Chat Konselor masih dalam tahap pengembangan. Respons dan layanan mungkin belum optimal. Terima kasih atas pengertian Anda. Tuhan Yesus memberkati.
Pernahkah kita bangun pagi dengan perasaan yang sama seperti kemarin? Ada persoalan yang belum selesai, doa yang belum mendapat jawaban, dan harapan yang rasanya semakin jauh dari kenyataan. Kita tetap berangkat bekerja, mengurus rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan sesekali tersenyum ketika bertemu teman. Namun, ketika malam tiba dan suasana mulai tenang, pertanyaan yang sama kembali muncul: sampai kapan keadaan ini akan berlangsung? Apakah Tuhan masih bekerja di tengah penantian yang panjang ini?
Pergumulan semacam ini tidak selalu terlihat oleh orang lain. Kita mungkin tidak sedang menghadapi masalah besar yang diketahui banyak orang, tetapi ada sesuatu yang terus memenuhi pikiran. Bisa berupa pekerjaan yang belum kunjung didapatkan, kondisi ekonomi keluarga yang belum membaik, hubungan yang belum dipulihkan, atau permohonan yang sudah bertahun-tahun dibawa dalam doa. Kita ingin tetap percaya kepada Tuhan, tetapi ada saat-saat ketika hati terasa lelah. Bukan karena kita tidak mengenal Tuhan, melainkan karena kita belum melihat perubahan yang selama ini dinantikan.
Dalam keadaan seperti inilah perkataan dalam Ratapan 3:21–24 menjadi sangat berarti. Penulis kitab Ratapan tidak menyampaikan pengharapan dari tempat yang nyaman. Ia sedang berada di tengah kenyataan pahit yang sulit dibayangkan. Yerusalem telah mengalami kehancuran akibat serangan Babel. Kota yang menjadi pusat kehidupan umat Allah itu porak-poranda, kehidupan masyarakat terguncang, dan banyak orang kehilangan rumah, keluarga, serta masa depan yang dahulu mereka bayangkan. Kitab Ratapan sendiri merupakan kumpulan ratapan yang memberi suara kepada penderitaan umat di tengah kehancuran tersebut.
Menariknya, sebelum sampai pada perkataan tentang kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan, penulis terlebih dahulu mengungkapkan betapa berat penderitaan yang dialaminya. Dalam Ratapan 3:17–20, ia menggambarkan jiwanya yang kehilangan kesejahteraan, melupakan kebahagiaan, dan merasa bahwa pengharapannya kepada Tuhan telah lenyap. Ini bukan gambaran seseorang yang sedang baik-baik saja. Ia sedang berhadapan dengan penderitaan yang begitu dalam sampai-sampai masa depan terasa tertutup.
Karena itu, kita perlu membaca ayat 21 dengan memperhatikan kalimat sebelumnya. Penulis tidak sedang menyangkal penderitaannya atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa kehancuran Yerusalem hanyalah persoalan kecil yang bisa diselesaikan dengan berpikir positif. Sebaliknya, ia mengakui kenyataan pahit itu, tetapi kemudian mengarahkan kembali perhatiannya kepada sesuatu yang lebih kokoh daripada keadaan yang sedang dihadapinya.
Ia berkata, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap.”
Ada sesuatu yang penting dalam perkataan tersebut. Pengharapan mulai muncul ketika ia dengan sengaja mengingat kembali siapa Tuhan dan bagaimana karakter-Nya. Keadaan di sekelilingnya belum pulih, tetapi ia tidak membiarkan kehancuran menjadi satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya. Ia mengarahkan ingatannya kepada kasih setia Allah.
Kita pun sering mengalami hal yang serupa. Ketika sebuah persoalan berlangsung terlalu lama, pikiran kita cenderung mengumpulkan semua bukti yang membuat keadaan terlihat semakin buruk. Kita mengingat lamanya penantian, percakapan yang mengecewakan, kesempatan yang hilang, dan doa-doa yang belum terjawab. Tanpa disadari, seluruh perhatian kita tertuju pada apa yang belum kita miliki. Akibatnya, kita mulai kesulitan melihat bahwa Tuhan tetap layak dipercaya, sekalipun keadaan belum berjalan seperti yang kita harapkan.
Mengingat kesetiaan Tuhan bukan berarti memaksa diri untuk melupakan kesedihan. Kita tidak perlu menyangkal rasa kecewa, menyembunyikan ketakutan, atau berpura-pura memiliki iman yang selalu kuat. Ratapan sendiri memperlihatkan bahwa umat Allah memiliki ruang untuk menyampaikan kesedihan dan keluhan mereka di hadapan-Nya. Iman yang bertumbuh bukan iman yang tidak pernah menangis, melainkan iman yang tetap membawa tangisan itu kepada Tuhan.
Penulis Ratapan kemudian mengungkapkan alasan mengapa ia masih memiliki pengharapan: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya.” Pernyataan ini menjadi pusat penghiburan dalam bagian tersebut. Ia tidak mendasarkan harapannya pada kemungkinan bahwa keadaan akan segera berubah, melainkan pada karakter Allah yang penuh kasih setia dan belas kasihan.
Ungkapan kasih setia dalam bagian ini berkaitan dengan istilah Ibrani hesed, yang menggambarkan kasih Allah yang teguh dalam relasi perjanjian-Nya. Sementara itu, kata rahmat berkaitan dengan belas kasihan Allah terhadap umat-Nya. Keduanya menunjukkan bahwa pengharapan Israel tidak bertumpu pada kemampuan mereka mengendalikan keadaan, tetapi pada kesetiaan Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya begitu saja.
Kebenaran ini juga penting bagi kita yang sedang menantikan Tuhan. Terkadang kita mengukur kasih Allah melalui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan. Ketika doa dikabulkan, kita merasa Tuhan dekat. Ketika pintu kesempatan terbuka, kita merasa Tuhan memperhatikan. Namun, ketika jawaban tidak kunjung datang, kita mulai bertanya apakah kasih-Nya masih sama.
Padahal, kasih Tuhan tidak berubah mengikuti naik turunnya keadaan kita. Kesetiaan-Nya tidak menjadi lebih besar ketika hidup berjalan lancar dan tidak menjadi lebih kecil ketika kita sedang mengalami kesulitan. Kita mungkin belum memahami alasan di balik sebuah penantian, tetapi ketidakpahaman kita tidak mengubah karakter Allah.
Ayat 23 kemudian memberikan ungkapan yang sangat menguatkan: “selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
Perkataan ini bukan berarti setiap pagi kita pasti menerima kabar baik, memperoleh pekerjaan yang diinginkan, atau melihat persoalan langsung selesai. Konteks Ratapan justru memperlihatkan bahwa penderitaan umat belum berakhir ketika pengakuan tersebut disampaikan. Gambaran tentang rahmat yang baru setiap pagi berbicara tentang kemurahan Allah yang terus tersedia bagi umat-Nya, bahkan ketika mereka belum keluar dari masa sulit.
Ada penghiburan yang bisa kita temukan di sini. Kita tidak harus memiliki kekuatan untuk menyelesaikan seluruh persoalan hidup hari ini. Kita juga tidak dituntut untuk mengetahui bagaimana keadaan beberapa bulan mendatang. Tuhan memberikan rahmat-Nya bagi perjalanan kita hari demi hari. Ketika bangun pagi, kita boleh datang kepada-Nya dengan segala keterbatasan, membawa kekhawatiran yang belum selesai, dan meminta pertolongan untuk menjalani hari yang ada di hadapan kita.
Mungkin hari ini kita masih harus mengirim lamaran pekerjaan, menunggu kabar dari seseorang, mengatur keuangan keluarga yang terbatas, atau menjalani percakapan sulit yang selama ini dihindari. Hal-hal tersebut tidak otomatis menghilang hanya karena kita membaca ayat Alkitab. Namun, kita dapat menghadapinya dengan keyakinan bahwa hidup kita tidak berada di luar perhatian Allah.
