar lain pada masa itu. Di Korintus, status sosial dan dokumen formal sangatlah dihargai. Namun Paulus membalikkan logika dunia itu dengan mengatakan sesuatu yang sangat mendalam: “Kamu sendiri adalah surat kami.” Ia menegaskan bahwa bukti nyata dari pekerjaan Tuhan bukanlah selembar kertas dengan stempel resmi, melainkan perubahan hidup manusia yang bisa dibaca oleh semua orang.

Secara eksegesis, Paulus sedang mengontraskan antara loh batu dan loh hati. Ia merujuk pada peristiwa di Gunung Sinai ketika hukum Tuhan dituliskan di atas loh-loh batu. Hukum itu suci, tetapi ia bersifat eksternal dan sering kali justru menghukum karena kita tidak mampu menaatinya dengan sempurna. Namun, di dalam perjanjian yang baru melalui Kristus, Tuhan melakukan sesuatu yang jauh lebih intim. Ia menuliskan kehendak-Nya bukan dengan tinta yang bisa luntur, melainkan dengan Roh-Nya yang hidup, langsung ke dalam batin kita.

Hati manusia dalam bahasa aslinya, kardia, tidak hanya merujuk pada emosi, tetapi pada pusat kemauan dan pikiran. Artinya, Roh Kudus bekerja dari dalam ke luar. Menjadi “surat Kristus yang terbuka” bukan berarti kita sedang berakting menjadi orang baik agar dipuji orang. Ini adalah tentang sebuah transformasi organik di mana nilai-nilai Kristus, seperti pengampunan, kejujuran, dan ketulusan, perlahan-lahan merembes keluar melalui pori-pori hidup kita karena Roh Kudus sedang “menulis” di sana.

Bapa gereja seperti Agustinus dari Hippo pernah merefleksikan bahwa hukum Tuhan yang tertulis di luar (loh batu) hanya membawa ketakutan, tetapi Roh Kudus yang menulis di hati membawa kasih. Ketika kita dipenuhi oleh Roh Kudus, motif kita untuk bersikap baik bukan lagi karena takut dihukum atau demi menjaga reputasi agama kita. Kita menjadi baik karena kita telah lebih dahulu dipeluk oleh kasih-Nya yang tidak bersyarat. Inilah yang membuat hidup kita menjadi saksi yang efektif.

Seorang saksi yang efektif bukanlah seseorang yang sempurna, melainkan seseorang yang “transparan” tentang bagaimana anugerah Tuhan bekerja dalam kelemahannya. Bayangkan hidup kita adalah sebuah surat. Apa yang orang baca saat mereka melihat cara kita mengelola keuangan? Apa yang tertulis di sana saat kita menghadapi kegagalan dalam karier? Apakah mereka membaca keputusasaan yang pahit, atau mereka membaca sebuah harapan yang tenang karena kita tahu siapa yang memegang masa depan kita?

Dunia kita sangatlah plural dan peka terhadap ketulusan. Masyarakat kita umumnya sangat menghargai keramahan dan kesantunan. Namun, lebih dari sekadar sopan santun, mereka mencari sesuatu yang otentik. Mereka ingin melihat bagaimana seorang Kristen memaafkan orang yang telah menipunya. Mereka ingin membaca bagaimana kita tetap jujur dalam laporan pajak saat semua orang di kantor melakukan manipulasi. Saat kita melakukan hal-hal yang benar ini dengan motivasi kasih, tanpa sikap menggurui, saat itulah Roh Kudus sedang “menerbitkan” surat-Nya melalui kita.

Tentu saja, berjalan bersama Roh sebagai surat yang terbuka membutuhkan kerendahan hati untuk terus dikoreksi. Terkadang “tulisan” dalam hidup kita menjadi agak berantakan karena ego kita yang besar kembali mengambil kendali. Namun, Roh Kudus adalah penulis yang sabar. Ia terus memperbaiki kalimat-kalimat dalam karakter kita, menghapus paragraf kesombongan kita, dan menekankan bagian-bagian yang menunjukkan kemuliaan Kristus.

Menjadi saksi di minggu penutup tema bulanan ini mengajak kita untuk merenung: apakah kehadiran kita membawa aroma kehidupan bagi orang di sekitar kita? Kesaksian yang paling tajam sering kali muncul saat kita bersedia meminta maaf terlebih dahulu, meskipun kita tidak sepenuhnya salah. Ia muncul saat kita mau mendengarkan keluh kesah asisten rumah tangga kita dengan penuh perhatian, atau saat kita tidak ikut-ikutan menyebarkan gosip di grup percakapan keluarga.

Kristus adalah pusat dari pesan yang ingin Tuhan sampaikan kepada dunia melalui hidup kita. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi Tuhan yang hidup yang ingin menyatakan diri-Nya lewat cara kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberi keuntungan bagi kita. Jangan merasa kecil hati jika Anda merasa hidup Anda masih banyak “salah ketik” atau banyak noda di sana-sini. Yang terpenting bukanlah kehebatan kertasnya, melainkan siapa Penulisnya.

Dunia mungkin tidak tertarik untuk mendengarkan khotbah satu jam, tetapi mereka akan berhenti sejenak dan berpikir saat melihat kedamaian yang kita miliki di tengah krisis ekonomi. Mereka akan bertanya-tanya mengapa kita bisa tetap memberi di saat kita sendiri sedang berkekurangan. Itulah saat di mana “surat” itu mulai berbicara. Hidup kita adalah satu-satunya “Alkitab” yang mungkin akan pernah dibaca oleh beberapa orang dalam seumur hidup mereka.

Mari kita izinkan Roh Kudus untuk kembali mengambil pena-Nya dan menuliskan kasih karunia di dalam hati kita yang sering kali masih keras ini. Kita tidak perlu berteriak untuk didengar; kita hanya perlu hidup secara otentik di hadapan Tuhan dan manusia. Biarlah hidup kita menjadi pesan yang jelas bahwa Kristus itu nyata, Ia mengasihi, dan Ia sanggup mengubah hidup siapa saja yang datang kepada-Nya.

Tuhan Yesus, kami sering kali merasa terlalu lelah dan terlalu cacat untuk menjadi saksi-Mu di tengah dunia yang keras ini. Kami sadar bahwa sering kali sikap kami justru menjadi penghalang bagi orang lain untuk melihat kebaikan-Mu. Ampunilah kami saat ego dan kemarahan kami lebih menonjol daripada kasih-Mu. Mampukanlah kami melalui Roh Kudus-Mu untuk menjadi surat yang terbuka bagi sesama kami di kantor, di rumah, dan di jalanan yang macet. Biarlah melalui kesabaran kami, kejujuran kami, dan ketulusan kami, orang lain dapat membaca bahwa Engkau adalah Allah yang hidup dan penuh anugerah. Teruslah menuliskan kebenaran-Mu di dalam loh hati kami agar hidup kami sungguh-sungguh memuliakan nama-Mu sampai akhir.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa