Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Sangat mudah bagi kita untuk mengeluh saat terjebak dalam kemacetan yang seolah tidak berujung di tengah bisingnya klakson dan asap knalpot. Jari kita pun dengan cepat menggulir layar ponsel, membaca rentetan berita tentang korupsi, ketidakadilan hukum, atau kebijakan yang terasa mencekik leher rakyat kecil. Dalam momen-momen seperti itu, rasa sinis perlahan merayap masuk ke dalam pikiran. Kita mulai merasa pesimis dengan masa depan bangsa ini. Rasanya lebih masuk akal untuk sekadar menutup pintu rapat-rapat, mengamankan finansial keluarga sendiri, dan membiarkan dunia di luar sana hancur lebur sesuka hatinya.
Keinginan untuk apatis dan menarik diri dari realitas sosial adalah respons yang sangat wajar ketika kita merasa lelah. Kita merasa seperti orang asing di rumah sendiri saat melihat nilai-nilai kejujuran terus ditabrak. Mengapa kita harus repot-repot memikirkan kemajuan lingkungan atau negara yang tampaknya enggan untuk berubah? Membangun tembok perlindungan pribadi dan bersikap masa bodoh terasa jauh lebih aman daripada terus-menerus patah hati melihat kondisi ibu pertiwi. Namun, di tengah keputusasaan kolektif inilah, firman Tuhan datang menyapa kita dengan cara yang sangat tidak terduga.
Bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel juga merasakan muak dan benci yang jauh lebih pekat. Babel bukanlah tanah air mereka; itu adalah negara jajahan yang kejam, penyembah berhala, dan tempat yang telah merenggut paksa kebebasan mereka. Nabi-nabi palsu saat itu membisikkan janji manis bahwa penderitaan itu hanya sebentar dan Tuhan akan segera menghancurkan Babel. Mereka diajak untuk bersikap eksklusif dan menolak membaur. Namun, melalui suratnya, Nabi Yeremia justru menyampaikan pesan Tuhan yang memorak-porandakan ekspektasi keagamaan mereka.
Tuhan menyuruh mereka untuk membongkar koper, membangun rumah, membuat kebun, dan bahkan mencari kesejahteraan bagi Babel. Kata “kesejahteraan” yang digunakan di sini adalah shalom, yang bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan sebuah kondisi utuh di mana segala sesuatu berkembang dan berfungsi sebagaimana mestinya. Bapa Gereja Agustinus dari Hippo pernah merefleksikan prinsip ini, bahwa selama kita masih berziarah di bumi, kita memiliki tanggung jawab moral untuk merawat kedamaian kota tempat kita bernaung. Kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat, bahkan di tengah sistem yang bobrok sekalipun.
Mengusahakan kesejahteraan sebuah kota yang menindas tentu terdengar mustahil jika kita mengandalkan kebesaran hati kita sendiri. Kita hanya bisa melakukannya jika kita merenungkan apa yang telah Kristus lakukan bagi kita. Bumi tempat kita berpijak ini dulunya adalah wilayah yang memberontak dan memusuhi Allah. Namun, Kristus tidak memalingkan wajah-Nya atau membiarkan kita hancur dalam dosa. Ia justru turun, berinkarnasi menjadi manusia, dan “membuang” diri-Nya ke dalam dunia yang rusak ini. Ia mengusahakan shalom bagi kita dengan membiarkan tubuh-Nya sendiri dihancurkan di luar tembok kota Yerusalem.
Kasih karunia inilah yang mengubah cara pandang kita terhadap bangsa dan negara ini. Kita tidak mencintai Indonesia karena infrastrukturnya sudah sempurna atau karena para pemimpinnya tanpa cela. Kita mencintai dan melayani kota ini karena kita menyadari bahwa kita pun adalah pendosa yang telah lebih dulu diselamatkan dan dipulihkan oleh rahmat Tuhan. Ketika belas kasihan Kristus memenuhi hati kita, sifat sinis dan apatis perlahan mencair. Kita mulai melihat lingkungan sekitar kita, seberantakan apa pun itu, sebagai ladang di mana benih-benih kasih Allah dapat kita taburkan.
Mengusahakan kesejahteraan kota tidak selalu berarti kita harus menjadi tokoh politik besar atau melakukan aksi heroik yang diliput media. Panggilan ini sering kali mengambil bentuk yang paling sunyi dan membumi dalam keseharian kita. Itu bisa berupa keputusan untuk membuang sampah pada tempatnya agar selokan lingkungan tidak mampet saat hujan. Itu mewujud saat kita menjalankan pekerjaan kantor dengan jujur tanpa mengambil celah suap, atau ketika kita membayar pajak dengan setia meski kita tahu sistemnya belum sempurna. Tindakan-tindakan kecil yang lahir dari integritas ini adalah wujud doa nyata kita bagi kesejahteraan bangsa.
Kita tidak pernah tahu seberapa jauh riak kebaikan kecil kita akan menyebar dan membawa kelegaan bagi orang lain di kota ini. Tugas kita hanyalah setia menabur terang di sudut-sudut gelap yang Tuhan percayakan kepada kita, seraya menantikan kedatangan Kota Allah yang sejati kelak.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.