Di sinilah ketekunan dalam iman menemukan maknanya. Ketekunan bukan berarti kita tidak boleh merasa lelah atau tidak boleh mencari pertolongan. Ketekunan berarti kita terus berjalan bersama Tuhan, termasuk ketika langkah kita terasa berat. Kita tetap melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan menyerahkan hal-hal yang tidak mampu kita kendalikan kepada-Nya.
Namun, ada satu bagian lagi dari Ratapan 3:24 yang layak kita renungkan. Penulis berkata, “‘TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”
Dalam Perjanjian Lama, ungkapan “bagian” sering berkaitan dengan warisan atau kepemilikan yang diterima seseorang. Ketika penulis menyebut Tuhan sebagai bagiannya, ia sedang menyatakan bahwa Tuhan sendiri merupakan dasar dan sumber pengharapannya. Di tengah kehilangan yang begitu besar, ia masih memiliki sesuatu yang tidak dapat dirampas oleh kehancuran kota atau berubahnya keadaan: Allah yang tetap setia.
Pernyataan ini mengajak kita memeriksa kembali dasar pengharapan kita. Apakah kita hanya berharap kepada Tuhan karena ingin memperoleh sesuatu dari-Nya, ataukah kita juga belajar menemukan penghiburan dalam hubungan kita dengan-Nya? Tentu tidak salah membawa kebutuhan, impian, dan permohonan kepada Tuhan. Dia mengetahui kebutuhan kita dan mengundang kita datang kepada-Nya. Namun, iman tidak berhenti pada harapan bahwa Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Pengharapan kita bertumbuh karena kita mengenal Allah yang mengasihi kita.
Kebenaran ini semakin nyata melalui Yesus Kristus. Di dalam Kristus, kasih Allah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi dinyatakan melalui karya keselamatan-Nya. Kristus datang ke dalam dunia, menanggung penderitaan, mati di kayu salib, dan bangkit dari kematian. Salib menunjukkan bahwa Allah tidak berpaling dari penderitaan manusia, sedangkan kebangkitan Kristus memberikan dasar yang kokoh bagi pengharapan kita, bahkan ketika kematian dan penderitaan masih menjadi bagian dari dunia ini.
Karena itu, pengharapan bukan keyakinan bahwa semua keinginan kita pasti terpenuhi sesuai waktu dan cara yang kita tentukan. Kita juga tidak memiliki janji bahwa setiap penantian akan berakhir dengan hasil yang persis seperti permohonan kita. Namun, melalui Kristus, kita memiliki kepastian bahwa kasih Allah tidak meninggalkan kita dan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari cerita kehidupan umat-Nya.
Mungkin ada sesuatu yang sampai hari ini belum berubah. Kita masih menantikan jawaban, masih bergumul dengan keadaan, dan masih berusaha memahami jalan yang sedang dilalui. Tidak apa-apa jika pagi ini kita belum memiliki semua jawaban. Kita boleh mengakui bahwa penantian ini melelahkan, tetapi jangan sampai keadaan yang belum berubah membuat kita melupakan kesetiaan Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Kristus.
Cobalah mengingat kembali perjalanan hidup kita. Ada masa ketika kita merasa tidak sanggup melewati sebuah persoalan, tetapi Tuhan memberikan kekuatan untuk terus melangkah. Ada waktu ketika kita tidak mengetahui jalan keluar, tetapi pertolongan datang melalui cara yang tidak pernah kita duga. Pengalaman-pengalaman tersebut bukan alasan untuk menganggap semua masalah pasti segera selesai, melainkan pengingat bahwa kita memiliki Allah yang layak dipercaya.
Pagi ini, ketika kita kembali menjalani hari dengan sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, biarlah firman Tuhan mengarahkan hati kita kepada sumber pengharapan yang tidak berubah. Kita mungkin belum mengetahui apa yang menanti di depan, tetapi kita mengenal Dia yang memegang hidup kita. Kiranya kita terus belajar menantikan Tuhan, bertumbuh dalam ketekunan, dan tetap percaya kepada-Nya di tengah ketidakpastian.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.