Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Kasih kepada sesama yang meruntuhkan sekat keangkuhan kita

Kasih kepada sesama yang meruntuhkan sekat keangkuhan kita

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
1
6
0
0

Sebab seluruh hukum Taurat terpenuhi dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Galatia 5:14 (TB)

Sering kali kita mendapati diri kita terjebak dalam kekesalan kecil di gang pemukiman padat, seperti ketika mobil tetangga parkir menghalangi pagar rumah kita atau ketika tumpukan sampah mereka berbau hingga ke halaman kita. Di tengah kejengkelan yang sangat manusiawi itu, sebuah kalimat kuno dari Alkitab tiba-tiba menginterupsi keegoisan kita. Firman ini tidak datang sebagai belaian manja, melainkan sebagai cermin tajam yang menguji ketulusan iman kita di tengah realitas sosial sehari-hari.

Menghadapi kenyataan hidup bertetangga di Indonesia memang membutuhkan stok kesabaran yang luar biasa tebal. Kita hidup berdempetan, berbagi aspal jalan yang sama, bahkan sering kali terpaksa mendengarkan obrolan dari rumah sebelah karena dinding batako yang tipis. Sangat mudah bagi kita untuk merasa terusik, memendam kejengkelan, lalu membalasnya dengan sikap dingin, sindiran pasif-agresif, atau gunjingan di belakang.

Keinginan untuk melindungi kenyamanan diri sendiri adalah dorongan yang sangat alami bagi setiap manusia. Ketika hak kita sedikit saja terganggu, respons pertama kita biasanya adalah membangun benteng pertahanan atau menyerang balik demi harga diri. Kita merasa berhak untuk marah, berhak untuk bersikap tidak peduli, dan berhak mengabaikan kesulitan yang sedang dihadapi oleh orang di sekitar kita.

Kegelisahan batin ini sebenarnya bukan hal baru, karena jemaat di Galatia pada abad pertama pun mengalami gesekan yang serupa dalam komunitas mereka. Rasul Paulus menulis surat ini bukan kepada orang-orang yang hidup tenang tanpa masalah, melainkan kepada sebuah komunitas yang sedang dilanda ketegangan hebat. Mereka sibuk memperdebatkan aturan keagamaan, identitas lahiriah, dan siapa yang paling benar di hadapan Tuhan.

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan teologis yang melelahkan itu, mereka justru saling menggigit dan menelan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Mereka terjebak dalam pemikiran bahwa kesalehan diukur dari seberapa ketat mereka menjaga tradisi lahiriah. Mereka lupa bahwa esensi dari iman yang hidup justru diuji melalui cara mereka memperlakukan manusia lain di dekat mereka.

Melalui pendekatan eksegesis yang mendalam terhadap teks ini, kita menemukan bahwa Paulus sedang melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman hukum yang kaku. Kata “terpenuhi” dalam bahasa asli Yunani menggunakan istilah pleroutai, yang berarti digenapi sampai penuh atau mencapai puncaknya. Paulus menegaskan bahwa seluruh rangkaian hukum Taurat yang rumit itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak bermuara pada satu tindakan nyata, yaitu kasih.

Kutipan yang diambil Paulus dari Imamat sembilan belas ayat delapan belas ini memindahkan fokus keagamaan dari ritus vertikal menuju pembuktian horizontal. Standar yang ditetapkan pun tidak main-main, yaitu mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Artinya, tingkat kepedulian, perlindungan, dan pengampunan yang kita berikan kepada diri sendiri, kini wajib kita alihkan kepada sesama.

Bapa gereja Agustinus dari Hippo dalam khotbah-khotbahnya sering kali menekankan bahwa kasih adalah bobot dari jiwa kita. Ke mana pun kasih itu condong, ke sanalah seluruh hidup kita akan bergerak dan menetap. Agustinus mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika kita terus-menerus menutup mata terhadap penderitaan sesama yang nyata di depan mata kita.

Dalam kultur masyarakat kita, konsep kasih sering kali mengalami penyempitan makna menjadi sekadar perasaan sentimental atau kegiatan amal musiman. Kita merasa sudah mengasihi ketika memberikan donasi lewat aplikasi ponsel pintar, tanpa perlu melibatkan hati dan relasi yang berantakan dengan orang sekitar. Kasih yang sejati jauh lebih menuntut dari itu, karena ia meminta kita merendahkan hati di hadapan orang-orang yang menjengkelkan.

Ketika kita harus menghadapi rekan kerja yang suka menjatuhkan, atau tetangga yang egois, di sanalah ujian integritas karakter kita yang sesungguhnya dimulai. Sangat mudah mengasihi orang yang baik dan menguntungkan bagi kita. Namun, Kristus memanggil kita untuk melangkah lebih jauh, menembus batas-batas kenyamanan ego kita demi menghadirkan damai sejahtera.

Jujur saja, kita tidak akan pernah mampu menjalankan perintah ini jika hanya mengandalkan tekad atau kekuatan moral pribadi. Sumur kesabaran kita terlalu dangkal dan hati kita terlalu rapuh untuk menampung kesalahan orang lain secara terus-menerus. Kita akan segera lelah, kecewa, dan akhirnya kembali pada pola hidup lama yang mementingkan diri sendiri.

Kita membutuhkan sumber waras yang jauh lebih besar daripada sekadar motivasi psikologis tentang kedamaian batin atau pemikiran positif. Kita membutuhkan perubahan radikal yang hanya bisa dikerjakan oleh Injil Yesus Kristus di dalam kedalaman hati kita. Alkitab dengan konsisten mengarahkan pandangan kita kepada Kristus sebagai pusat dan teladan dari kasih yang sempurna itu.

Yesus tidak sekadar memberikan teori tentang bagaimana cara mengasihi sesama manusia di dunia. Ia meninggalkan takhta kemuliaan-Nya, masuk ke dalam sejarah manusia yang penuh kekacauan, dan memilih hidup di antara orang-orang tersisih. Ia membiarkan diri-Nya disalahpahami, dikhianati, hingga disalibkan demi menebus kita yang sebenarnya adalah musuh-musuh Allah.

Di atas kayu salib, Kristus menunjukkan bagaimana seluruh hukum Taurat digenapi secara mutlak melalui penyerahan diri-Nya. Kasih-Nya tidak bersyarat, tidak menuntut balasan, dan mengalir utuh kepada kita yang sama sekali tidak layak menerimanya. Ketika hati kita benar-benar diubahkan oleh kesadaran akan pengorbanan ini, cara kita memandang sesama akan mengalami revolusi total.

Kita tidak lagi mengasihi orang lain agar mendapatkan pahala atau supaya dihormati sebagai orang yang saleh di lingkungan sekitar. Kita mengasihi karena kita telah terlebih dahulu dikasihi dengan begitu melimpah oleh Tuhan sendiri. Kasih Kristus yang meluap di dalam hati kita itulah yang kemudian tumpah dan memberkati orang-orang di sekitar kita.

Mengasihi sesama kini bukan lagi sebuah beban kewajiban yang menjemukan, melainkan sebuah respons syukur yang natural atas anugerah keselamatan. Kita mulai belajar melihat tetangga yang sulit atau rekan kerja yang menyebalkan sebagai jiwa-jiwa yang berharga di mata Tuhan. Ego kita perlahan-lahan luruh, digantikan oleh belas kasihan yang bersumber dari takhta kasih karunia.

Langkah praktisnya bisa dimulai dari hal-hal yang tidak terlihat oleh publik, seperti menahan diri untuk tidak membalas nyinyiran di grup percakapan warga. Kita bisa memilih untuk menyapa dengan ramah petugas kebersihan kompleks yang setiap hari mengangkut limbah rumah tangga kita tanpa pernah kita hargai. Hal-hal kecil ini barangkali tampak sepele, namun di sanalah terang Kristus mulai berpendar secara nyata melalui hidup kita.

Hidup sebagai teladan di tengah masyarakat tidak menuntut kita untuk menjadi pahlawan besar yang mengubah regulasi negara dalam semalam. Kesaksian iman yang paling kuat justru sering kali lahir dari konsistensi kita dalam menghadirkan kebaikan di ruang-ruang privat yang sepi dari tepuk tangan. Ketika dunia mengajarkan untuk saling sikut demi kenyamanan, kita memilih untuk mengulurkan tangan demi memulihkan relasi.

Esok pagi, pintu rumah kita akan kembali terbuka menghadap dunia yang penuh dengan gesekan kepentingan ego manusia. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan ikut larut dalam arus keegoisan umum atau memilih menjadi saluran kasih yang menyejukkan lingkungan sekitar. Kiranya anugerah-Mu yang melimpah memampukan hati kami yang bebal ini untuk terus belajar mengampuni dan menerima kelemahan sesama.

Ya Tuhan, bentuklah karakter kami agar tidak lagi hidup untuk kepuasan diri sendiri, melainkan menjadi perpanjangan tangan-Mu yang membawa kedamaian dan pelukan hangat bagi dunia yang sedang terluka ini.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa