Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Iblis si Penipu
Awalnya saya tidak tertarik menulis tema ini, karena sudah sering disinggung dalam tulisan-tulisan terdahulu. Tetapi, nampaknya ada beberapa hal penting dengan tema ini yang menyebabkan saya ingin menulisnya lagi. Terkait “gelar” Iblis, sebenarnya, Yesus memberinya dua “gelar”, yaitu pendusta dan pembunuh (Yohanes 8:44). Kalau “gelar” ini digabung, maka Iblis menipu manusia agar dapat membunuhnya. Tetapi, kita akan fokus kepada pekerjaannya dalam menipu manusia.
Beberapa hal penting terkait tema ini adalah: Pertama, pandangan mayoritas orang Kristen bahwa Iblis berasal dari malaikat baik dan mulia bernama Lucifer. Kemudian karena sombong dan ingin menyamai Elohim, maka ia memberontak, dan kemudian menjadi Iblis yang begitu jahat. Bahkan diceritakan bahwa ia menarik sepertiga malaikat baik untuk ikut dengannya memberontak melawan Elohim. Menurut saya, cerita ini justru memberi “kemuliaan” kepada Iblis, karena ia digambarkan sebagai makhluk yang begitu berani melawan Elohim, dan begitu hebatnya sehingga dapat mempengaruhi serta menarik sepertiga malaikat baik untuk juga melawan-Nya.
Kedua, barangkali ada yang berargumen sebaiknya kita fokus saja memberitakan dan membicarakan Injil. Namun masalahnya, ada cukup banyak injil-injil yang diberitakan dalam dunia kekristenan. Mengapa demikian? Menurut saya, banyaknya injil-injil yang diberitakan dalam dunia kekristenan disebabkan Iblis telah menipu “para pemberita Injil”, sehingga mereka memberitakan Injil yang bukan diberitakan oleh Yesus dan para rasul-Nya. Sementara Paulus sangat serius menanggapi pemberitaan “injil lain” dengan menyatakan, terkutuklah dia yang memberitakan injil yang berbeda (Galatia 1:8). Jadi, kita perlu membahas Iblis si Penipu ini, agar jangan kita ditipu olehnya, dan mempercayai injil yang palsu.
Ketiga, Paulus menasihati gereja di Efesus agar mengenakan seluruh perlengkapan senjata Elohim dengan maksud agar dapat bertahan terhadap ‘tipu muslihat’ Iblis (Efesus 6:11). Tipu muslihat Iblis merupakan bahaya yang kita hadapi dalam peperangan rohani, karenanya kita perlu mengidentifikasi Iblis si penipu ini dengan benar.
Setidaknya, tiga hal di atas inilah yang membuat kita harus kembali mempelajari siapa sebenarnya Iblis, di mana Iblis ini berada, dan bagaimana caranya ia menipu kita. Jadi, kita membahas tentang Iblis ini bukan berarti ia makhluk yang begitu penting untuk dibahas, tetapi karena tipuannya telah merusak Injil yang murni, merusak gereja sehingga terpecah menjadi puluhan ribu denominasi, dan pada akhirnya membunuh orang-orang Kristen. Sebab memang ia mendustai dengan tujuan membunuh, sesuai dengan “gelar” yang diberikan Yesus kepadanya.
Mari kita mulai dengan cepat membahas siapa Iblis ini sebenarnya. Kejadian 3:1 menegaskan, “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang DIJADIKAN oleh Tuhan Allah…” (LAI). Perhatikan bahwa ular di Taman Eden ini dapat berbicara kepada Hawa, dan ketika ia dikutuk Tuhan, maka makanannya adalah debu tanah. Kesulitan banyak orang Kristen dalam memahami cerita dalam Taman Eden adalah menganggap bahwa Taman Eden itu taman jasmani di sekitar negara Irak, karena ada sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir melaluinya.
Pemahaman “jasmani” seperti di ataslah yang membuat orang Kristen tidak memahami cerita tentang Taman Eden. Coba kita renungkan, di mana ada pohon jasmani yang bernama Pohon Kehidupan, atau Pohon Pengetahuan Baik-Jahat? Bahkan setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, ada kerub dengan pedang yang bernyala-nyala untuk menjaga jalan ke Pohon Kehidupan. Di mana dalam lokasi jasmani di bumi ini, ada kerub yang berjaga-jaga agar manusia jangan masuk dan mengambil buah Pohon Kehidupan? Dan, di mana juga ada ular jasmani yang bisa berbicara, dan memakan debu tanah?
