Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Ada masa ketika membuka berita tentang pemimpin bangsa membuat kita langsung menarik napas panjang. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi justru karena terlalu banyak hal yang membuat kecewa. Kita melihat keputusan yang tidak kita mengerti, mendengar berita tentang penyalahgunaan kekuasaan, menyaksikan perdebatan politik yang melelahkan, lalu diam-diam bertanya, “Masih perlukah saya berdoa untuk mereka?”
Pertanyaan itu mungkin lebih jujur daripada yang berani kita akui.
Kita bisa tetap datang ke gereja, menyanyikan lagu pujian, dan berdoa bagi keluarga. Tetapi ketika sampai pada doa untuk pemimpin, hati kita mendadak kaku. Ada nama-nama tertentu yang sulit kita sebut dengan tulus di hadapan Tuhan karena kita tidak setuju dengan keputusan, sikap, atau kebijakan mereka.
Justru di ruang batin seperti inilah 1 Timotius 2:1–2 berbicara dengan kuat. Paulus meminta Timotius agar jemaat menempatkan permohonan, doa, doa syafaat, dan ucapan syukur bagi semua orang sebagai sesuatu yang penting, kemudian secara khusus menyebut “raja-raja dan semua pembesar.”
Perintah itu terasa biasa bagi kita karena berdoa bagi pemerintah sudah menjadi bagian dari kehidupan gereja. Namun bagi jemaat mula-mula, perintah ini bukan perkara kecil. Mereka hidup di bawah pemerintahan Romawi, dan dunia politik mereka tidak selalu ramah kepada orang percaya. Tradisi penafsiran sejak masa awal juga menunjukkan bahwa doa bagi para penguasa merupakan bagian dari kehidupan gereja.
Dengan kata lain, Paulus tidak sedang berbicara kepada orang-orang yang selalu merasa nyaman dengan pemerintah.
Ia justru mengajar gereja untuk membawa orang-orang yang memiliki kuasa ke hadapan Allah.
Ini penting karena kita sering mengira bahwa berdoa untuk seorang pemimpin berarti kita menyetujui pemimpin tersebut. Padahal keduanya tidak sama.
Kita dapat mengkritik sebuah kebijakan dan tetap berdoa bagi orang yang membuat kebijakan itu. Kita dapat meminta keadilan ketika terjadi kesalahan dan sekaligus memohon agar Tuhan memberikan hikmat kepada orang yang memiliki wewenang. Kita dapat berharap adanya perubahan tanpa menjadikan kebencian kepada seseorang sebagai sumber kehidupan kita.
Doa untuk pemimpin membebaskan kita dari ilusi bahwa nasib bangsa sepenuhnya berada di tangan manusia.
Bukan berarti pemerintah tidak penting. Pemerintah memiliki kewenangan nyata dan keputusan mereka dapat memengaruhi pekerjaan, pendidikan, keamanan, ekonomi, kebebasan beragama, bahkan kehidupan keluarga kita. Karena itu, doa bagi pemerintah bukan bentuk sikap masa bodoh terhadap keadaan bangsa.
Justru sebaliknya.
Kita berdoa karena kita sadar bahwa kekuasaan manusia memiliki batas.
Paulus kemudian memberikan alasan mengapa gereja perlu mendoakan para pemimpin: “supaya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” Tujuannya bukan sekadar agar orang hidup nyaman. Dalam konteks 1 Timotius 2:1–7, kehidupan yang tenang berkaitan dengan ruang bagi umat Tuhan untuk menjalani kehidupan yang saleh dan kesaksian Injil untuk terus disampaikan.
Di sinilah doa bagi pemimpin mendapatkan arah yang lebih dalam.
Kita tidak berdoa supaya pemerintah menjadi alat untuk memenuhi semua keinginan kita. Kita berdoa agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik sehingga manusia dapat hidup dengan damai, gereja dapat menjalankan panggilannya, dan kebaikan dapat berkembang di tengah masyarakat.
Karena itu, doa bagi pemerintah seharusnya tidak hanya berisi permintaan agar pemimpin “sukses”.
Kita dapat meminta Tuhan memberi mereka hikmat ketika mengambil keputusan. Kita dapat berdoa agar mereka memiliki keberanian untuk menegakkan hukum dengan adil. Kita dapat memohon agar mereka tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak menutup mata terhadap penderitaan masyarakat, dan tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran ketika mengambil keputusan.
Kita juga dapat mendoakan keluarga mereka, kesehatan mereka, keselamatan mereka, serta orang-orang yang memberi nasihat kepada mereka.
Dan ada satu hal yang mungkin paling sulit: kita dapat mendoakan mereka ketika kita tidak menyukai mereka.
Di situlah doa mulai mengubah kita.
Yesus sendiri mengajar murid-murid-Nya untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Doa bukan sekadar alat untuk meminta Tuhan mengubah orang lain sesuai keinginan kita. Dalam doa, Tuhan juga membentuk hati orang yang berdoa.
Kita datang kepada Tuhan dengan kemarahan, lalu belajar menyerahkannya.
Kita datang dengan kecurigaan, lalu meminta hikmat.
