Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Beberapa hari lalu, saya duduk di pojok ruangan ibadah sambil memperhatikan seorang teman yang berbicara begitu berkarisma memimpin persekutuan. Jujur saja, ada sebersit rasa iri yang menyelinap saat melihat betapa mudahnya ia menginspirasi banyak orang. Sementara itu, saya hanya memegang setumpuk kabel sound system yang baru saja selesai saya gulung dengan tangan kotor. Perasaan kerdil semacam ini sering kali muncul saat kita membandingkan diri dengan mereka yang seolah selalu mendapat panggung utama kehidupan.
Terjebak dalam lingkungan sosial yang sangat memuja pencapaian dan sorotan lampu sering kali membuat kita merasa tertinggal. Kita secara otomatis menghitung seberapa besar dampak atau tepuk tangan yang kita dapatkan dibandingkan dengan rekan kerja atau saudara kandung sendiri. Terkadang kita merasa lelah secara emosional dan ingin berhenti melakukan peran kecil yang terasa membuang waktu ini. Pikiran kita mulai berbisik bahwa pengorbanan sunyi yang kita kerjakan hanyalah debu yang tidak akan pernah mengubah keadaan atau diakui oleh siapa pun.
Kegelisahan tentang siapa yang paling penting dan paling rohani ini sebenarnya bukan pergumulan baru. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ditulis tepat di tengah konflik panas mengenai hierarki karunia spiritual. Kota pelabuhan Korintus yang sangat kompetitif dan elit itu rupanya menularkan budaya pamer ke dalam gereja. Jemaat di sana saling sikut dan menyombongkan diri karena merasa memiliki karunia yang lebih sensasional, sambil merendahkan mereka yang karunianya tampak biasa-biasa saja.
Di tengah kekacauan yang merusak persekutuan itulah, Paulus menegaskan sebuah prinsip fundamental yang membongkar kesombongan manusia. Kata Yunani charisma yang ia gunakan untuk “karunia” memiliki akar yang sama dengan charis, yang berarti kasih karunia atau pemberian murni. Bapa-bapa Gereja secara konsisten mengajarkan bahwa karena hal ini bersumber dari kedaulatan Allah, maka tidak ada ruang sedikit pun bagi kita untuk merasa superior. Karunia bukanlah medali penghargaan atas tingkat kesucian kita, melainkan perkakas yang sekadar dititipkan untuk membangun sesama.
Lebih jauh lagi, Paulus menggarisbawahi bahwa meski bentuk peran yang kita emban berbeda-beda, semuanya ditiupkan oleh satu Roh yang sama. Roh Kudus tidak pernah membagikan karunia secara serampangan atau tanpa alasan yang jelas bagi umat-Nya. Ketika Dia menempatkan kita pada porsi yang berbeda, tujuannya adalah agar kita saling bergantung dan melepaskan ilusi bahwa kita bisa hidup mandiri. Yesus sendiri mencontohkan harmoni ini ketika Ia menunduk mencuci kaki murid-murid-Nya, sebuah pekerjaan hina yang justru memancarkan kebesaran kasih yang melayani.
Pemahaman ini seharusnya melegakan kita dari tuntutan melelahkan untuk menjadi serba bisa seperti orang lain yang kita lihat di layar ponsel. Jika semua orang menjadi figur pemimpin yang brilian, lalu siapa yang akan merapikan data yang berantakan, menenangkan rekan yang sedang panik, atau mendengarkan keluh kesah dalam diam? Peran-peran sunyi yang tidak pernah mendapat tepuk tangan manusia ini justru sering kali menjadi penopang kewarasan banyak orang di sekitar kita. Roh Kudus bekerja sama kuatnya melalui ketelatenan Anda yang sedang menemani anak belajar, seperti halnya melalui khotbah seorang pengkhotbah besar.
Kita perlahan diajak untuk berhenti mengukur nilai hidup kita dengan standar ketenaran dan pencapaian instan yang ditawarkan dunia. Saat kita mulai berdamai dan mensyukuri bagian kecil yang Tuhan percayakan, rasa iri yang menyiksa itu akan luruh dengan sendirinya. Kita dimampukan untuk ikut merayakan keberhasilan teman yang sedang bersinar tanpa merasa terancam eksistensinya. Kita akhirnya menyadari bahwa kita sedang mengerjakan kepingan tubuh Kristus yang sama di bawah arahan Sang Arsitek Agung.
Malam ini, saat kita merebahkan diri dan mengistirahatkan punggung yang pegal, lepaskanlah beban untuk selalu terlihat hebat di mata orang lain. Kita tidak perlu menjadi versi tiruan dari siapa pun untuk bisa disayangi dan dipakai oleh Pencipta kita.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.