Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Pagi tadi, sebelum saya sempat mengumpulkan nyawa sepenuhnya di meja makan, rentetan notifikasi dari grup pekerjaan sudah membombardir layar ponsel tanpa ampun. Di luar jendela, suara mesin kendaraan dan klakson bersahutan, seakan menambah bisingnya isi kepala yang sudah penat sejak semalam. Dalam perjalanan menuju tempat aktivitas, saya melihat hampir semua orang di dalam kereta komuter menyumbat telinga mereka dengan pelantang suara. Kita seolah sedang berusaha menenggelamkan satu kebisingan dengan kebisingan lainnya, takut menghadapi keheningan karena di sanalah segala kecemasan dan rasa tidak aman kita biasanya mulai berbicara lantang.
Hidup dalam rutinitas yang serba cepat dan menuntut ini sering kali membuat kita kehilangan kepekaan rohani. Saat dihadapkan pada persimpangan jalan yang sulit, entah itu menyangkut pilihan karier, masalah keuangan, atau penyelesaian konflik keluarga, kita mendadak sangat merindukan petunjuk dari Tuhan. Kita memohon agar Dia memberikan tanda yang jelas, sebuah suara yang menggelegar dari langit, atau setidaknya pesan instan yang memberi tahu kita harus melangkah ke kanan atau ke kiri. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya, langit terasa bisu dan doa-doa kita seakan menguap begitu saja ke udara kosong. Perasaan diabaikan ini perlahan menumbuhkan keraguan, membuat kita bertanya-tanya apakah Tuhan sungguh peduli pada kebingungan yang sedang mengimpit dada kita.
Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang sangat lekat dengan keseharian masyarakat Timur Tengah pada abad pertama untuk menjawab kegelisahan semacam ini. Di masa itu, padang rumput adalah tempat bertemunya banyak kawanan domba dari berbagai gembala yang berbeda. Saat malam tiba, domba-domba tersebut sering kali dicampur dalam satu kandang komunal yang besar agar lebih aman dari serangan hewan buas. Keajaiban terjadi pada keesokan harinya ketika para gembala datang untuk menjemput kawanan mereka. Sang gembala tidak perlu masuk dan menarik dombanya satu per satu secara paksa; ia hanya perlu berdiri di pintu kandang dan memperdengarkan suara panggilan khasnya.
Domba-dombanya akan segera memisahkan diri dari kerumunan dan mengikuti arah suara tersebut, bukan karena suara itu yang paling keras, melainkan karena suara itu yang paling familier bagi telinga mereka. Kata Yunani yang digunakan Yesus untuk “mendengarkan” di sini adalah akouousin, yang bentuk waktunya menyiratkan sebuah tindakan mendengarkan yang berlangsung terus-menerus dan berkelanjutan. Mengenali suara Sang Gembala bukanlah sebuah keahlian instan yang turun dari langit dalam satu malam. Kepekaan itu terbangun dari waktu yang dihabiskan bersama secara intens, sebuah keakraban yang tumbuh dari pengalaman digembalakan, diberi makan, dan dijaga dari bahaya hari demi hari.
Hal ini menampar kecenderungan kita yang sering kali hanya datang mencari suara Tuhan saat kita sedang terjepit masalah atau membutuhkan solusi kilat. Kita memperlakukan Tuhan seperti mesin pencari di internet, mengharapkan jawaban akurat dalam hitungan detik tanpa peduli untuk membangun keintiman dengan Sang Pemberi Jawaban. Bapa-bapa Gereja terdahulu memahami betul bahwa telinga batin manusia membutuhkan latihan untuk bisa membedakan mana dorongan dari Roh Kudus dan mana bisikan dari ego sendiri yang dibungkus dengan ayat agama. Mereka mempraktikkan apa yang disebut sebagai hesychia atau keheningan batin, sebuah disiplin untuk secara sengaja mematikan gangguan dari luar agar bisa berfokus pada kehadiran ilahi di dalam diri.
Tentu saja, bagi kita yang hidup dengan jadwal padat, mempraktikkan keheningan ini rasanya nyaris mustahil. Namun, berjalan bersama Roh Kudus tidak selalu menuntut kita untuk mengasingkan diri ke tempat sunyi. Kepekaan itu bisa dilatih tepat di tengah hiruk-pikuk keseharian kita. Ketika kita mulai terbiasa mengisi pikiran kita dengan kebenaran firman-Nya, Roh Kudus akan mengambil firman tersebut dan menjadikannya filter bagi setiap keputusan kita. Ia menolong kita membedakan karakter suara-suara yang berlomba menguasai pikiran kita, sebab suara Sang Gembala memiliki ciri khas yang tidak bisa dipalsukan oleh pencuri.
Suara yang bukan dari Tuhan biasanya datang dengan membawa kepanikan, rasa bersalah yang melumpuhkan, serta ketergesaan yang memaksa kita bertindak impulsif. Sebaliknya, saat Roh Kudus berbicara dan menuntun batin kita, meskipun arahan tersebut mungkin tidak nyaman atau menuntut pengorbanan, Ia selalu membawa serta damai sejahtera yang melampaui akal. Ia meyakinkan kita bukan dengan ancaman, melainkan dengan tarikan kasih. Sama seperti Kristus yang rela menyerahkan nyawa-Nya di atas salib, suara Roh-Nya akan selalu menuntun kita pada jalan kerendahan hati, pengampunan, dan keberanian untuk menanggung salib keseharian kita.
Terkadang, suara itu mewujud dalam bentuk teguran halus saat kita hendak membalas pesan rekan kerja dengan kalimat yang tajam. Di waktu lain, suara itu berupa dorongan kuat yang tidak bisa dijelaskan untuk mendoakan seorang kerabat yang tiba-tiba melintas di pikiran kita. Hal-hal kecil dan sederhana inilah yang menjadi bukti nyata bahwa Allah tidak pernah berhenti berkomunikasi dengan kita. Kitalah yang sering kali terlalu sibuk berbicara dan mengeluh, sehingga lupa menyediakan ruang sejenak untuk mendengarkan.
Kepekaan untuk mendengar suara-Nya murni adalah karya kasih karunia, bukan sekadar hasil teknik meditasi kita. Sang Gembala Yang Baik sangat memahami bahwa telinga kita sering kali tuli oleh ketakutan, dan langkah kita mudah tersesat oleh godaan dunia. Namun Ia tidak pernah lelah memanggil nama kita berulang kali sampai kita mengenali-Nya. Bahkan ketika kita salah mengambil keputusan karena keliru menafsirkan kehendak-Nya, tongkat dan gada-Nya siap untuk mengarahkan kita kembali dengan penuh belas kasih.
Hari ini, di sela-sela waktu istirahat siang atau saat berada di dalam kendaraan umum, cobalah mematikan sejenak segala sumber kebisingan buatan di sekitar Anda. Berikan waktu bagi jiwa Anda untuk bernapas dan kembali menyadari bahwa Sang Gembala sedang berjalan tepat di samping Anda.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.