Chat Konselor masih dalam tahap pengembangan. Respons dan layanan mungkin belum optimal. Terima kasih atas pengertian Anda. Tuhan Yesus memberkati.
Pukul sepuluh malam, rumah mulai tenang. Anak-anak sudah tidur, pekerjaan hari ini selesai, tetapi pikiran kita masih sibuk memikirkan hal-hal yang belum terselesaikan. Tagihan bulan depan belum jelas, pekerjaan yang diharapkan belum juga datang, hubungan keluarga masih menyisakan persoalan, dan doa yang sudah berulang kali dinaikkan seolah belum mendapatkan jawaban. Dalam keheningan seperti itu, pertanyaan yang sulit diucapkan terkadang muncul: sampai kapan kita harus menunggu? Apakah pengharapan masih masuk akal ketika kenyataan terus berjalan berlawanan dengan apa yang kita doakan?
Ada kelelahan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Kita masih mengikuti ibadah, menyanyikan lagu pujian, membaca Alkitab, bahkan sesekali menguatkan teman yang sedang mengalami kesulitan. Namun, ketika sendirian, kita mungkin bergumul dengan kekecewaan yang belum selesai. Bukan karena kita tidak lagi percaya kepada Tuhan, melainkan karena terlalu lama bertahan dalam keadaan yang tidak kunjung berubah. Kita ingin tetap percaya, tetapi ada bagian dalam hati yang mulai kehilangan tenaga untuk berharap.
Pergumulan semacam ini tidak perlu disembunyikan di hadapan Tuhan. Alkitab tidak menggambarkan kehidupan orang percaya sebagai perjalanan tanpa kesedihan, ketakutan, atau pertanyaan. Justru dalam Roma 5:3–5, Rasul Paulus berbicara tentang pengharapan ketika manusia berada dalam kesengsaraan. Ia tidak sedang menulis dari sudut pandang seseorang yang menganggap penderitaan sebagai persoalan kecil. Ia mengenal penolakan, penganiayaan, kesulitan pelayanan, dan berbagai penderitaan karena Injil. Namun, di tengah kenyataan tersebut, Paulus menunjukkan bahwa penderitaan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan iman seseorang.
Untuk memahami perkataannya, kita perlu melihat hubungan ayat ini dengan bagian sebelumnya. Dalam Roma 5:1–2, Paulus terlebih dahulu menjelaskan bahwa manusia dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus dan memperoleh damai sejahtera dengan Allah. Melalui Kristus, orang percaya mendapatkan jalan masuk ke dalam kasih karunia dan memiliki pengharapan akan kemuliaan Allah. Jadi, ketika Paulus berbicara tentang ketekunan dalam penderitaan, ia tidak sedang memberikan rumus agar manusia mendapatkan keselamatan melalui kemampuan bertahan. Dasarnya sudah jelas: kita diterima oleh Allah karena karya Kristus, bukan karena keberhasilan kita melewati berbagai kesulitan.
Kebenaran ini penting karena kita mudah mengukur keadaan rohani berdasarkan keadaan hidup. Ketika doa belum dijawab, kita mulai bertanya apakah iman kita kurang kuat. Ketika masalah datang bertubi-tubi, kita mungkin mengira Tuhan sedang menjauh. Bahkan, ada kalanya kita merasa tidak layak datang kepada-Nya karena terlalu sering mengeluh. Padahal, damai dengan Allah yang Paulus bicarakan bukanlah hadiah bagi orang yang hidupnya selalu berhasil. Damai itu merupakan buah pembenaran melalui Kristus. Artinya, keadaan yang belum selesai tidak otomatis membatalkan hubungan kita dengan Allah.
Paulus kemudian menjelaskan sebuah proses yang saling berkaitan: kesengsaraan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan. Kata yang diterjemahkan sebagai ketekunan mengandung gagasan tentang daya tahan untuk tetap bertahan di bawah tekanan. Ini bukan sikap pasrah yang menolak kenyataan, apalagi ajakan untuk menikmati penderitaan. Paulus sedang menunjukkan bahwa di tengah kesulitan, Allah dapat membentuk keteguhan dalam diri orang percaya.
Ada perbedaan antara sekadar bertahan karena tidak punya pilihan dan bertahan sambil tetap bersandar kepada Allah. Seseorang mungkin tetap bekerja meskipun hatinya lelah, tetap mengurus keluarga meskipun sedang menghadapi masalah keuangan, atau tetap menjalankan tanggung jawab meskipun masa depannya belum jelas. Semua itu tidak selalu berarti ia sedang baik-baik saja. Namun, ketika ia membawa kelemahannya kepada Tuhan, belajar mempercayakan hidup kepada Kristus, dan terus berjalan dalam ketaatan, ada proses pembentukan iman yang berlangsung.
Tentu saja, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap penderitaan pasti terjadi karena Tuhan sedang memberikan pelajaran tertentu. Alkitab tidak memberikan dasar untuk menganggap semua kesulitan sebagai hukuman atau menganggap orang yang menderita pasti kurang beriman. Penderitaan juga merupakan bagian dari dunia yang telah dirusak oleh dosa. Ada ketidakadilan yang harus dilawan, penyakit yang membutuhkan pertolongan medis, persoalan keluarga yang memerlukan pendampingan, dan keadaan ekonomi yang membutuhkan langkah nyata. Iman tidak meminta kita menutup mata terhadap semua itu.
Yang Paulus ajarkan adalah bahwa penderitaan tidak mempunyai kuasa mutlak untuk menentukan akhir kehidupan orang percaya. Allah sanggup bekerja di tengah keadaan yang tidak kita pilih. Ketekunan yang bertumbuh melalui pergumulan dapat membentuk karakter yang semakin matang, bukan karena penderitaan itu sendiri memiliki kuasa menyelamatkan, melainkan karena kasih karunia Allah terus bekerja dalam kehidupan umat-Nya.
Di sinilah pengharapan mendapatkan makna yang lebih dalam. Pengharapan bukan sekadar perasaan optimistis bahwa besok pasti lebih baik. Pengharapan berakar pada pribadi Allah dan janji-Nya. Kita mungkin belum mengetahui kapan pekerjaan akan tersedia, kapan keluarga dipulihkan, atau kapan pergumulan yang panjang akan berakhir. Namun, kita mempunyai alasan untuk tetap percaya karena masa depan kita tidak berada di tangan keadaan yang berubah-ubah. Masa depan itu berada dalam tangan Allah yang setia.
Paulus mengatakan bahwa pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati orang percaya melalui Roh Kudus. Perhatikan baik-baik dasar pengharapan tersebut. Paulus tidak mengatakan bahwa pengharapan tidak mengecewakan karena semua permintaan manusia akan dipenuhi. Ia juga tidak menjanjikan bahwa orang yang beriman tidak akan mengalami kegagalan. Dasarnya adalah kasih Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Roh Kudus.
Ungkapan tentang kasih yang dicurahkan menunjukkan kelimpahan pemberian Allah, bukan sesuatu yang harus kita hasilkan sendiri. Roh Kudus diberikan kepada orang percaya sebagai anugerah. Dengan demikian, pengharapan kita tidak bergantung pada kemampuan menjaga emosi agar selalu positif atau kekuatan untuk tidak pernah merasa takut. Bahkan ketika hati sedang rapuh, kasih Allah tetap menjadi dasar yang menopang iman kita.
Kasih tersebut paling jelas dinyatakan melalui karya Yesus Kristus. Dalam kelanjutan Roma 5, khususnya ayat 6–8, Paulus mengingatkan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Allah tidak menunggu manusia menjadi sempurna terlebih dahulu untuk menyatakan kasih-Nya. Kristus datang dan menyerahkan diri-Nya bagi orang-orang yang tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Salib menjadi bukti bahwa kasih Allah bukan sekadar perkataan yang terdengar menghibur, melainkan tindakan nyata yang terjadi dalam karya keselamatan.
Karena itu, ketika kita merasa Tuhan diam, kita dapat kembali memandang kepada Kristus. Kita mungkin belum memahami alasan di balik keadaan yang sedang dialami. Kita juga tidak selalu memperoleh jawaban yang sesuai dengan harapan. Namun, kita tidak perlu menafsirkan kasih Allah hanya berdasarkan apa yang terjadi hari ini. Salib mengingatkan kita bahwa Allah telah menyatakan kasih-Nya bahkan ketika manusia masih berada dalam dosa dan ketidakberdayaan.
Inilah yang membuat pengharapan dalam Kristus berbeda dari harapan yang hanya bertumpu pada keadaan. Harapan yang bergantung pada hasil mudah runtuh ketika rencana gagal. Sebaliknya, pengharapan yang berakar pada kasih Allah tetap memiliki dasar meskipun perjalanan hidup belum memberikan kepastian. Kita boleh menangis, mengakui kekecewaan, mencari pertolongan, dan mengambil keputusan yang diperlukan tanpa harus menganggap diri kita gagal sebagai orang percaya.
Mungkin malam ini kita masih mempunyai persoalan yang sama seperti kemarin. Tidak ada kabar baru tentang pekerjaan, hasil pemeriksaan belum keluar, hubungan yang retak belum pulih, atau kondisi keluarga masih membutuhkan banyak kesabaran. Kita tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk mempunyai jawaban atas setiap pertanyaan. Ada kalanya langkah iman yang paling jujur adalah datang kepada Tuhan dengan hati yang lelah dan mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya.
Menantikan waktu Tuhan bukan berarti berhenti melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita. Kita tetap dapat mencari pekerjaan, mengatur keuangan, meminta maaf, mencari nasihat yang bijaksana, menjalani pengobatan, dan memperbaiki hubungan yang rusak. Namun, kita melakukannya tanpa menjadikan hasil sebagai ukuran kasih Allah kepada kita. Kita belajar berjalan dengan setia, sekalipun belum mengetahui seluruh jalan yang terbentang di depan.
Ketika malam semakin larut, ingatlah bahwa pengharapan kita tidak dibangun di atas kemampuan untuk mengendalikan masa depan. Kita berakar dalam pengharapan karena Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, dan Roh Kudus mengaruniakan kepastian akan kasih-Nya di dalam hati kita. Kesulitan mungkin masih ada ketika kita bangun esok pagi, tetapi kesulitan itu bukan bukti bahwa Allah telah meninggalkan kita. Kita masih berada dalam pemeliharaan-Nya, dan kehidupan kita tetap berada dalam jangkauan kasih karunia-Nya.
Kiranya malam ini kita dapat beristirahat tanpa harus menyelesaikan semua pertanyaan yang memenuhi pikiran.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.