Sesungguhnya, semua cerita dalam Taman Eden merupakan cerita SIMBOL yang menggambarkan REALITA, atau KEBERADAAN manusia sebelum jatuh ke dalam dosa.
Jadi, ular yang dapat berbicara dan memakan debu tanah bukanlah ular jasmani yang sering kita lihat di kebun binatang. Ular di Taman Eden ini merupakan simbol dari suatu realita. Apa realita yang digambarkan ular di Taman Eden? Perhatikan Kitab Wahyu yang merupakan pewahyuan Yesus Kristus dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1, ‘semaino’, dari akar kata ‘sema’, artinya simbol). Wahyu 12:9 menegaskan, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan…”.
Ular tua di sini bukan berbicara usianya yang sudah tua. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘tua’ adalah ‘archaios’, yang artinya ‘ancient’ atau ‘an early’. Jadi maksudnya, ular tua ini adalah ular yang kuno, atau yang awal, yaitu ular yang ada dalam cerita Taman Eden. Karenanya, ular tua atau ular yang diceritakan di Taman Eden adalah Iblis atau Satan. Dan, Kejadian 3:1 menegaskan bahwa ular (Iblis) ini dijadikan oleh Elohim.
Elohim-lah yang menciptakan Iblis serta roh-roh jahatnya dengan suatu maksud tertentu. Iblis itu bukan makhluk yang tadinya baik lalu menjadikan dirinya jahat. Yohanes 8:44 menegaskan, “Iblis…… adalah pembunuh manusia SEJAK SEMULA”. 1 Yohanes 3:8, “… Iblis berbuat dosa DARI MULANYA…”. Jadi, Iblis itu makhluk ciptaan Elohim yang dari mulanya memang sudah jahat, bukan awalnya malaikat baik yang kemudian menjadi jahat.
Telah kita lihat bahwa Iblis adalah makhluk ciptaan Elohim, dan Elohim menciptakan Iblis sebagai alat-Nya untuk maksud-maksud dan rencana-Nya sendiri. Perlu kita singgung sedikit mengapa para Teolog membuat cerita kejatuhan malaikat Lucifer menjadi Iblis yang jahat. Biasanya para Teolog ini mengutip Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 untuk mendukung pandangannya, walaupun konteks pasal itu berbicara soal raja Babel dan raja Tirus. Para Teolog ini berusaha “membela” Elohim dengan mencari “kambing hitam” atas adanya dosa, penyakit, penderitaan, malapetaka, dan sebagainya.
Namun, kita lihat bahwa Elohim tidak berusaha melempar tanggung jawab atas adanya penderitaan, penyakit, malapetaka, dan sebagainya. Perhatikan Yesaya 45:6-7, “… Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semua ini”. Amos 3:6 juga menegaskan, “… Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.
Roma 11:36 menegaskan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Segala sesuatu jelas dari Elohim, tetapi Elohim membutuhkan ALAT untuk menggenapkan rencana-Nya, dan salah satu alat-Nya adalah Iblis. Kita tahu bahwa kejatuhan Adam-Hawa itu merupakan rancangan Elohim (Roma 8:20), tetapi Elohim memakai alat untuk mencobai Adam-Hawa, dan Iblislah yang menjadi alat-Nya.
Elohim tidak melempar tanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, bahkan burung jatuh pun tidak ada yang terjadi di luar kehendak Elohim. Jadi, usaha para teolog untuk “membela” Elohim merupakan tindakan yang aneh dan ganjil. Baiklah kita tinggalkan usaha para Teolog dalam “membela” Elohim dengan membuat cerita mengenai kejatuhan Iblis, walaupun cerita ini dipercaya oleh mayoritas orang Kristen.
Menemukan Keberadaan Iblis
Mari kita kembali kepada tema kita: Iblis si Penipu. Pertanyaan penting bagi kita dalam melawan tipuan Iblis adalah mengenali di mana Iblis berada. Jika benar cerita kejatuhan malaikat Lucifer menjadi Iblis, maka jelas Iblis ada di luar diri kita. Apakah benar Iblis ada di luar diri kita, dan mencobai kita dari luar?
Perhatikan Kejadian 3:14, demikian, “… terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu”.
Makhluk pertama yang dikutuk Elohim setelah kejatuhan Adam adalah Iblis. Kutukan Elohim atas Iblis ada dua, yaitu dengan perutmu engkau akan menjalar, dan debu tanah menjadi makananmu. Kita tahu ular di Taman Eden adalah Iblis, dan ungkapan ‘dengan perutmu engkau akan menjalar’ adalah kutukan Tuhan sehingga ruang gerak Iblis dibatasi. Artinya, pada awalnya ia dapat bergerak dalam dimensi yang lebih tinggi, tetapi sekarang ia “diturunkan”, sehingga hanya dapat “menjalar dengan perutnya”.
Selanjutnya, Tuhan mengutuk Iblis sehingga makanannya debu. Debu yang dimaksud di sini tentu bukanlah debu jasmani, tetapi manusia, karena manusia itu dari debu (Kejadian 3:19).
Perhatikan ayat-ayat berikut yang membuktikan bahwa Iblis “menjalar dengan perutnya” di dalam manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Alkitab menyebut manusia yang telah jatuh ke dalam dosa itu sebagai daging (Yunani: Sarx). Markus 7:21, demikian, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan”. 2 Korintus 10:4-5, demikian, “karena senjata kami… kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”.
Peperangan rohani itu ada di dalam pikiran manusia yang menentang pengenalan akan Elohim. Kita tidak dapat membedakan mana kedagingan manusia, dan mana Iblis, karena keduanya telah begitu menyatu dalam menentang Elohim. Karenanya, Iblis itu ada di dalam kedagingan kita, dan dia “menjalar dengan perutnya” untuk memakan manusia daging, yaitu semua keturunan Adam yang telah jatuh dalam dosa.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai ruang lingkup Iblis bekerja. Telah kita tegaskan bahwa Iblis “menjalar dengan perutnya” dan memakan manusia daging. Baiklah kita melihat beberapa kasus sehingga kita lebih jelas lagi mengenai hal ini:
Pertama, kasus Petrus dalam Matius 16:21-23, demikian: “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: Tuhan kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (LAI).
Mari kita mencoba memahami apa maksud Petrus menegor Yesus. Jelas di sini bahwa Petrus mengasihi Yesus, dan tidak ingin sesuatu yang jahat menimpa Guru-Nya. Petrus sekadar mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya, dan memang secara manusia, hal ini sungguh sangat normal dan sangat baik. Tetapi, Yesus menegor Petrus, dan menyebut Petrus sebagai Iblis yang merupakan batu sandungan bagi-Nya.
Tentu Yesus bukan bermaksud bahwa Petrus adalah Iblis, tetapi dengan memikirkan apa yang dipikirkan manusia, maka Petrus “menjadi” Iblis yang merupakan batu sandungan bagi Yesus. Di sini kita melihat suatu kebenaran bahwa PIKIRAN MANUSIAWI (PIKIRAN DAGING), DAN IBLIS DEMIKIAN MENYATU SERTA TIDAK DAPAT DIPISAHKAN. Siapa saja yang berpikir seperti manusia berpikir, dan bukan seperti Elohim berpikir, maka manusia itu sudah “menyatu” dengan Iblis. Di sinilah kita melihat bagaimana Iblis menyatu dengan pikiran manusia, serta memakan manusia daging.
Kedua, kasus Amnon dan Tamar dalam 2 Samuel 13. Hal yang melatarbelakangi kasus Amnon dan Tamar adalah perselingkuhan Daud dengan Batsyeba. Daud mendapat disiplin dari Elohim karena perselingkuhannya, dan salah satu disiplin-Nya adalah mendatangkan malapetaka yang berasal dari kaum keluarganya sendiri. Di sini kita melihat bahwa Elohim menyerahkan keluarga Daud kepada Iblis untuk didisiplin.
Amnon jatuh cinta dengan sangat kepada Tamar, yang sebenarnya sama-sama anak Daud (berbeda ibu). Amnon sedemikian jatuh cinta sampai jatuh sakit, dan dengan tipu dayanya, ia berhasil memperkosa Tamar. Namun kemudian, Amnon tiba-tiba berubah menjadi sangat benci kepada Tamar setelah memperkosanya. Perkara ini hanya dapat dijelaskan jika kita melihat bahwa Iblis memberikan rasa cinta yang sangat kuat kepada Amnon, lalu menanam rasa benci yang luar biasa setelahnya. Iblis dapat memberikan rasa cinta maupun benci kepada emosi manusia daging yang menjadi makanannya.
Ketiga, kasus di mana Yohanes Pembaptis menyebut orang Farisi dan Saduki sebagai keturunan ular beludak (Matius 3:7), dan Yesus menyebut orang-orang Farisi serta ahli-ahli Taurat bahwa Iblis adalah bapa mereka (Yohanes 8:44). Yesus menyebut mereka demikian karena mereka ingin melakukan keinginan bapa mereka, yaitu membunuh Yesus. Iblis begitu menyatu dengan keinginan, pikiran, dan perasaan manusia daging, sehingga kita tidak dapat membedakannya lagi. Jika kita hidup dalam daging, maka kita menyatu dengan Iblis, dan jika kita menjalani hidup Kristus, maka kita menyatu dengan Elohim.
Iblis Si Penipu dan Gereja
Saat ini kita masuk ke dalam pembahasan Iblis si Penipu dalam kaitannya dengan gereja. Ketika kita membicarakan gereja (Tubuh Kristus), maka yang kita maksud adalah orang-orang Kristen lahir baru yang terbangun bersama menjadi Tubuh Kristus.
Mari kita perhatikan Efesus 6:11, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (LAI). Dalam satu pengertian tertentu, mengenakan SELURUH perlengkapan senjata Elohim tidak dapat dilakukan oleh orang Kristen secara pribadi. Perlengkapan yang dimaksud Paulus ada yang ditaruh di pinggang, di dada, di kaki, dipegang tangan, dan di kepala.
Artinya, agar SELURUH perlengkapan senjata Elohim digunakan, maka Tubuh Kristus harus bersatu, dan tidak terpecah-pecah seperti yang kita lihat dalam dunia kekristenan saat ini. Dalam melawan tipu muslihat Iblis secara maksimal, Tubuh Kristus haruslah satu.
Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘tipu muslihat’ dalam ayat di atas adalah ‘methodeia’, yang artinya ‘suatu metode’. Metode adalah cara yang teratur dan sistematis. Dari tulisan-tulisan rasul Yohanes, kita menemukan istilah ‘kosmos’, di mana salah satu maknanya adalah ‘sistem’.
Perhatikan Yohanes 12:31, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar”. Juga Wahyu 12:9, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah…”. Iblis adalah penguasa dunia, dalam arti sebuah sistem. Karenanya, metode Iblis dalam menipu Tubuh Kristus SECARA KESELURUHAN adalah dengan membangun SUATU SISTEM.
Apakah kekristenan juga telah menjadi sistem? Pertanyaan ini sangat penting. Jika kekristenan telah menjadi ‘sistem’, maka sesungguhnya kekristenan telah jatuh ke dalam metode Iblis. Kita tidak harus menerima “pewahyuan luar biasa” untuk mengetahuinya. Hal yang paling menyulitkan seorang Kristen lahir baru untuk memahami bahwa kekristenan telah menjadi sistem ADALAH JIKA IA SENDIRI MENJADI BAGIAN DARI SISTEM INI.
Di dalam sistem kekristenan saat ini, ditawarkan uang (gaji), jabatan, dan hormat manusiawi yang tidak ada di dalam gereja mula-mula. Sesungguhnya, Yesus maupun rasul-rasul-Nya sudah menjelaskan bahwa Iblis si Penipu akan membangun ‘sistem’ untuk menipu gereja.
Serigala Ganas dan Ajaran Palsu
Mari kita mulai dengan ajaran Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:28-30. Ini merupakan peringatan Paulus akan adanya serangan serigala ganas (Iblis) terhadap para penatua. Paulus tegas menyatakan bahwa serigala ganas akan membuat penatua MENINGGIKAN DIRI dengan cara MENARIK MURID-MURID TUHAN dari jalan yang benar, sehingga murid-murid Tuhan MENGIKUTI sang penatua.
Apa makna ‘jalan yang benar’ yang dimaksud Paulus? Jika kita membaca Kisah Para Rasul, sangat jelas bahwa SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS SEMATA-MATA MENGIKUTI PIMPINAN ROH KUDUS HARI LEPAS HARI. Sekalipun ada pemimpin gereja (rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar), mereka hanya MEMPERLENGKAPI murid-murid saja. Tidak ada satu pun pemimpin gereja mula-mula yang MENARIK murid-murid Tuhan supaya menjadi pengikut mereka pribadi (golongan/denominasi).
Jadi, jalan yang benar adalah mengikuti pimpinan Roh Kudus hari lepas hari. Namun, serangan serigala ganas membuat pemimpin menarik murid-murid Tuhan menjadi pengikut fanatiknya. Hal ini menjadi “wajar” karena sudah ada ajaran palsu (Izebel, Nikolaus, Bileam) yang membenarkan perilaku tersebut. Paulus menggunakan istilah serigala GANAS untuk membuktikan bagaimana tipuan ini demikian “halus” dengan berbalut “jubah agamawi”. Hasilnya? Tubuh Kristus tercabik-cabik menjadi puluhan ribu golongan.
Ketiadaan Hierarki dalam Gereja Kristus
Ketika Yesus berkata “Aku akan mendirikan jemaat-Ku”, ada keunikan luar biasa: KETIADAAN HIERARKI. Dalam dunia organisasi, hierarki adalah rantai komando wajar. Tetapi, dalam gereja yang Yesus bangun, tidak boleh ada hierarki sama sekali. Mengapa? Karena yang mengatur gereja-Nya adalah Yesus sendiri melalui Roh Kudus (Roh pemberi zoe).
Setiap anggota gereja-Nya harus mengikuti pimpinan Roh Kudus. Petrus, misalnya, dalam kasus Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5) sama sekali tidak memiliki otoritas atas mereka. Petrus hanya dipimpin Roh Kudus untuk menegur, dan Roh Kuduslah yang mendisiplinkan mereka. Petrus hanya menjadi alat. Hal ini sangat berbeda dengan struktur hierarki gereja modern, di mana seorang gembala sidang memiliki otoritas layaknya CEO perusahaan.
Yesus melarang keras adanya otoritas manusiawi ini (Matius 23:1-12). Ia melarang adanya “Kursi Musa” (otoritas agamawi) di antara murid-murid-Nya. Di dalam gereja, YESUS LANGSUNG MENGATUR SETIAP ANGGOTA. Tidak boleh ada jabatan agamawi yang merampas otoritas Yesus sebagai Kepala Gereja.
Kolose 2:19 menjelaskan bahwa gereja adalah organisme yang ditunjang oleh sendi-sendi (para pemimpin) agar bertumbuh dengan pertumbuhan dari Elohim. Pemimpin di sini berfungsi menunjang organisme, bukan berkuasa atas organisasi. Inilah kekristenan yang egalitarian dan murni di bawah pimpinan Roh Kudus, sebelum Iblis membangun sistem hierarki yang memecah-belah.
Kehilangan Koinonia Sejati
Mari kita perhatikan tulisan Rasul Yohanes (sekitar 90 M). Dalam 1 Yohanes 1:3, Rasul Yohanes menyatakan bahwa ia dan timnya menulis surat agar gereja-gereja kembali beroleh persekutuan (KOINONIA). Gereja-gereja di Asia Kecil saat itu telah kehilangan koinonia!
Koinonia adalah tanda bersatunya “batu-batu hidup” (1 Petrus 2:5). Tanpa koinonia, gereja hanyalah tumpukan puing, bukan rumah rohani. Tingkat koinonia di gereja mula-mula terlihat dari bagaimana segala kepunyaan menjadi kepunyaan bersama, dibagikan sesuai keperluan (Kisah Para Rasul 2:44-45). Bandingkan dengan penggunaan keuangan denominasi modern yang sering kali terpusat untuk membiayai operasional, gaji pendeta, dan gedung besar. Ketidakadilan ini muncul karena Iblis telah berhasil menanamkan sistem politik, sosial, dan ekonomi ke dalam tubuh agama.
Solusi Tuhan Yesus: Memanggil Para Pemenang
Bagaimana solusi yang dilakukan oleh Yesus ketika gereja-Nya hancur berkeping-keping menjadi puluhan ribu denominasi? Apakah Yesus berusaha menyatukan kembali denominasi-denominasi itu? Tidak. Usaha menyatukan denominasi adalah usaha kedagingan.
Wahyu 2 dan 3 dengan jelas menunjukkan solusi Yesus: Ia memanggil para pemenang-Nya. Di setiap pesan kepada tujuh gereja, selalu ada panggilan: “Barangsiapa menang…”.
Siapakah para pemenang ini? Mereka adalah orang-orang sederhana yang tidak ambil bagian dalam tiga ajaran palsu (Izebel, Bileam, dan Nikolaus). Mereka bukan “tokoh terkenal” di panggung kekristenan, karena sulit menjadi terkenal tanpa mengikuti sistem denominasi. Mereka adalah ‘kawanan kecil’ (Lukas 12:32) yang melayani Tuhan dengan tulus tanpa mencari keuntungan pribadi, hierarki, atau upeti. Kristus di dalam batin para pemenang inilah yang memimpin kehidupan mereka hari lepas hari.
Pada akhirnya, sistem (kosmos) kekristenan yang dibangun oleh Iblis akan dihancurkan (Wahyu 17-18). Pemerintahan dunia akan diambil alih oleh Tuhan dan gereja pemenang-Nya pada kerajaan seribu tahun (Wahyu 11:15; 20:4). Murid-murid Tuhan yang masih terperangkap di dalam sistem (kosmos) kekristenan akan dipulihkan pada saat kedatangan-Nya, di mana seluruh ciptaan akan disempurnakan sehingga Bapa menjadi semua di dalam semua. Amin.

Komentar 0
Bagikan pemikiran Anda mengenai artikel ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.