Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Ekumenisme, Lumen Gentium, dan Gereja sinodal pada dasarnya berangkat dari satu kesadaran iman yang sama: Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri. Gereja hadir sebagai umat yang dipanggil Allah, dihimpun oleh Kristus, dan digerakkan oleh Roh Kudus untuk menjadi tanda serta sarana keselamatan bagi dunia.
Karena itu, ketika Gereja berbicara tentang persatuan umat Kristiani, tentang hakikat dirinya, dan tentang cara berjalan bersama sebagai umat Allah, yang sedang dibicarakan bukan sekadar persoalan kelembagaan. Di baliknya terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana Gereja sungguh-sungguh menghadirkan kehendak Allah di tengah sejarah manusia?
Kitab Suci memberi dasar yang kuat bagi kerinduan akan persatuan. Dalam doa-Nya sebelum sengsara, Yesus berdoa kepada Bapa bagi para murid-Nya, “supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh. 17:21). Persatuan, dengan demikian, bukan tambahan belaka dalam kehidupan Gereja, melainkan bagian dari kehendak Kristus sendiri.
Kesatuan para murid dimaksudkan agar dunia percaya bahwa Yesus diutus oleh Bapa. Dengan kata lain, kesaksian Gereja kepada dunia berkaitan erat dengan kualitas persekutuan di antara mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Gereja yang terpecah-pecah tentu menghadapi tantangan untuk menunjukkan secara meyakinkan bahwa Injil adalah kabar tentang rekonsiliasi dan damai.
Meski demikian, persatuan yang dimaksudkan Kristus tidak identik dengan keseragaman. Sejak awal, Gereja hidup dalam keberagaman karunia, pelayanan, latar belakang, dan cara mengungkapkan iman. Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota (1Kor. 12:12-27). Mata tidak dapat berkata kepada tangan, “Aku tidak membutuhkan engkau.” Demikian pula, satu anggota tidak dapat meniadakan keberadaan anggota lainnya.
Gambaran tubuh ini menjadi penting bagi pemahaman ekumenisme. Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan menemukan cara agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. Dalam kerangka inilah Konsili Vatikan II memberikan arah baru bagi Gereja Katolik dalam memahami dirinya dan relasinya dengan umat Kristiani lainnya.
Konstitusi dogmatis Lumen Gentium memulai refleksi tentang Gereja bukan terutama sebagai sebuah institusi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai umat yang dihimpun oleh Allah. Gereja adalah umat yang dipanggil untuk hidup dalam Kristus dan menjadi tanda persatuan manusia dengan Allah sekaligus persatuan seluruh umat manusia.
Dimensi ini sangat penting karena Gereja tidak boleh memahami dirinya hanya sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai tanda yang menunjuk kepada karya keselamatan Allah.
Lumen Gentium juga menggunakan gambaran yang kaya tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus, umat Allah, dan bait Roh Kudus. Semua gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan Gereja bersifat relasional. Gereja tidak terdiri dari individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi dari manusia yang dipersatukan dalam iman kepada Kristus.
Karena itu, kehidupan Gereja selalu memiliki dimensi persekutuan. Ada relasi antara Kristus dan umat-Nya, antara umat beriman satu dengan yang lain, antara Gereja lokal dan Gereja universal, serta antara Gereja dengan dunia. Pemahaman seperti ini membuka jalan bagi semangat ekumenisme.
Jika Kristus adalah Kepala dan umat Kristiani merupakan bagian dari satu keluarga besar orang-orang yang dibaptis, maka perpecahan di antara orang-orang Kristen tidak dapat dipandang sebagai keadaan yang ideal. Dekret Unitatis Redintegratio dari Konsili Vatikan II kemudian menegaskan pentingnya usaha untuk memulihkan kesatuan di antara semua orang Kristen.
Ekumenisme bukan sekadar strategi diplomatik antargereja, melainkan tanggapan terhadap panggilan Injil untuk hidup dalam kasih dan persatuan. Dalam perspektif biblis, ekumenisme juga dapat dilihat melalui pengalaman Gereja perdana. Kisah Para Rasul memperlihatkan bahwa Gereja tidak lahir dalam situasi tanpa perbedaan. Para murid berasal dari latar belakang yang beragam.
Mereka harus belajar bagaimana hidup bersama, mengambil keputusan bersama, dan membedakan apa yang sungguh-sungguh dikehendaki Roh Kudus. Kisah Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15 menjadi salah satu contoh penting. Para rasul dan penatua berkumpul, mendengarkan kesaksian, mempertimbangkan pengalaman umat, berdiskusi, dan akhirnya mengambil keputusan dengan kesadaran bahwa Roh Kudus bekerja di tengah proses tersebut.
