Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Masa Pra-Paskah selalu mengajak umat Kristen untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur tentang arah hidup yang sedang dijalani. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang bising oleh tuntutan, konflik, dan kecemasan, masa ini menghadirkan keheningan yang tidak nyaman tetapi perlu. Abu di dahi pada Rabu Abu mengingatkan bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu, sebuah pengakuan akan keterbatasan yang sering kali dilupakan ketika kekuasaan, identitas, dan ego menguasai hati. Dalam terang kesadaran inilah puasa dan pantang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan undangan untuk pembaruan batin yang mendalam.
Pertanyaannya adalah: dari apakah kita sungguh-sungguh perlu berpuasa hari ini? Dalam dunia yang semakin terhubung tetapi sekaligus terbelah, mungkin puasa yang paling mendesak bukan hanya dari makanan atau kebiasaan fisik tertentu, melainkan dari kebencian yang diam-diam berakar dalam hati, dan dari ketidakpedulian yang membuat kita menutup mata terhadap penderitaan sesama. Kebencian dan ketidakpedulian sering kali berjalan beriringan. Ketika kita membenci, kita berhenti melihat sesama sebagai manusia; ketika kita tidak peduli, kita membiarkan kebencian tumbuh tanpa perlawanan.
Puasa dari kebencian berarti keberanian untuk mengakui bahwa kebencian tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar dan terbuka. Ia sering muncul secara halus, terselubung dalam prasangka, sinisme, dan penghakiman cepat. Kebencian bisa bersembunyi di balik label “demi kebenaran”, “demi iman”, atau “demi identitas kelompok”. Dalam konteks kehidupan beriman, kebencian bahkan dapat menyamar sebagai kesalehan. Kita merasa benar, dan karena merasa benar, kita merasa berhak menyingkirkan, merendahkan, atau mengabaikan yang lain. Masa Pra-Paskah memanggil umat untuk berani menelanjangi ilusi ini dan mengakui bahwa kebencian, sekecil apa pun, adalah luka dalam tubuh Kristus yang satu.
Pantang dari ketidakpedulian tidak kalah menantang. Ketidakpedulian sering dianggap sebagai sikap netral, seolah-olah tidak memihak adalah pilihan yang aman dan bijaksana. Padahal, dalam terang Injil, ketidakpedulian adalah bentuk penyangkalan terhadap kasih. Ketika orang lapar dan kita berpaling, ketika ketidakadilan terjadi dan kita memilih diam, ketika bumi dirusak dan kita berkata “itu bukan urusan saya”, kita sedang mempraktikkan pantang yang keliru: pantang dari empati, pantang dari tanggung jawab, pantang dari solidaritas. Masa puasa justru memanggil kita untuk membalikkan arah: berpantang dari sikap acuh, dan melatih diri untuk peduli.
Yesus sendiri menjalani masa puasa di padang gurun bukan untuk memamerkan kekuatan rohani, melainkan untuk menegaskan kembali panggilan-Nya sebagai Anak Allah yang memilih jalan kasih dan ketaatan. Ia menolak godaan untuk menggunakan kuasa demi diri sendiri, demi popularitas, atau demi dominasi. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tidak mengenal batas kelompok, suku, agama, atau status sosial. Ia mendekati mereka yang dibenci dan dihindari, menyentuh yang dianggap najis, dan duduk makan bersama mereka yang dicap berdosa. Jalan salib yang Ia tempuh adalah jalan pengosongan diri, bukan penegasan identitas yang menindas.
Gereja-gereja hidup dalam tradisi, liturgi, dan penekanan teologis yang beragam. Perbedaan ini adalah kekayaan, tetapi juga bisa menjadi sumber kecurigaan dan jarak. Kebencian antarumat Kristen sering kali tidak diungkapkan secara terang-terangan, tetapi hadir dalam bentuk stereotip, sikap merasa lebih benar, atau keengganan untuk mendengar pengalaman iman yang lain. Ketidakpedulian muncul ketika perpecahan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan tidak perlu disembuhkan. Masa Pra-Paskah mengingatkan bahwa salib Kristus adalah tanda kasih yang mempersatukan, bukan simbol untuk mengukuhkan tembok pemisah.
Puasa dari kebencian menuntut praktik konkret: bela jar mendengarkan tanpa segera membantah, membuka diri terhadap dialog, dan mengakui bahwa tidak ada satu tradisi pun yang memiliki seluruh kepenuhan kebenaran secara eksklusif. Pantang dari ketidakpedulian mengajak gereja-gereja untuk berjalan bersama dalam kesaksian nyata di tengah dunia yang terluka. Kesatuan Kristen tidak pertama-tama dibangun melalui dokumen atau pernyataan resmi, tetapi melalui tindakan kasih bersama bagi mereka yang menderita, tersingkir, dan dilupakan. Di tingkat sosial yang lebih luas, dunia saat ini ditandai oleh polarisasi yang tajam. Media sosial mempercepat penyebaran kebencian dan mempersempit ruang empati. Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada pengertian, dan opini yang keras sering dianggap lebih bernilai daripada keheningan yang reflektif. Dalam situasi seperti ini, berpuasa dari kebencian berarti melawan arus. Itu berarti menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan ujaran yang merendahkan, tidak memperkuat narasi “kami” melawan “mereka”, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk meniadakan martabat manusia.
Pantang dari ketidakpedulian juga menuntut keberanian untuk terlibat. Keterlibatan ini tidak selalu berarti aksi besar atau heroik, tetapi kesediaan untuk hadir, memperhatikan, dan mengambil bagian. Ia bisa dimulai dari lingkaran kecil: keluarga, komunitas, jemaat, lingkungan sekitar. Ketika gereja memilih untuk peduli terhadap korban ketidakadilan, terhadap orang miskin, terhadap alam yang rusak, gereja sedang menghidupi makna puasa yang sejati. Puasa yang berkenan kepada Allah, sebagaimana diingatkan para nabi, adalah membebaskan yang tertindas, memberi makan yang lapar, dan membuka rumah bagi yang tak punya tempat. Masa Pra-Paskah juga mengajak refleksi personal yang jujur. Dari mana kebencian dalam diri kita berasal? Kepada siapa kita bersikap acuh? Mungkin kebencian itu lahir dari luka yang belum sembuh, dari rasa takut kehilangan, atau dari pengalaman ditolak. Puasa dari kebencian bukan berarti menekan emosi secara tidak sehat, melainkan membawa luka itu ke hadapan Allah dan membiarkan kasih-Nya menyentuhnya. Demikian pula, pantang dari ketidakpedulian menuntut kesadaran akan kenyamanan yang sering kita nikmati dengan mengorbankan orang lain. Pertobatan sejati selalu melibatkan perubahan cara hidup, bukan hanya perasaan bersalah sesaat.
Perjalanan menuju Paskah adalah perjalanan dari kematian menuju kehidupan. Kebencian dan ketidakpedulian adalah bentuk-bentuk kematian yang halus tetapi mematikan. Mereka membunuh relasi, mematikan harapan, dan mengeringkan iman. Sebaliknya, kasih dan kepedulian adalah tanda-tanda kebangkitan yang mulai bertunas bahkan sebelum fajar Paskah menyingsing. Setiap tindakan kecil yang menolak kebencian dan memilih peduli adalah partisipasi dalam karya kebangkitan itu sendiri.
Masa Pra-Paskah mengingatkan bahwa iman Kristen bukan sekadar soal apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita hidup. Puasa dari kebencian dan pantang dari ketidakpedulian adalah kesaksian yang dapat dilihat dan dirasakan oleh dunia. Di tengah kelelahan global, konflik berkepanjangan, dan krisis kemanusiaan, dunia tidak membutuhkan gereja yang sibuk mempertahankan dirinya sendiri, melainkan gereja yang berani mengosongkan diri, mengasihi tanpa syarat, dan peduli tanpa pamrih. Dalam perjalanan menuju salib dan kebangkitan, kiranya umat Kristen, bersama-sama secara ekumenis, belajar kembali makna puasa yang sejati: membuka ruang bagi Allah dengan menutup pintu bagi kebencian, dan menghidupi kasih dengan
menolak ketidakpedulian.

Komentar 0
Bagikan pemikiran Anda mengenai artikel ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.