Kita datang dengan rasa kecewa, lalu mengingat bahwa pemerintahan manusia bukanlah kerajaan terakhir.
Bagi orang percaya harapan kita tidak pernah bertumpu sepenuhnya pada siapa yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
Ada alasan yang jauh lebih dalam untuk memiliki pengharapan. Paulus melanjutkan pembahasan tentang doa bagi semua orang dengan menyatakan bahwa Allah adalah Juruselamat dan bahwa ada satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus, yang memberikan diri-Nya bagi manusia.
Ini mengubah cara kita memandang politik dan pemerintahan.
Kristus adalah Raja yang tidak dapat digantikan oleh presiden, perdana menteri, parlemen, atau siapa pun yang memegang jabatan publik. Pemimpin bangsa dapat berganti. Kebijakan dapat berubah. Popularitas dapat naik dan turun.
Tetapi keselamatan kita tidak pernah bergantung pada pergantian kekuasaan.
Karena itu, orang tidak perlu menjadikan politik sebagai sumber keselamatan. Kita boleh peduli pada bangsa tanpa menjadikan seorang tokoh sebagai penyelamat. Kita boleh terlibat dalam kehidupan masyarakat tanpa memberikan kepada pemimpin manusia tempat yang hanya layak bagi Kristus.
Sikap ini juga menjaga kita dari dua ekstrem.
Di satu sisi, kita bisa menjadi apatis: “Percuma berbuat apa-apa. Toh semuanya sudah ditentukan oleh orang-orang berkuasa.”
Di sisi lain, kita bisa menjadi begitu terikat pada politik sampai damai kita bergantung pada siapa yang menang, siapa yang kalah, atau siapa yang sedang memegang jabatan.
Injil membawa kita ke tempat yang berbeda.
Kita peduli, tetapi tidak diperbudak oleh kecemasan politik.
Kita bersuara, tetapi tidak kehilangan kasih.
Kita mengkritik ketidakadilan, tetapi tidak memelihara kebencian.
Kita mendoakan pemimpin, tetapi tidak menyembah pemimpin.
Mungkin ini yang perlu kita bawa ketika berdoa bagi Indonesia.
Bukan hanya, “Tuhan, berkati pemerintah kami.”
Doa itu bisa menjadi jauh lebih konkret.
“Tuhan, beri hikmat kepada mereka ketika mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan banyak orang. Jaga hati mereka dari keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan. Berikan keberanian untuk membela mereka yang lemah. Berikan penasihat yang bijaksana. Tolong mereka menghormati hukum dan memperhatikan rakyat yang suaranya jarang terdengar.”
Lalu kita dapat berdoa bagi diri sendiri.
“Tuhan, jangan biarkan kekecewaan membuat kami menjadi sinis. Jangan biarkan perbedaan pilihan politik membuat kami kehilangan kasih kepada sesama. Ajarlah kami menjadi warga negara yang jujur, bertanggung jawab, dan membawa damai.”
Sebab kita juga memiliki bagian dalam kehidupan bangsa ini.
Kita mungkin bukan pejabat. Kita mungkin tidak berada di ruang pengambilan keputusan. Kita mungkin merasa suara kita terlalu kecil.
Tetapi kita tetap bisa menjadi manusia yang jujur di tempat kerja, membayar apa yang menjadi tanggung jawab kita, menolak korupsi meskipun kesempatan terbuka, memperlakukan orang lain dengan adil, menolong tetangga yang kesulitan, dan tidak ikut menyebarkan kebencian.
Doa dan kehidupan tidak seharusnya dipisahkan.
Ketika kita berdoa agar negeri mengalami damai sejahtera, kehidupan kita juga dipanggil untuk mencerminkan damai itu. Ketika kita meminta pemimpin berlaku adil, kita belajar memeriksa apakah kita sendiri memperlakukan orang lain dengan adil. Ketika kita meminta kesejahteraan bangsa, kita tidak lagi melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kita.
Inilah bagian dari panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa.
Bukan dengan merasa diri lebih baik daripada orang lain. Bukan dengan memenangkan semua perdebatan. Bukan pula dengan berpura-pura bahwa keadaan negeri selalu baik-baik saja.
Kita menjadi terang ketika kasih Kristus terlihat dalam cara kita hidup.
Dan mungkin malam ini kita perlu mengingat bahwa kita tidak harus menunggu sampai menyukai seorang pemimpin untuk mulai mendoakannya.
Kita dapat datang kepada Tuhan apa adanya.
Dengan kecewa. Dengan pertanyaan. Dengan ketakutan tentang masa depan bangsa. Bahkan dengan kemarahan yang belum selesai.
Lalu kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang tetap berdaulat.
Doa untuk pemimpin bukan berarti kita menutup mata terhadap kesalahan. Doa berarti kita memilih untuk membawa bangsa ini kepada Allah, sambil tetap melakukan bagian kita dengan jujur dan penuh kasih. Doa bagi pemerintah, kepedulian terhadap pemimpin bangsa, dan kerinduan akan damai sejahtera bukanlah tanda bahwa kita kehilangan sikap kritis; justru semuanya dapat lahir dari keyakinan bahwa masa depan bangsa tidak berada di tangan manusia saja.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.