Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Pernahkah kita duduk sendirian setelah semua orang tidur, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan keputusan yang harus dibuat besok? Mungkin kita sedang mempertimbangkan apakah perlu bertahan di pekerjaan sekarang, menerima tawaran baru, melanjutkan sebuah hubungan, berhenti dari pelayanan tertentu, atau mengambil langkah yang bisa mengubah arah hidup. Kita sudah mencari nasihat, menghitung kemungkinan, dan memikirkan risikonya, tetapi tetap saja hati bertanya, “Bagaimana kalau saya salah?”
Kegelisahan seperti itu sangat manusiawi, terutama ketika keputusan yang sedang kita hadapi tidak memiliki jawaban yang langsung terlihat. Kita ingin memastikan bahwa pilihan kita benar sebelum melangkah, tetapi kehidupan jarang memberikan kepastian seperti itu. Pada akhirnya, kita bisa merasa lelah karena terus berusaha mengetahui apa yang akan terjadi sebelum berani mengambil keputusan.
Di tengah kegelisahan seperti itu, Amsal 3:5 memberikan sebuah panggilan yang sederhana tetapi tidak dangkal: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh berpikir, menggunakan pertimbangan, mencari nasihat, atau merencanakan masa depan. Yang ditegur adalah kecenderungan menjadikan pengertian kita sendiri sebagai dasar terakhir tempat kita menggantungkan hidup.
Kitab Amsal merupakan bagian dari sastra hikmat Israel yang mengajarkan umat Tuhan bagaimana menjalani kehidupan dengan takut akan Tuhan. Dalam konteks Amsal 3, nasihat kepada anak untuk mempercayai Tuhan berkaitan dengan kehidupan yang menerima didikan-Nya, menghormati-Nya, dan tidak menganggap penilaian manusia sebagai ukuran tertinggi bagi kehidupan.
Karena itu, mengandalkan Tuhan bukan berarti mematikan akal sehat. Kita tetap perlu mempertimbangkan kemampuan, kondisi keuangan, tanggung jawab keluarga, nasihat orang yang bijaksana, dan konsekuensi dari keputusan yang akan kita ambil. Kita justru menggunakan semua pertimbangan tersebut sambil menyadari bahwa pengetahuan kita tetap terbatas.
Masalahnya muncul ketika kita mulai berpikir bahwa karena kita sudah menghitung semuanya, kita pasti mengetahui hasil akhirnya.
Kita bisa membuat rencana karier dengan sangat matang, tetapi tidak mengetahui perubahan yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Kita dapat mempertimbangkan sebuah hubungan dengan hati-hati, tetapi tidak dapat melihat seluruh perjalanan hidup bersama orang tersebut. Kita dapat membuat keputusan berdasarkan pengalaman masa lalu, tetapi pengalaman kita sendiri tidak pernah cukup untuk menjelaskan semua hal yang belum terjadi.
Itulah sebabnya Amsal 3:5 berbicara tentang kepercayaan.
Kata yang diterjemahkan sebagai “percayalah” dalam bagian ini mengandung gagasan menaruh kepercayaan atau rasa aman kepada seseorang yang dapat diandalkan. Gambaran yang diberikan bukan tentang orang yang tidak berpikir, melainkan tentang seseorang yang memilih menempatkan dirinya pada Tuhan karena menyadari bahwa Tuhan lebih dapat diandalkan daripada pengertiannya sendiri.
Ada perbedaan besar antara menggunakan pengertian dan bersandar kepada pengertian.
Kita menggunakan pengertian ketika mencari informasi, mempertimbangkan pilihan, berdiskusi dengan orang yang matang, dan berdoa sebelum mengambil keputusan. Namun, kita bersandar kepada pengertian sendiri ketika hati kita berkata, “Kalau saya tidak bisa menjelaskan semuanya, berarti saya tidak bisa percaya kepada Tuhan.”
Padahal, iman justru sering membawa kita ke tempat ketika kita tidak memiliki semua jawaban.
Abraham tidak mengetahui seluruh perjalanan ketika Tuhan memanggilnya meninggalkan negerinya. Musa tidak mengetahui seluruh detail perjalanan Israel ketika Tuhan memanggilnya memimpin bangsa itu keluar dari Mesir. Para murid juga tidak memahami seluruh rencana ketika Yesus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya.
Kita tidak perlu menjadikan contoh-contoh tersebut sebagai alasan untuk mengambil keputusan secara sembarangan. Sebaliknya, kisah-kisah itu menunjukkan bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu berarti menerima peta lengkap sebelum kita melangkah.
Ada kalanya Tuhan memberikan cukup terang untuk langkah berikutnya, tetapi tidak memberikan seluruh gambaran perjalanan.
Hal ini menjadi sangat relevan ketika kita sedang menghadapi keputusan yang tidak memiliki pilihan sempurna. Kita mungkin harus memilih antara dua pekerjaan yang sama-sama memiliki risiko, menentukan apakah sebuah hubungan perlu dilanjutkan, memutuskan bagaimana menggunakan uang yang terbatas, atau mempertimbangkan perubahan yang akan memengaruhi keluarga.
Dalam situasi seperti itu, kita sering berharap Tuhan memberikan tanda yang sangat jelas sehingga kita tidak perlu bergumul lagi. Kita ingin sebuah jawaban yang membuat semua keraguan hilang sebelum kita bergerak.
Namun, kehidupan bersama Tuhan tidak selalu berjalan seperti itu.
Kadang Tuhan membentuk kita melalui proses mempertimbangkan, berdoa, mencari nasihat, membaca Firman, menguji motivasi, dan kemudian mengambil keputusan dengan iman. Kita mungkin masih merasa takut setelah mengambil keputusan tersebut, tetapi rasa takut tidak selalu berarti bahwa kita berada di jalan yang salah.
Ini penting karena sebagian dari kita telah menyamakan kehendak Tuhan dengan perasaan tenang seratus persen.
Padahal, hati manusia bisa merasa tenang terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak bijaksana, dan bisa merasa takut terhadap sesuatu yang justru merupakan langkah yang benar. Karena itu, perasaan perlu didengarkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan kehendak Tuhan.
Firman Tuhan menjadi ukuran yang lebih kokoh.
Jika sebuah keputusan mengharuskan kita berbohong, mengkhianati orang lain, mengeksploitasi seseorang, atau melakukan sesuatu yang jelas bertentangan dengan kehendak Allah, kita tidak membutuhkan tanda khusus untuk mengetahui bahwa keputusan tersebut salah. Namun, ketika beberapa pilihan sama-sama mungkin dilakukan dengan cara yang benar, kita dapat menggunakan hikmat, berdoa, meminta nasihat, dan mengambil keputusan tanpa menuntut Tuhan memberi kepastian tentang setiap detail masa depan.
Di sinilah kita belajar bahwa meminta hikmat bukan sekadar meminta Tuhan menunjukkan pilihan yang paling menguntungkan bagi kita.
Hikmat Tuhan membentuk kita untuk bertanya lebih jauh, “Pilihan seperti apa yang membuat saya semakin setia kepada Kristus dan semakin mampu mengasihi orang lain?” Pertanyaan itu mengubah pusat keputusan dari “Apa yang paling menguntungkan saya?” menjadi “Bagaimana saya dapat hidup dengan setia di hadapan Tuhan dalam situasi ini?”
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan “kehendak Tuhan” sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab berpikir.
Ada orang yang mengatakan, “Saya tunggu Tuhan kasih jawaban,” padahal sebenarnya ia tidak mau mengambil keputusan. Ada pula yang terus mencari tanda karena takut menanggung konsekuensi dari pilihan yang harus dibuat. Mengandalkan Tuhan bukan berarti menyerahkan semua tanggung jawab kepada Tuhan lalu menolak menggunakan hikmat yang sudah Dia berikan.
Kita tetap dipanggil untuk berpikir dan bertindak.
Namun, kita melakukannya dengan hati yang terbuka untuk dikoreksi Tuhan.
Ini juga berarti kita tidak perlu terlalu keras kepada diri sendiri ketika sebuah keputusan ternyata menghasilkan sesuatu yang tidak kita harapkan. Kita memang perlu belajar dari kesalahan dan bertanggung jawab ketika keputusan kita keliru, tetapi kita tidak perlu hidup dalam keyakinan bahwa satu keputusan buruk telah menghancurkan seluruh rencana Allah bagi hidup kita.
Di dalam Kristus, kegagalan kita tidak memiliki kata terakhir.
Injil tidak mengajarkan bahwa kita akan selalu mengambil keputusan sempurna jika iman kita cukup kuat. Alkitab justru menunjukkan bahwa manusia tetap terbatas, dapat salah menilai keadaan, bahkan dapat jatuh ke dalam dosa. Pengharapan kita tidak terletak pada kemampuan kita untuk selalu memilih dengan sempurna, tetapi pada kasih karunia Allah yang bekerja di tengah kelemahan kita.
Karena itu, mengandalkan Tuhan bukan sekadar teknik untuk mendapatkan keputusan yang tepat. Mengandalkan Tuhan adalah sikap hati yang mengakui bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri.
