Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Keberanian Bersaksi Lewat Kerapuhan Kita

Keberanian Bersaksi Lewat Kerapuhan Kita

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
44
4
0
0

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1:8 (TB)

Suatu siang di pantri kantor, seorang rekan kerja tiba-tiba mencurahkan isi hatinya tentang rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk. Sambil mengaduk kopi yang mulai dingin, lidah saya terasa kelu dan bingung harus merespons apa. Ada dorongan kecil di hati untuk menceritakan bagaimana Tuhan pernah memulihkan keluarga saya, tetapi rasa minder buru-buru membungkam niat itu. Saya merasa hidup saya sendiri masih berantakan, sehingga rasanya terlalu munafik untuk tiba-tiba berbicara soal kebaikan Tuhan kepadanya.

Kegelisahan semacam ini sangat wajar menghantui kita saat dihadapkan pada kesempatan untuk membagikan iman di ruang publik. Kita sering mengira bahwa kata “bersaksi” menuntut kita untuk memiliki hidup yang sudah rapi tanpa cela secara finansial maupun emosional. Bayangan kita tentang seorang saksi Kristus sering kali terpaku pada figur pendeta yang pandai berkhotbah atau aktivis rohani yang fasih merangkai ayat. Akibatnya, kita memilih diam seribu bahasa karena merasa tidak memenuhi standar kesucian yang kita buat sendiri.

Padahal, jika kita menengok kembali kepada siapa Yesus mengucapkan janji ini, kita akan menemukan sekelompok orang yang rekam jejaknya jauh dari kata sempurna. Murid-murid yang berdiri di bukit Zaitun itu adalah orang-orang yang sama, yang beberapa minggu sebelumnya lari ketakutan dan menyangkal Yesus saat Ia ditangkap. Mereka dipenuhi dengan keraguan, trauma masa lalu, dan ambisi pribadi yang masih sering berbenturan satu sama lain. Namun justru kepada kumpulan manusia yang rapuh inilah Yesus mempercayakan misi terbesar dalam sejarah penebusan umat manusia.

Yesus sangat tahu bahwa mereka tidak akan pernah mampu menjalankan tugas ini jika hanya mengandalkan tekad moral belaka. Itulah sebabnya Ia menjanjikan kuasa, yang dalam bahasa aslinya disebut dunamis. Kata ini tidak merujuk pada kekuatan ajaib untuk memanipulasi keadaan, melainkan sebuah suplai energi ilahi yang memampukan seseorang melakukan hal melampaui kapasitas naturalnya. Kuasa inilah yang kelak mengubah Petrus, seorang nelayan impulsif penakut, menjadi saksi yang berani berdiri membagikan kebenaran di tengah ancaman.

Bapa-bapa Gereja sejak awal memahami bahwa menjadi saksi, yang diterjemahkan dari kata Yunani martys, erat kaitannya dengan kesediaan untuk memikul salib. Menjadi saksi bukan sekadar soal memenangkan perdebatan teologi di media sosial atau memaksa orang lain menyetujui doktrin kita. Kesaksian selalu mengalir dari perjumpaan pribadi yang otentik antara manusia berdosa dengan anugerah Allah. Kita pada dasarnya hanya diminta untuk menceritakan dengan jujur apa yang telah kita alami tentang kasih Kristus di tengah kehancuran kita.

Kuasa Roh Kudus secara aktif membebaskan kita dari beban berat untuk mengubah hati orang lain, karena pertobatan murni merupakan wilayah kerja-Nya. Bagian kita hanyalah bersedia menjadi talang yang menyalurkan penghiburan-Nya kepada orang-orang terdekat yang sedang kelelahan. Terkadang, kesaksian yang paling bersuara keras justru sama sekali tidak melibatkan banyak jargon rohani. Ia mewujud secara sunyi ketika kita menolak ikut menggunjingkan atasan, atau saat kita memilih memaafkan rekan yang menjatuhkan karier kita.

Kehadiran Kristus sering kali paling mudah diraba oleh dunia melalui kerendahan hati kita dalam mengakui kesalahan. Ketika lingkungan menuntut kita untuk selalu tampil kuat dan sukses, keberanian membagikan pergumulan iman secara jujur justru menjadi daya tarik yang melegakan. Orang-orang di sekitar kita yang sedang penat tidak mencari sosok pahlawan tanpa cacat untuk dijadikan panutan. Mereka hanya mencari bukti nyata bahwa ada Tuhan yang mau menemani dan menopang manusia biasa yang penuh luka seperti mereka.

Kita tidak perlu menunggu seluruh masalah utang selesai atau emosi kita stabil seratus persen untuk mulai menceritakan kesetiaan Tuhan. Roh Kudus justru sangat gemar memakai bejana yang retak agar terang kemuliaan Kristus dapat memancar keluar dari celah-celahnya dengan lebih benderang. Setiap kali kita memilih untuk tetap bergantung pada kasih karunia-Nya di tengah jalan buntu, kita sebenarnya sedang menjadi saksi hidup bagi dunia yang kehilangan arah.

Malam ini, biarlah kita melepaskan segala perasaan tidak layak yang selama ini menahan lidah kita untuk menceritakan kebaikan-Nya. Kita tidak dipanggil untuk menjadi pengacara hebat yang membela Tuhan, melainkan saksi mata yang menceritakan karya penebusan-Nya.

Tuhan Yesus, ampuni kami yang sering kali malu dan merasa terlalu kerdil untuk menceritakan anugerah-Mu kepada sesama yang membutuhkan harapan. Penuhi bejana hati kami yang retak ini dengan kuasa Roh Kudus-Mu, agar besok kami dimampukan untuk membagikan kasih-Mu melalui setiap perkataan dan tindakan kami yang sederhana.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa