Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Menyembah Elohim
Kita akan membahas sedikit mengenai makna dari ‘menyembah Elohim’. Tema ini cukup menarik karena dalam dunia kekristenan telah banyak dibahas terkait soal penyembahan, baik cara-cara penyembahan, bagaimana kondisi hati seorang penyembah itu seharusnya, dan sebagainya. Bahkan, ditegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan itu adalah untuk menyembah Elohim. Banyak juga pengajar Alkitab yang berkata bahwa kelak di surga kita akan menyembah Tuhan selama-lamanya.
Mari kita mulai pembahasan kita dengan istilah Ibrani dan juga Yunani yang sering diterjemahkan sebagai penyembahan (worship). Dalam Perjanjian Lama, istilah yang sering diterjemahkan ‘penyembahan/menyembah’ adalah ‘shachah’, yang berarti ‘sujud’ (to bow down), dan juga berarti ‘merendahkan diri yang disebabkan rasa hormat’. Kemudian, ada lagi satu istilah Ibrani, ‘asab’, yang bermakna ‘melayani’ (to serve), di mana kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai ‘penyembahan’ (worship).
Dalam Perjanjian Baru, ada beberapa istilah Yunani yang diterjemahkan ‘worship’, yaitu ‘latreuo’ dan ‘sebomai’. Namun yang sering muncul dan diterjemahkan ‘worship’ dalam Perjanjian Baru adalah ‘proskuneo’, yang bermakna ‘sujud’ (to bow down). Dalam Septuaginta, istilah Ibrani ‘shachah’ diterjemahkan menjadi ‘proskuneo’. Kedua istilah inilah, yaitu ‘shachah’ (Ibrani) dan ‘proskuneo’ (Yunani) yang sama-sama berarti ‘sujud’, yang akan kita bahas untuk membangun makna sesungguhnya dari menyembah Elohim itu.
Prinsip Penyebutan Pertama Kali
Untuk memahami makna suatu istilah, kita perlu melihat kemunculan pertama dari istilah itu di dalam Alkitab. Dalam Hermeneutik, prinsip ini disebut ‘penyebutan pertama kali’ (first mention principle). Prinsip ini menegaskan bahwa kali pertama suatu istilah muncul di dalam Alkitab mengandung arti yang akan tetap sama di seluruh Alkitab. Maksudnya, arti pertama dari suatu istilah tidak boleh dihilangkan. Karenanya, arti lain dari kemunculan-kemunculan berikutnya hanya boleh ‘ditambahkan’ kepada arti yang pertama kali, dan tidak boleh menghilangkan atau menghapus arti dari kemunculan pertama tadi.
Kemunculan pertama kali istilah Ibrani ‘shachah’ terjadi dalam kasus Abraham mempersembahkan Ishak (Kejadian 22). Ayat 5 menegaskan, “Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang (SHACHAH)…”
Kita tahu cerita selanjutnya bagaimana Abraham menjalankan ‘shachah’ (worship) kepada Elohim. Abraham tidak menyanyikan suatu lagu penyembahan seperti yang biasa kita pahami kalau seseorang menyembah Tuhan. Sama sekali tidak ada “ritual-ritual kebaktian” yang dilakukan Abraham. Yang dilakukan Abraham adalah mendirikan mezbah, menyusun kayu, mengikat Ishak, serta meletakkan Ishak di atas mezbah itu, lalu siap menyembelih Ishak dengan pisau di tangannya.
Seandainya Malaikat TUHAN tidak menghentikan Abraham, maka sudah pasti ‘shachah’-nya Abraham adalah mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran sesuai perintah Tuhan. Dari kasus kemunculan pertama istilah ‘shachah’ ini, jelas bahwa menyembah Elohim sama sekali tidak terkait dengan menyanyi, atau melakukan ritual-ritual kebaktian tertentu, melainkan makna dari ‘shachah’ (worship) adalah mempersembahkan “Ishak” kita sesuai perintah dan pimpinan Tuhan.
Mempersembahkan “Ishak” sebagai Tindakan Iman
Mari kita memperjelas makna dasar dari ‘shachah’ dalam kasus Abraham. Salah satu peraturan emas dalam memahami suatu istilah adalah memperhatikan bagaimana istilah itu digunakan dalam suatu kalimat. Artinya, kita harus sangat memperhatikan konteks dari istilah itu, baik konteks dekat, jauh, maupun konteks sejarah dan perjanjian.
Ada beberapa fakta yang perlu kita perhatikan. Pertama, orang-orang pada zaman Abraham sudah biasa mempersembahkan anak mereka kepada suatu ilah yang mereka sembah, biasanya anak yang masih bayi. Jadi, ketika Tuhan meminta Abraham mempersembahkan Ishak, Abraham tidak memiliki ‘perasaan dan pergumulan’ seperti yang dialami para bapa di zaman ini jika diminta mempersembahkan anak mereka.
Kedua, fakta ini bukan berarti Abraham dapat dengan mudah menaati perintah Tuhan. Ibrani 11:19 menegaskan, “karena menganggap bahwa Elohim itu sanggup untuk membangkitkan pula dari antara yang mati…” (ILT). Juga Kejadian 22:12 menyatakan, “… Aku telah mengetahui bahwa engkau seorang yang takut akan Elohim, dan engkau tidak menahan anak laki-lakimu, anak tunggalmu, dari Aku” (ILT).
Jadi, Abraham dapat mempersembahkan Ishak karena ia telah diproses sedemikian rupa, sehingga ia menjadi seorang yang takut akan Elohim, memiliki pengenalan, pengabdian, serta iman bahwa Elohim sanggup membangkitkan Ishak dari kematian. Diperlukan kasih karunia bagi orang-orang percaya untuk diproses, sehingga mereka dapat menjalankan ‘shachah’, dalam arti mempersembahkan “Ishak” mereka.
Ketiga, perbuatan Abraham mempersembahkan Ishak merupakan ‘perbuatan yang lahir dari iman’. Yakobus 2:21 menyatakan, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Ayat ini seolah-olah bertentangan dengan pernyataan Paulus bahwa kita dibenarkan semata-mata oleh iman. Sebenarnya, Paulus dan Yakobus saling melengkapi jika kita memahami Roma 1:17: “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’.”
Ungkapan ‘dari iman dan memimpin kepada iman’ (from faith to faith) berasal dari ungkapan Yunani ‘ek pisteos eis pistin’. Mari kita mengutip komentar Marvin Vincent: ‘the idea is that of progress in faith itself… faith is a progressive principle’. Jadi, iman adalah sesuatu yang bertumbuh. Iman yang tidak bertumbuh dan berkemajuan adalah iman yang mati, dan ini bukan iman yang menyelamatkan seperti yang dimaksud Paulus.
Yakobus menegaskan, “…iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:22). Perbuatan yang dimaksud di sini adalah perbuatan yang lahir dari iman. Karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa iman menimbulkan ketaatan, dan pada gilirannya ketaatan itu akan menyempurnakan iman.
Jadi, makna dasar dari ‘shachah’ adalah suatu perbuatan yang lahir dari iman dalam mempersembahkan “Ishak” kita sesuai perintah dan pimpinan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat penyembahan itu. Jika seseorang belum memahami esensi ini, maka ia dapat dengan mudah jatuh ke dalam ‘bentuk-bentuk’ atau ‘ritual’ penyembahan, dan melakukannya di luar iman.
Penyembahan Sebagai Gaya Hidup
Sesungguhnya, ‘shachah’ bukanlah suatu tindakan sesaat saja dalam waktu dan tempat tertentu. Orang benar itu hidup oleh iman secara terus-menerus. Jadi, ‘shachah’ itu merupakan gaya hidup orang percaya.
Kita harus sangat membedakan ‘esensi’ dan ‘bentuk-bentuk luaran’ penyembahan. Perhatikan nubuat Paulus terhadap orang-orang Kristen akhir zaman dalam II Timotius 3:5, “sambil mengenakan suatu bentuk kesalehan tetapi telah memungkiri kuasanya…” (ILT). Istilah Yunani ‘morphosis’ (bentuk) sebenarnya berarti ‘penampilan luaran’. Pada zaman akhir, banyak orang Kristen menjalankan penyembahan kepada Elohim dalam ‘penampilan luarannya’ saja.
Hal ini terjadi karena kekristenan telah jatuh sejak Paulus menubuatkan adanya serigala ganas yang menarik murid-murid Tuhan dari pimpinan Roh Kudus menjadi sekadar pengikut pemimpin agama (Kisah Para Rasul 20:28-30). Para pemimpin gereja mulai membuat ‘aturan-aturan agamawi’, seperti harus datang hari Minggu ke gedung tertentu, menjalankan ritual, membayar persepuluhan, dan sebagainya.
Murid-murid Tuhan tidak lagi mengikuti pimpinan Roh Kudus hari lepas hari sebagaimana gereja mula-mula. Dalam dunia kekristenan modern, penyembahan sudah diatur dalam suatu kebaktian dengan musik, MC, singers, dan sebagainya. Ini adalah penyembahan ‘bentuk luarnya’. Tetapi, umat yang mengikuti Anak Domba akan menjalankan esensi penyembahan, yaitu gaya hidup ‘mempersembahkan Ishak’ dengan iman.
Shachah dalam Konteks Perjanjian Lama
Ada beberapa pengertian tambahan ‘shachah’ dalam Perjanjian Lama. Pertama, larangan keras untuk ‘shachah’ kepada ilah lain, yang dianggap sebagai perzinahan rohani (Keluaran 34:14). Kedua, ‘shachah’ dalam Perjanjian Lama terkait dengan tempat tertentu. Sejak Kemah Suci didirikan, ibadah harus dilakukan di sana, seperti kasus Elkana dan Hana yang pergi ke Silo (I Samuel 1:3). Namun kelak, Yesus membatalkan aturan tempat ini ketika berbicara dengan perempuan Samaria.
