Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Mengasah Panca Indera Jiwa untuk Menemukan Fondasi Kedewasaan Iman dalam Pertumbuhan Rohani

Mengasah Panca Indera Jiwa untuk Menemukan Fondasi Kedewasaan Iman dalam Pertumbuhan Rohani

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
52
5
0
0

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi guru, kamu masih perlu diajarkan lagi asas-asas pokok dari pernyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab siapa pun yang masih memerlukan susu ia tidak memahami firman kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena terbiasa, telah mengasah pancainderanya untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.
Ibrani 5:12-14 (TB)

Bayangkan seorang sahabat lama yang sudah kita kenal selama sepuluh atau dua puluh tahun. Setiap kali bertemu di kedai kopi favorit di sudut kota, percakapannya tidak pernah beranjak dari keluhan yang itu-itu saja, tentang betapa tidak adilnya dunia atau mengapa Tuhan tidak segera memberikan apa yang ia inginkan. Ada rasa sayang, tentu saja, tetapi jauh di dalam hati, kita merindukan sosok yang bisa diajak bicara tentang kedalaman hidup, tentang pengorbanan, atau tentang bagaimana tetap mencintai saat hati sedang hancur. Kita melihat fenomena ini terjadi di sekitar kita, di mana banyak orang Kristen di Indonesia terjebak dalam siklus iman yang hanya mengejar kenyamanan. Kita menyukai khotbah yang manis seperti susu murni dengan tambahan gula, yang memberitahu kita bahwa semua akan baik-baik saja dan berkat akan segera tiba. Namun, ketika hidup menyuguhkan “daging keras” berupa kehilangan, penolakan, atau tanggung jawab yang berat, kita sering kali tersedak dan kehilangan arah karena kita tidak pernah melatih otot rohani kita untuk mengunyah kebenaran yang lebih dalam.

Penulis Ibrani memberikan teguran yang sangat personal, hampir seperti bisikan seorang ayah yang ingin melihat anaknya tumbuh kuat. Ia menyoroti sebuah ironi tentang waktu. Waktu seharusnya menjadi sahabat bagi pertumbuhan, namun bagi sebagian dari kita, waktu justru menjadi saksi bisu dari stagnasi rohani. Kita mungkin sudah hafal urutan liturgi atau tahu persis di mana letak kitab-kitab di Alkitab, tetapi apakah pancaindera rohani kita sudah terasah? Pertumbuhan rohani yang sejati tidak diukur dari berapa banyak seminar yang kita ikuti, melainkan dari kemampuan kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang jahat di tengah abu-abunya standar moral dunia saat ini. Fondasi kedewasaan iman diletakkan saat kita berani beralih dari sekadar menerima menjadi memberi, dari sekadar dihibur menjadi menghibur, dan dari sekadar dikuatkan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain yang sedang tertatih.

Transisi dari susu ke makanan keras sering kali terasa menyakitkan. Susu melambangkan janji-janji dasar yang lembut dan menenangkan, sementara makanan keras adalah panggilan untuk memikul salib, mencintai musuh, dan tetap setia saat Tuhan terasa jauh. Di tengah budaya kita yang cenderung menghindari konflik dan mencari “jalan pintas” berkat, makanan keras ini sering kali kita sisihkan ke tepi piring jiwa kita. Kita lebih memilih untuk tetap menjadi anak kecil yang egois, yang merasa bahwa seluruh alam semesta harus melayani perasaan kita. Padahal, kedewasaan iman justru ditemukan dalam kemampuan untuk tetap tegak berdiri meski doa-doa kita belum dijawab sesuai keinginan kita. Ini adalah tentang kepercayaan yang radikal bahwa Tuhan tetap baik bahkan saat keadaan terlihat buruk. Inilah daging yang menguatkan tulang-tulang iman kita agar tidak mudah patah saat badai kehidupan menghantam tanpa peringatan.

Mungkin saat ini Anda sedang merasa lelah karena beban hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Barangkali Anda merasa bahwa “makanan” yang sedang Tuhan berikan saat ini terlalu keras untuk dikunyah. Namun, ketahuilah bahwa seorang atlet tidak akan pernah memiliki otot yang kuat tanpa beban yang berat, dan seorang Kristen tidak akan pernah mencapai kedewasaan tanpa melewati ujian yang mengasah panca indera rohaninya. Jangan takut pada kesulitan yang sedang Anda hadapi, sebab di dalam setiap gigitan “makanan keras” itu, ada nutrisi kasih karunia yang akan mengubah Anda menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Fondasi kedewasaan iman bukan dibangun di atas pasir perasaan yang mudah berubah, melainkan di atas batu karang ketaatan yang konsisten, bahkan ketika ketaatan itu menuntut air mata.

Mari kita jujur kepada diri sendiri di hadapan Tuhan yang maha tahu. Apakah kita masih terus merengek meminta susu setiap kali ada masalah kecil, ataukah kita sudah mulai belajar untuk bersyukur di tengah padang gurun? Kedewasaan adalah pilihan sadar untuk bertumbuh setiap hari. Ini adalah tentang beralih dari iman yang “berfokus pada aku” menjadi iman yang “berfokus pada Kristus”. Ketika kita mulai mengonsumsi makanan keras dari firman Tuhan, pandangan kita tidak lagi hanya tertuju pada apa yang bisa Tuhan lakukan bagi kita, tetapi apa yang bisa kita lakukan untuk kemuliaan-Nya. Dunia di luar sana sedang menantikan kehadiran orang-orang Kristen yang dewasa, yang tidak mudah tersinggung, yang tidak mudah menyerah, dan yang memiliki aroma Kristus yang kuat karena mereka telah lama bersekutu dengan kebenaran-kebenaran yang mendalam.

Bapa yang bertahta di dalam kemuliaan, kami datang ke hadapan-Mu dengan hati yang rindu untuk tidak lagi tinggal sebagai anak-anak rohani yang kerdil. Ampuni kami jika selama ini kami hanya mencari kenyamanan dan menolak setiap tantangan pertumbuhan yang Engkau izinkan terjadi dalam hidup kami. Kami mohon, berikanlah kami keberanian untuk mengunyah setiap makanan keras dari firman-Mu dan setiap pengalaman hidup yang menempa iman kami agar semakin murni. Kiranya Roh Kudus-Mu mengasah pancaindera kami sehingga kami mampu berdiri teguh di tengah badai pengajaran palsu dan godaan dunia yang menyesatkan. Teguhkanlah fondasi kedewasaan iman kami agar hidup kami tidak lagi menjadi beban bagi orang lain, melainkan menjadi berkat yang memberi kekuatan bagi mereka yang lemah. Pimpinlah kami untuk terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Engkau, sampai kami mencapai kepenuhan Kristus dalam segala hal, di dalam nama Tuhan Yesus yang adalah roti hidup kami, kami berdoa dan bersyukur.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa