Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Pertumbuhan Rohani Melalui Cawan Penyangkalan Diri

Pertumbuhan Rohani Melalui Cawan Penyangkalan Diri

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
54
5
0
0

Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
Yohanes 18:11 (TB)

Pernahkah Anda berdiri di persimpangan jalan yang sunyi, di mana hati Anda menjerit ingin melarikan diri dari kenyataan yang perih, namun di sisi lain, ada sebuah bisikan lembut yang meminta Anda untuk tetap tinggal dan menghadapinya? Kita hidup di sebuah masa di Indonesia di mana kecepatan dan kenyamanan menjadi ukuran kebahagiaan. Jika ada masalah dalam pekerjaan, kita ingin segera mengundurkan diri. Jika ada gesekan dalam relasi, kita lebih memilih untuk memutus komunikasi. Kita sering kali merasa bahwa Tuhan yang baik adalah Tuhan yang selalu menjauhkan kita dari air mata. Namun, mari kita renungkan sejenak di keheningan batin ini, bukankah otot rohani kita justru terbentuk saat kita memikul beban yang paling berat? Bukankah karakter kita justru dimurnikan saat kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan? Di sinilah kita belajar tentang arti penyangkalan diri yang sesungguhnya, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses pemurnian karakter yang akan membawa kita pada kedewasaan iman.

Dinamika iman sering kali terasa seperti mencicipi sebuah cawan yang pahit. Kita meronta, kita mencoba membuang cawan itu, atau seperti Petrus, kita mencoba menghunus pedang untuk melawan keadaan dengan kekuatan kita sendiri. Kita berpikir bahwa dengan melawan, kita sedang membela diri atau membela Tuhan, padahal sebenarnya kita hanya sedang membela ego kita yang tidak siap untuk menderita. Kristus memberikan teladan yang sangat menggetarkan hati di Taman Getsemani hingga ke penangkapan-Nya. Dia tidak menghindari cawan itu karena Dia tahu bahwa di dalam kepahitan cawan tersebut, terdapat keselamatan bagi banyak orang. Demikian pula dengan kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia yang dikenal dengan keramahtamahannya, kadang kita rela menelan kepahitan demi kedamaian bersama, namun pertanyaannya, apakah kita melakukannya karena terpaksa atau karena kita percaya bahwa Bapa yang memberikan cawan itu adalah Bapa yang sama yang akan memberikan kekuatan untuk meminumnya? Pertumbuhan rohani tidak pernah terjadi di zona nyaman, ia terjadi di dasar cawan yang harus kita minum dengan ketaatan penuh.

Bayangkan rasa lelah yang menghimpit saat Anda harus tetap bersabar menghadapi orang yang terus-menerus memojokkan Anda, atau rasa ragu yang menyergap saat rencana hidup Anda berantakan meskipun Anda sudah merasa setia. Emosi-emosi ini sangat manusiawi dan Tuhan tidak menghakimi perasaan itu. Namun, Dia mengundang kita untuk menaruh pedang kita kembali ke sarungnya. Berhenti melawan arus kedaulatan Allah dengan kemarahan atau kepahitan hati. Menyangkal diri berarti mengakui bahwa rencana Allah jauh lebih besar daripada kenyamanan sesaat kita. Ketika kita mulai berani meneguk cawan pemurnian itu, kita akan menyadari sesuatu yang ajaib bahwa di dasar kepahitan itu, ada kemanisan kasih karunia yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Karakter kita yang tadinya keras seperti batu perlahan mulai luluh dan terbentuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Inilah inti dari perjalanan iman yang dewasa, di mana kita tidak lagi bertanya “Mengapa ini terjadi padaku?”, melainkan “Tuhan, apa yang ingin Kau bentuk di dalamku melalui situasi ini?”.

Kita sering kali melihat pertumbuhan rohani sebagai sebuah pendakian menuju puncak kesuksesan, namun dalam teologi salib, pertumbuhan sering kali berarti turun menuju lembah kerendahan hati. Di Indonesia, kita sangat menghargai kehormatan diri, sehingga ide untuk menyangkal diri sering kali terasa asing dan menakutkan. Namun, Kristus mengingatkan kita bahwa cawan tersebut diberikan oleh Bapa. Kata “diberikan” di sana menunjukkan sebuah anugerah, bukan sekadar nasib buruk. Bapa tidak akan memberikan cawan yang tidak mampu kita tanggung, dan Dia tidak membiarkan kita meminumnya sendirian. Di setiap tetes kepahitan yang kita alami, ada kehadiran-Nya yang menguatkan. Saat kita memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, saat kita memilih untuk tetap jujur di tengah lingkungan yang korup, atau saat kita tetap setia melayani meski tidak ada yang menghargai, di sanalah kita sedang meminum cawan tersebut dan di sanalah karakter kita sedang dipoles menjadi emas murni.

Janganlah takut pada cawan yang ada di hadapan Anda saat ini. Mungkin itu adalah cawan kesedihan karena kehilangan, cawan kesabaran dalam penantian, atau cawan pengampunan bagi mereka yang melukai. Percayalah bahwa tangan yang menyodorkan cawan itu adalah tangan yang sama yang telah dipaku di kayu salib demi Anda. Kedewasaan iman Anda akan terpancar saat dunia melihat Anda tetap tenang dan penuh damai meski sedang meminum sesuatu yang pahit. Dunia akan melihat bahwa ada kekuatan lain di dalam diri Anda, kekuatan yang berasal dari ketaatan kepada Sang Bapa. Biarlah melalui setiap penyangkalan diri yang kita lakukan, nama Tuhan semakin dimuliakan dan hidup kita menjadi kesaksian yang hidup bagi sesama. Marilah kita melangkah dengan kepala tegak, bukan karena kita kuat, tetapi karena kita tahu Siapa yang menemani kita di setiap tegukan kehidupan ini.

Ya Bapa yang bertahta di dalam surga, aku datang ke hadirat-Mu dengan hati yang terkadang masih gentar menghadapi tantangan hidup. Ampuni aku jika sering kali aku mencoba menghindari cawan pemurnian yang Engkau berikan dan lebih memilih jalan pintas yang nyaman bagi egoku. Ajarlah aku untuk memiliki keberanian seperti Kristus, yang mampu menyarungkan pedang dan menerima kehendak-Mu dengan ketaatan penuh. Murnikanlah karakterku melalui setiap lembah air mata dan setiap pengorbanan yang harus aku lakukan. Biarlah pertumbuhan rohaniku bukan sekadar kata-kata, melainkan nyata dalam perbuatanku sehari-hari yang penuh dengan kasih dan kesabaran. Terima kasih karena Engkau tidak pernah membiarkanku berjalan sendirian, kuatkanlah tanganku untuk memegang cawan ini dan arahkanlah pandanganku hanya kepada-Mu hingga akhir perjalananku.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa