Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Menahan Lidah di Tengah Obrolan Warga yang Memanas

Menahan Lidah di Tengah Obrolan Warga yang Memanas

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
1
5
0
0

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Efesus 4:29 (TB)

Berdiri di depan gerobak sayur keliling atau sekadar duduk santai di teras rumah tetangga pada sore hari sering kali bukan sekadar urusan menghabiskan waktu luang. Di pemukiman kita, tempat-tempat komunal seperti ini adalah pusat pertukaran informasi paling cepat dan paling aktual. Sering kali, obrolan santai tentang naiknya harga sembako atau beratnya biaya sekolah anak perlahan berbelok tajam. Tanpa disadari, diskusi berubah menjadi evaluasi kolektif terhadap seorang warga yang baru saja mengalami kegagalan bisnis atau konflik rumah tangga.

Ada daya tarik yang aneh dan sangat manusiawi saat kita ikut menimpali sebuah gunjingan. Rasanya seperti kita sedang mengamankan posisi kita di dalam lingkungan, membuktikan bahwa kita adalah bagian dari kelompok mayoritas. Kita tertawa kecil, mengangguk setuju, atau menambahkan satu dua komentar yang terdengar sepele, sekadar agar tidak terlihat kaku atau diasingkan oleh tetangga lain. Di tengah rasa lelah mengurus kehidupan kita sendiri yang juga berantakan, membicarakan kelemahan orang lain diam-diam memberikan ilusi bahwa hidup kita sedikit lebih baik dari mereka.

Namun, saat kita melangkah pulang dan menutup pintu rumah, tak jarang ada rasa ganjil yang mengendap di dada. Kita mencoba merasionalisasi bahwa apa yang baru saja dibicarakan adalah fakta belaka, padahal nurani kita tahu persis bahwa kita baru saja ikut menguliti martabat sesama. Kita membiarkan lidah kita menjadi senjata yang meruntuhkan, bukan alat yang membangun komunitas.

Kegelisahan tentang berbahasa ini juga menjadi perhatian serius Rasul Paulus ketika ia menulis surat kepada komunitas pengikut Kristus di Efesus. Paulus menulis kepada sebuah gereja yang berada di kota metropolitan yang padat, bising, dan penuh dengan gesekan sosial. Ia tahu persis bahwa cara jemaat berbicara satu sama lain akan langsung membedakan mereka dari masyarakat sekuler di sekitarnya.

Jika kita membedah teks aslinya secara eksegesis, kata “kotor” yang digunakan Paulus adalah terjemahan dari kata Yunani sapros. Pada abad pertama, kata sapros tidak sekadar merujuk pada kata-kata makian atau sumpah serapah yang kasar. Kata ini biasa digunakan oleh para nelayan untuk menggambarkan ikan yang membusuk, atau oleh petani untuk menyebut buah yang sudah berulat dan tak layak makan. Paulus sedang memperingatkan jemaat tentang perkataan yang menyebarkan kebusukan, perkataan yang menginfeksi pikiran pendengarnya dengan racun kecurigaan dan kebencian.

Yohanes Krisostomus, salah satu Bapa Gereja yang sangat tajam dalam khotbah-khotbah etiknya, memberikan teguran keras mengenai bagian ini. Ia mengibaratkan mulut kita sebagai pintu gerbang dari bait suci, tempat di mana Kristus bersemayam melalui Roh Kudus. Krisostomus mengingatkan bahwa membiarkan perkataan yang meruntuhkan (sapros) keluar dari mulut kita sama saja dengan menaruh kotoran yang membusuk tepat di atas altar persembahan kita kepada Tuhan.

Ketika Paulus mendesak jemaat untuk memakai “perkataan yang baik untuk membangun”, ia tidak sedang menyarankan basa-basi kosong atau pemikiran positif yang dangkal. Kata “membangun” (oikodome) adalah istilah arsitektural yang berarti menyusun batu bata satu demi satu untuk mendirikan sebuah bangunan yang kokoh. Di tengah dunia yang gemar meruntuhkan orang lain demi meninggikan ego sendiri, pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi arsitek-arsitek anugerah. Perkataan kita seharusnya berfungsi sebagai fondasi yang menguatkan sesama saat mereka sedang rapuh.

Lebih dalam lagi, tujuan akhir dari menjaga perkataan ini sangatlah indah: “supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Bayangkan betapa radikalnya ide ini di tengah budaya patriarki dan hierarki Romawi Kuno yang mengagungkan dominasi verbal. Paulus menegaskan bahwa ucapan kita bisa menjadi kendaraan rahmat Tuhan bagi orang lain. Sama seperti roti perjamuan yang mengalirkan berkat rohani, kata-kata yang lahir dari hati yang telah ditebus memiliki kuasa ilahi untuk menyegarkan jiwa yang sedang layu.

Kenyataannya, menjaga lidah di tengah masyarakat yang terbiasa bersikap sinis sangatlah melelahkan. Jika kita hanya mengandalkan tekad moral atau kesopanan sosial untuk menahan diri, kita akhirnya hanya akan memendam kepahitan. Lebih buruk lagi, kita bisa jatuh ke dalam kesombongan rohani, di mana kita diam-diam merasa lebih suci dan lebih bermoral daripada tetangga-tetangga kita yang gemar bergunjing. Etika moral tanpa Injil hanya akan melahirkan orang-orang Farisi modern yang bibirnya tertutup rapat namun hatinya penuh dengan penghakiman.

Perubahan sejati pada perbendaharaan kata kita hanya bisa terjadi saat kita memandang kepada Sang Firman yang telah menjadi manusia. Kristus tidak pernah merespons kelemahan dan dosa manusia dengan kata-kata sapros. Ia berbicara dengan ketegasan kebenaran, namun selalu dibalut dengan anugerah yang memulihkan. Bahkan di atas kayu salib, ketika Ia memiliki segala alasan untuk mengutuki mereka yang menyalibkan-Nya, Ia justru mengucapkan kalimat anugerah yang memohonkan ampunan.

Yesus Kristus telah menanggung hukuman atas setiap gosip murahan, setiap komentar tajam, dan setiap ketikan pedas di media sosial yang pernah kita lontarkan. Saat kita menyadari betapa besarnya kasih karunia yang kita terima—bahwa Tuhan tidak memperkatakan dosa-dosa kita untuk menghancurkan kita—hati kita akan diubahkan secara perlahan namun pasti. Hati yang penuh anugerah tidak akan lagi menemukan kenikmatan dalam meruntuhkan reputasi orang lain.

Mengubah budaya obrolan di lingkungan kita mungkin tidak akan terjadi dalam semalam. Akan selalu ada godaan untuk kembali bergabung dalam paduan suara gunjingan warga demi merasa diterima. Namun, kita bisa memilih untuk menjadi pemutus rantai kebusukan itu mulai hari ini. Terkadang, menjaga perkataan berarti kita memiliki keberanian untuk membelokkan arah pembicaraan ke hal yang lebih positif, atau sekadar menyingkir dengan sopan saat obrolan mulai menelanjangi privasi sesama.

Esok pagi, saat gerobak sayur itu kembali datang atau saat notifikasi grup obrolan warga kembali berbunyi, ingatlah bahwa bibir kita telah ditebus untuk menjadi saluran kasih karunia.

Ya Tuhan yang empunya segala kata, tahirkanlah bibir kami yang sering kali cemar ini dengan kasih-Mu. Berikanlah kami hikmat untuk menahan diri saat emosi terpancing, agar setiap kalimat yang kami ucapkan hari ini boleh menjadi pelukan yang membalut luka sesama, bukan pedang yang meruntuhkan martabat mereka.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa