Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Sulitnya Berkata “Ya” dan “Tidak” dengan Jujur

Sulitnya Berkata “Ya” dan “Tidak” dengan Jujur

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
1
4
0
0

Pernah merasa tidak enak hati saat harus menolak permintaan teman kantor, lalu akhirnya kita mengiyakan padahal tahu persis kita tidak punya waktu untuk mengerjakannya? Atau sebaliknya, demi sopan santun budaya Timur, kita bilang “boleh, mampir dulu” kepada kenalan di jalan, padahal dalam hati kita cemas karena ada janji lain yang sudah mendesak? Rasanya fenomena “nggak enakan” ini sudah menjadi bumbu penyedap yang mendarah daging dalam komunikasi keseharian kita di Indonesia, bahkan kadang dianggap sebagai standar kesopanan. Kita sering berpikir bahwa sedikit bumbu sandiwara dalam ucapan adalah hal lumrah demi menjaga harmoni perasaan orang lain.

Namun, di tengah budaya obral janji dan basa-basi yang kental ini, ada teguran keras dari Khotbah di Bukit yang mengusik kenyamanan kita.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Matius 5:37 (TB)

Yesus memberikan pernyataan ini dalam konteks pengajaran-Nya mengenai sumpah. Pada masa itu, orang-orang Yahudi sering mempermainkan sumpah dengan menggunakan nama-nama ciptaan (seperti langit, bumi, atau Yerusalem) agar sumpah mereka terlihat sah namun tetap memiliki celah untuk diingkari jika keadaan tidak menguntungkan. Ada semacam pola pikir bahwa kebenaran itu elastis, tergantung pada seberapa besar sumpah yang kita ucapkan untuk mendukungnya.

Perkataan Yesus ini membongkar kepura-puraan tersebut dengan tuntutan transparansi total. Dia tidak sedang melarang kita menggunakan kata-kata tambahan dalam percakapan, tetapi Dia menekankan bahwa karakter seseoranglah yang seharusnya menjadi jaminan atas ucapannya, bukan sumpah yang berapi-api. Santo Yohanes Krisostomus, salah satu Bapa Gereja, pernah menegaskan bahwa sumpah sebenarnya muncul karena adanya ketidakpercayaan dan ketiadaan iman; bagi mereka yang hidup dalam Kristus, kebenaran ucapan seharusnya menjadi hal yang wajar dan organik.

Jika kita merenungkannya dengan jujur, dorongan untuk menambahkan bumbu ucapan atau bertele-tele saat berkata “tidak” sering kali berakar dari rasa takut atau gengsi kita sendiri. Kita takut mengecewakan atasan di tempat kerja, takut dianggap tidak kompeten oleh rekan pelayanan, atau gengsi mengakui keterbatasan diri kita sendiri. Akibatnya, kita mengucapkan “ya” yang rapuh, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan kekecewaan, tumpukan beban kerja yang tidak realistis, dan rasa bersalah yang berkepanjangan saat janji itu gagal kita penuhi.

Integritas tidak dibangun di atas fondasi kesan baik sesaat, melainkan di atas kebenaran yang konsisten, sekecil apa pun itu. Ketika kita mengatakan “Ya” namun di dalam hati berteriak “Tidak”, kita sedang menciptakan perpecahan batin yang merusak karakter kita di hadapan Tuhan dan sesama. Mengatakan “Tidak” dengan jelas namun penuh kasih sebenarnya adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada orang lain, karena kita sedang memberikan kepastian, bukan harapan palsu yang menyesatkan.

Dalam dunia karir misalnya, tekanan untuk selalu terlihat siap mengerjakan segalanya sangatlah besar, dan kita sering kali terjebak dalam perangkap “menyenangkan manusia”. Kita berpikir satu kebohongan kecil demi menyelamatkan muka di depan klien tidak akan berdampak besar. Namun, Yesus mengingatkan kita dengan sangat serius bahwa apa pun yang “lebih” dari sekadar kebenaran yang jujur adalah berasal dari si jahat, sang bapa segala dusta.

Yesus menyebut hal itu “berasal dari si jahat” karena ketidakjujuran, bahkan yang dibungkus dengan alasan sopan santun atau menjaga perasaan, pada dasarnya menirukan karakter Iblis yang manipulatif. Karakter Tuhan adalah kebenaran yang mutlak dan tidak berubah; kasih-Nya besar, namun kebenaran-Nya juga teguh, seperti tiang awan dan tiang api yang menuntun bangsa Israel. Kita dipanggil untuk memancarkan karakter Kristus yang adalah “Ya” dan “Amin” bagi semua janji Allah, tanpa ada bayang-bayang keraguan atau kepura-puraan batin.

Proses untuk menjadi pribadi yang berintegritas dalam ucapan ini adalah bagian dari “memikul salib” setiap hari yang terasa berat dan tidak populer di mata dunia. Ini membutuhkan keberanian iman untuk menghadapi potensi penolakan, cemoohan, atau kekecewaan orang lain saat kita mempertahankan kebenaran dalam “Ya” dan “Tidak” kita. Kasih karunia Tuhan tidak membiarkan kita bergumul sendirian; Roh Kudus bekerja untuk memurnikan motivasi hati kita agar kita mampu berkata jujur karena kasih kepada-Nya, bukan karena tekanan situasi atau keinginan untuk dipuji manusia.

Mungkin di KRL saat pulang kerja yang melelahkan tadi sore, kita sempat bergumul dengan godaan untuk memberi jawaban yang samar-samar atas pertanyaan pasangan kita di rumah, demi menghindari konflik yang melelahkan.

Tuhan Yesus, ampunilah kami yang sering kali tidak jujur dan manipulatif melalui ucapan kami hanya demi kenyamanan semu. Ubahlah hati kami agar menjadi tulus, berikanlah keberanian dari Roh-Mu agar kami mampu berkata “Ya” dengan sepenuh hati dan berkata “Tidak” dengan tegas namun penuh kasih, sehingga setiap kata yang keluar dari mulut kami hanya memuliakan nama-Mu.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa