Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Hujan baru saja reda ketika KRL Commuter Line yang saya tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalur rel yang gelap. Suara desahan napas lelah segera terdengar dari penumpang di kiri dan kanan saya, sementara pendingin udara terasa kurang berfungsi malam itu. Sebagian besar dari kami hanya menatap layar ponsel dengan pandangan kosong, terjebak dalam ruang sempit setelah seharian memeras keringat. Dalam situasi jenuh seperti ini, rasa frustrasi sangat mudah menyulut emosi dan membuat kita hanya ingin secepatnya tiba di rumah.
Sering kali, kehidupan kita terasa persis seperti gerbong kereta yang mogok di tengah jalan. Kita merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak nyaman dan membatasi ruang gerak kita. Entah itu tumpukan utang yang belum lunas, konflik keluarga yang berlarut-larut, atau kondisi fisik yang tak kunjung pulih. Kita sudah mencoba berbagai cara untuk keluar dari sana, tetapi roda kehidupan seolah menolak untuk berputar maju.
Dalam momen-momen buntu dan tak berujung inilah, batas kesabaran kita diuji sampai ke titik yang paling tipis. Kita wajar merasa kelelahan dan terkadang marah ketika doa-doa kita sepertinya hanya membentur langit-langit kamar. Kita mulai mengeluh kepada Tuhan, mempertanyakan mengapa Dia membiarkan kita berada dalam kesesakan ini begitu lama tanpa kejelasan. Sebagai manusia, kita selalu mencari jalan pintas, berharap ada tombol ajaib yang bisa mempercepat proses rasa sakit ini.
Namun, pelarian yang terburu-buru sering kali hanya membawa kita pada masalah baru yang jauh lebih rumit dan menyakitkan. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose dari balik jeruji besi, sebuah tempat yang kenyataannya jauh lebih menyesakkan daripada gerbong kereta mana pun. Menariknya, ketika ia memanjatkan doa untuk sahabat-sahabatnya di sana, ia tidak meminta Tuhan untuk segera mengangkat segala kesulitan yang mereka hadapi.
Paulus justru memohon agar jemaat “dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” Doa ini mungkin terdengar janggal, atau bahkan mengecewakan bagi telinga kita yang terbiasa mencari solusi instan atas setiap ketidaknyamanan. Dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan untuk ketekunan dan kesabaran di sini menyiratkan sebuah daya tahan yang berotot, bukan sekadar kepasrahan yang diam dan mengasihani diri sendiri.
Kata pertama, hupomone, berbicara tentang kemampuan rohani untuk memikul beban berat dan tekanan situasi tanpa hancur berantakan. Sementara itu, kata makrothumia adalah kemampuan untuk tetap tenang, menguasai diri, dan tidak lekas marah ketika berhadapan dengan orang-orang yang menyulitkan kita. Keduanya jelas bukanlah sifat bawaan natural manusia yang bisa kita latih hanya dengan mengatur napas atau sugesti pikiran belaka.
Bapa-bapa Gereja terdahulu sering mengajarkan bahwa ketahanan mental seperti ini adalah tanda paling nyata dari karya Roh Kudus dalam batin seseorang. Ketika kita mampu bertahan dalam penderitaan yang tidak adil tanpa kehilangan kasih dan harapan, di situlah dunia melihat ada kuasa ilahi yang bekerja. Kesabaran perlahan-lahan mengubah penderitaan dari sekadar rasa sakit menjadi sebuah tungku pemurnian tempat karakter Kristus dibentuk di dalam kita.
Tentu saja, menundukkan diri untuk dibentuk dalam kesesakan bukanlah hal yang nyaman untuk dijalani. Kita jauh lebih suka jika Tuhan menyingkirkan gunung rintangannya saat ini juga, daripada sekadar memberi kita sepasang sepatu pendaki dan tenaga ekstra untuk memanjatnya. Namun, transformasi karakter dan buah Roh tidak pernah tumbuh subur di dalam ruang kaca pelindung yang serba aman. Ia justru mengakar paling kuat dan berbuah lebat di tengah badai, konflik, dan air mata keseharian kita.
Kita tidak akan pernah sanggup memproduksi ketekunan ini hanya dengan mengandalkan sisa-sisa tenaga emosional kita yang sudah terkuras habis. Paulus menegaskan bahwa daya tahan ini murni bersumber dari “kuasa kemuliaan-Nya”, sebuah pasokan anugerah yang tidak ada batasnya. Ketika kita jujur mengakui kelemahan kita dan mengundang Roh Kudus untuk mengambil kendali, Ia mulai mengubah cara kita merespons setiap tekanan.
Kita perlahan belajar untuk tidak lagi bereaksi secara impulsif atau meledak-ledak saat situasi tidak berjalan sesuai rencana. Jika kita mengarahkan pandangan kepada Kristus, kita menemukan teladan sekaligus sumber kekuatan yang paling sempurna tentang arti kesabaran. Di taman Getsemani hingga memikul salib ke Golgota, Yesus menanggung beban kesesakan yang luar biasa berat dengan ketaatan penuh.
Ia sama sekali tidak memanggil pasukan malaikat untuk mengakhiri penderitaan-Nya saat itu juga, melainkan memilih untuk bertahan menenggak cawan murka Allah demi kasih-Nya kepada kita. Kesabaran yang kita usahakan hari ini sebenarnya hanyalah sebuah pantulan kecil dari kesabaran Kristus yang telah lebih dulu menebus kita. Mengetahui bahwa kita diselamatkan oleh Tuhan yang sangat sabar, memberikan kita keberanian untuk ikut bersabar menghadapi dunia yang belum sempurna ini.
Malam ini, ketika kita bersiap untuk merebahkan diri dan menutup hari, mari kita lepaskan sejenak segala ketegangan untuk mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita. Mungkin esok pagi masalah yang sama persis masih duduk diam menunggu kita di meja kerja atau di ruang keluarga. Alih-alih merasa gentar dan dihabisi oleh kekhawatiran, kita bisa datang kepada-Nya untuk mengisi kembali tangki kesabaran kita yang kosong.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.