Rumusan mereka, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (Kis. 15:28), memperlihatkan hubungan erat antara karya Roh dan proses discernment komunitas. Di sinilah gagasan Gereja sinodal memperoleh dasar teologis yang kuat.
Sinodalitas pada dasarnya berarti berjalan bersama. Gereja sinodal bukan pertama-tama Gereja yang sibuk dengan mekanisme rapat, konsultasi, atau prosedur administratif.
Lebih dalam daripada itu, Gereja sinodal adalah Gereja yang belajar mendengarkan, berdialog, membedakan kehendak Allah, dan berjalan bersama dalam terang Roh Kudus. Model ini memiliki akar yang sangat tua dalam kehidupan Gereja, sekalipun istilah dan bentuk penerapannya dapat berkembang sesuai dengan konteks zaman.
Yesus sendiri memperlihatkan pentingnya mendengarkan manusia. Dalam Injil, Ia berulang kali berjumpa dengan orang-orang, mendengarkan seruan mereka, bertanya, berdialog, dan membaca situasi hidup mereka.
Dalam perjalanan menuju Emaus, misalnya, Yesus mendekati dua murid yang sedang mengalami kekecewaan. Ia tidak langsung memberikan jawaban. Ia terlebih dahulu bertanya, mendengarkan kisah mereka, lalu membuka Kitab Suci kepada mereka (Luk. 24:13-35).
Pola ini memiliki makna penting bagi Gereja sinodal: berjalan bersama dimulai dari kesediaan untuk hadir dan mendengarkan.
Gereja sinodal karena itu tidak dapat dipisahkan dari pertobatan ekumenis. Jika Gereja ingin berjalan bersama dengan sungguh-sungguh, ia harus belajar keluar dari kecenderungan untuk melihat pihak lain sebagai ancaman atau lawan. Dialog ekumenis menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa sejarah perpecahan umat Kristiani juga merupakan sejarah luka.
Pada saat yang sama, dialog membuka kemungkinan untuk mengenali karya Allah yang hadir di luar batas-batas komunitas sendiri. Perbedaan tetap ada dan tidak boleh disembunyikan, tetapi perbedaan dapat ditempatkan dalam horizon yang lebih besar, yakni kesetiaan bersama kepada Kristus.
Semangat ini sejalan dengan gambaran Paulus tentang Tubuh Kristus. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor. 12:27). Tidak seorang pun memiliki seluruh kekayaan karunia Kristus sendirian. Gereja membutuhkan satu sama lain.
Dalam perspektif ekumenis, kesadaran ini dapat mendorong umat Kristiani untuk melihat bahwa kesaksian tentang Kristus menjadi lebih kaya ketika berbagai tradisi belajar saling mendengarkan dan bekerja bersama dalam bidang-bidang yang memungkinkan.
Ekumenisme, Lumen Gentium, dan Gereja sinodal bertemu dalam satu visi tentang Gereja sebagai umat yang berjalan bersama menuju kepenuhan Kerajaan Allah. Ekumenisme mengingatkan Gereja akan panggilan kepada persatuan; Lumen Gentium memperdalam kesadaran tentang Gereja sebagai umat Allah dan sakramen keselamatan; sedangkan sinodalitas mengundang Gereja untuk mewujudkan panggilan tersebut melalui budaya mendengarkan, partisipasi, dialog, dan discernment bersama.
Semuanya berakar pada Kristus yang memanggil para murid untuk mengikuti-Nya dan pada Roh Kudus yang terus bekerja dalam kehidupan umat Allah. Karena itu, Gereja sinodal bukan sekadar model organisasi baru, dan ekumenisme bukan sekadar proyek hubungan antaragama atau antarlembaga gerejawi. Keduanya menyentuh cara Gereja memahami dirinya sebagai komunitas orang-orang yang dipanggil untuk hidup dalam kasih.
Gereja dipanggil untuk mendengarkan sebelum berbicara, membangun jembatan sebelum memperlebar jarak, dan mencari kehendak Allah sebelum mempertahankan kepentingannya sendiri. Dalam dunia yang ditandai oleh polarisasi dan fragmentasi, kesaksian semacam ini menjadi semakin penting.
Ketika umat Kristiani belajar berjalan bersama tanpa kehilangan kebenaran iman, ketika perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling meniadakan, dan ketika seluruh umat diberi ruang untuk mendengarkan serta didengarkan, Gereja semakin mampu menghadirkan wajah Kristus yang berdoa agar para pengikut-Nya menjadi satu.
Di sanalah ekumenisme dan sinodalitas bukan hanya menjadi tema teologis, melainkan menjadi cara konkret bagi Gereja untuk menghidupi Injil dalam sejarah.

Komentar 0
Bagikan pemikiran Anda mengenai artikel ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.