Kita boleh membuat rencana, tetapi kita menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita boleh berharap sebuah pintu terbuka, tetapi kita tidak perlu memaksa pintu tersebut ketika Tuhan menutupnya. Kita boleh meminta sesuatu dengan sungguh-sungguh, tetapi kita tetap memberi ruang bagi Tuhan untuk mengatakan tidak.
Bagian selanjutnya dari Amsal 3 memperluas pemikiran tersebut dengan mengajak pembacanya mengakui Tuhan dalam segala jalan kehidupan. Dengan demikian, kepercayaan kepada Tuhan bukan hanya berlaku ketika kita sedang menghadapi keputusan besar, tetapi menjadi cara hidup yang membawa kita untuk melibatkan Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, keuangan, pelayanan, relasi, dan berbagai pilihan sehari-hari.
Mungkin hari ini kita sedang berada di persimpangan yang tidak mudah.
Kita tidak tahu apakah harus bertahan atau pergi, menunggu atau bergerak, menerima atau menolak, berbicara atau diam. Kita sudah memikirkan banyak hal dan mungkin masih belum menemukan jawaban yang membuat hati benar-benar tenang.
Jika demikian, kita tidak perlu berpura-pura sudah mengetahui semuanya.
Kita dapat datang kepada Tuhan dengan jujur dan berkata bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita percaya kepada Dia yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Kita dapat meminta hikmat tanpa menuntut Tuhan menjelaskan seluruh masa depan, lalu mengambil langkah yang sesuai dengan Firman-Nya dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita buat.
Ada ketenangan yang berbeda ketika kita tidak lagi merasa harus menjadi orang yang mengetahui segala sesuatu.
Kita tetap berpikir, tetapi tidak menjadikan pikiran sebagai tuhan. Kita tetap merencanakan, tetapi tidak menganggap rencana sebagai jaminan. Kita tetap mengambil keputusan, tetapi tidak menggantungkan identitas dan masa depan kita sepenuhnya pada hasil keputusan tersebut.
Sebab pada akhirnya, keamanan kita bukan terletak pada seberapa baik kita membaca masa depan, melainkan pada siapa yang memegang hidup kita.
Kristus sendiri menjadi pusat pengharapan itu. Di dalam karya keselamatan-Nya, kita melihat bahwa Allah tidak meninggalkan manusia dalam dosa dan kebingungannya, tetapi datang mendekat untuk menyelamatkan. Karena itu, ketika kita menghadapi keputusan yang tidak kita pahami, kita tidak sedang menyerahkan hidup kepada Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan kepada Tuhan yang telah menyatakan kasih-Nya melalui Kristus.
Mungkin kita belum tahu bagaimana keputusan hari ini akan membentuk kehidupan kita lima tahun dari sekarang. Kita juga tidak tahu pintu mana yang akan terbuka, kesempatan mana yang akan hilang, atau rencana mana yang akhirnya harus kita lepaskan. Namun, kita dapat belajar berjalan bersama Tuhan tanpa menuntut diri sendiri untuk mengetahui semua jawaban terlebih dahulu.
Hikmat Tuhan tidak selalu membuat seluruh jalan terlihat sejak awal, tetapi hikmat itu mengajar kita untuk berjalan dengan hati yang percaya, pikiran yang mau dibentuk oleh Firman, dan keberanian untuk melakukan apa yang benar. Ketika kita belajar mengandalkan Tuhan seperti ini, kita tidak lagi mengambil keputusan hanya untuk mengendalikan masa depan, melainkan belajar menyerahkan masa depan kepada Dia yang memegang kita dengan kasih karunia-Nya.
Tuhan, ajarlah kami menggunakan akal dan pertimbangan dengan baik tanpa menjadikannya tempat bersandar yang terakhir, dan ketika kami menghadapi keputusan yang tidak kami pahami, berikanlah hikmat untuk memilih apa yang benar serta iman untuk menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Biarlah kami semakin mengenal Kristus dan menemukan keberanian untuk berjalan bersama-Nya, bahkan ketika kami belum melihat seluruh jalan di depan kami.
Ketika keputusan hidup terasa berat karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya, kita tidak perlu memaksa diri untuk memiliki semua jawaban sebelum melangkah. Hikmat Tuhan menolong kita menggunakan pertimbangan dengan bijaksana, mencari nasihat, berdoa, dan tetap terbuka terhadap pimpinan-Nya tanpa menjadikan pengertian sendiri sebagai dasar terakhir. Mengandalkan Tuhan berarti mempercayakan hidup kepada-Nya sambil tetap setia melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita, sebab masa depan yang tidak dapat kita lihat tetap berada dalam tangan Allah yang telah menyatakan kasih-Nya kepada kita melalui Kristus.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.