Ketiga, ‘shachah’ tidak dapat dipisahkan dari perilaku sehari-hari. Nabi Yeremia menegur keras orang Yehuda yang datang ‘shachah’ di Bait Suci tetapi dalam kesehariannya mereka menindas orang miskin dan menyembah berhala (Yeremia 7:1-15). Tuhan menolak penyembahan mereka karena Bait Suci telah menjadi sarang penyamun. Ini membuktikan bahwa bahkan di Perjanjian Lama sekalipun, ibadah harus lahir dari hati yang penuh pengabdian, bukan sekadar ritual luaran.
Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran
Sekarang kita masuk ke dalam pengertian ‘shachah’ di dalam Perjanjian Baru, yang diterjemahkan menjadi ‘proskuneo’. Yohanes 4:23 mencatat perkataan Yesus: “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah (proskuneo) Bapa dalam roh dan kebenaran…”
Marvin R. Vincent menjelaskan bahwa ‘dalam roh’ berarti penyembahan tidak lagi dibatasi oleh tempat atau bentuk ritual lahiriah (ayat 21). Sedangkan ‘dalam kebenaran’ berarti penyembahan harus dilakukan dengan pengenalan yang benar akan Bapa. Istilah ‘kebenaran’ (aletheia) di sini juga berarti ‘realita’. Yesus menyebut diri-Nya sebagai ‘aletheia’ (Yohanes 14:6).
Wujud dari semua simbol dan bayangan dalam Perjanjian Lama adalah Kristus (Kolose 2:17). Dan Kristus yang dimaksud adalah Kristus yang hidup di dalam batin kita sebagai Hayat (zoe) kita (Kolose 1:27). Menyembah dalam ‘realita’ berarti mengikuti pimpinan Kristus yang adalah Hayat kita hari lepas hari.
Itulah sebabnya gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul beribadah sepenuhnya dengan mengikuti pimpinan Roh Kudus secara spontan, tanpa aturan agamawi yang kaku. Yesus maupun para rasul tidak pernah mengajarkan ‘bentuk-bentuk luaran’ ibadah karena semuanya telah digenapi secara sempurna di dalam Pribadi Kristus.
Mengukur Bait Suci dan Esensi Penyembahan
Dalam Kitab Wahyu, Rasul Yohanes melihat gereja sejati disimbolkan sebagai perempuan yang berselubungkan matahari (Wahyu 12:1). Matahari melambangkan Kristus. Ini adalah gambaran gereja yang sepenuhnya hidup dipimpin oleh Kristus, menaklukkan segala bentuk luaran ibadah.
Wahyu 11:1 juga berbicara tentang “mengukur” mereka yang beribadah (proskuneo) di dalam Bait Suci. Gereja akan dinilai kelak: apakah mereka sungguh-sungguh menyembah Elohim yang benar, atau terjebak menyembah ilah-ilah lain (seperti yang dilakukan pengikut ajaran Izebel dan Bileam).
Mengenal Elohim yang benar hanya bisa terjadi jika kita hidup dipimpin oleh ‘zoe’ (Hayat) hari lepas hari (Yohanes 17:3). Bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan bukanlah soal rajin datang ibadah hari Minggu atau melakukan ritual tertentu, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam keseharian kita.
Kesimpulan
Esensi dari menyembah Elohim adalah suatu gaya hidup sehari-hari dalam mempersembahkan “Ishak” kita sesuai pimpinan Tuhan, serta memiliki pengenalan yang benar akan Dia yang kita sembah. Orang Kristen yang menyembah Elohim dalam ‘esensinya’ tidak harus dibatasi oleh rutinitas menyanyi, bermain musik, atau pergi ke gedung tertentu. Penyembahan sejati terjadi di dalam batin setiap saat.
Sebagai penutup, banyak yang percaya bahwa tujuan utama kita di surga kelak adalah bernyanyi dan menyembah Tuhan selama-lamanya. Namun, jika kita melihat Kejadian 1:26-28, manusia diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) Elohim untuk menjadi wakil-Nya di bumi. Tugas utama sebuah “foto” (wakil) bukanlah menyembah yang diwakilinya, melainkan merepresentasikan pribadi tersebut.
Tugas utama kita adalah mewakili Elohim, menaklukkan bumi, dan membawanya menuju pemulihan yang sempurna. Itulah sebabnya, sampai terwujudnya Langit dan Bumi yang baru, gereja akan terus bekerja menawarkan air kehidupan dengan cuma-cuma, agar seluruh ciptaan dapat dipulihkan secara total. Amin.

Komentar 0
Bagikan pemikiran Anda mengenai artikel ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.