Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Mengenal Sang Penghibur: Saat Dipenuhi Roh Kudus

Mengenal Sang Penghibur: Saat Dipenuhi Roh Kudus

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
36
9
0
0

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang—demikian kata-Nya—’telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 1:4-5 (TB)

Pernahkah kamu mencoba masuk ke dalam pikiran dan membayangkan perasaan para murid saat mendengar perkataan ini? Mereka baru saja bersukacita mendapatkan kembali Guru mereka yang bangkit dari kematian, sebuah keajaiban yang memutarbalikkan duka terdalam mereka menjadi sorak-sorai. Namun, kebahagiaan itu seolah diinterupsi ketika Ia berkata bahwa Ia harus pergi lagi kepada Bapa. Lebih membingungkan lagi, mereka disuruh untuk berdiam diri dan menunggu di Yerusalem, sebuah kota yang pada saat itu sangat tidak ramah, sebuah tempat yang menyimpan memori paling traumatis tentang darah, kayu salib, dan ancaman para pemimpin agama. Menunggu bukanlah sebuah aktivitas yang disukai oleh siapa pun. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, mulai dari jalanan ibu kota yang selalu padat merayap, antrean panjang di peron stasiun saat jam sibuk, hingga persaingan hidup yang membuat kita merasa harus terus berlari, menunggu sering kali identik dengan membuang waktu secara sia-sia. Namun, dalam narasi ilahi ini, Yesus justru menahan langkah mereka, meminta mereka untuk diam, dan dengan penuh kepastian menanti sebuah janji.

Kita semua sedang hidup di sebuah era di mana kepastian seolah menjadi komoditas langka yang harganya terlampau mahal. Begitu banyak dari kita yang menghabiskan hari demi hari berlarian tanpa henti, mencoba mati-matian mengamankan masa depan, mencari sedikit pengakuan di tengah masyarakat yang gemar membanding-bandingkan, atau sekadar berusaha bertahan hidup di tengah impitan ekonomi yang tidak menentu. Terkadang, saat senja mulai turun dan lampu-lampu kamar perlahan dipadamkan, ada sebuah rasa sepi yang diam-diam menyelinap masuk ke rongga dada. Ada ketakutan tentang hari esok, ada kecemasan tentang hasil wawancara kerja yang tak kunjung datang, atau beban tagihan keluarga yang terasa semakin mencekik leher jika harus dipikul sendirian. Di dalam keheningan malam-malam semacam itulah, kita sering kali merasa seperti anak yatim piatu secara rohani. Kita tahu Tuhan itu ada, kita dengan fasih melantunkan pujian di gereja pada hari Minggu, namun mengapa dalam pertarungan realitas sehari-hari rasanya kita sedang memegang tameng dan pedang itu seorang diri? Perasaan rapuh, ditinggalkan, dan keharusan berjuang tanpa sandaran inilah yang mungkin sempat membuat dada para pengikut Kristus dua ribu tahun yang lalu terasa sesak. Mereka hanyalah sekumpulan mantan nelayan, pemungut cukai, dan rakyat biasa yang tiba-tiba diperhadapkan pada sebuah misi raksasa tanpa kehadiran fisik figur yang selama ini melindungi mereka.

Tetapi, cobalah perhatikan baik-baik betapa dalam dan lembutnya hati Yesus. Ia sama sekali tidak melepaskan sahabat-sahabat-Nya itu begitu saja ke medan perang tanpa perlengkapan yang memadai. Ia menyisipkan sebuah jaminan kepastian yang sanggup menembus segala lapis ketidakpastian duniawi. Ia berbicara tentang janji Bapa. Harus kita pahami bahwa janji yang dimaksudkan-Nya bukanlah segunung emas, bukanlah takhta atau posisi prestisius di mata dunia, dan bukanlah sebuah jaminan hidup yang seratus persen bebas dari penderitaan maupun air mata. Janji itu adalah seorang Pribadi. Itulah inti dari kerinduan kita, alasan paling mendasar mengapa kita perlu mengenal Sang Penghibur. Dalam bahasa aslinya, Alkitab menggunakan kata Parakletos, yang merujuk pada seseorang yang dipanggil untuk berada di sisi kita, seorang pembela, penolong, dan penghibur yang sejati. Betapa indahnya menyadari kenyataan ini; Sang Pencipta alam semesta yang agung tidak sekadar duduk diam di atas takhta-Nya yang jauh tak terjangkau di surga sana, melainkan Ia mengutus Roh-Nya sendiri untuk turun dan hadir tepat di sebelah kita. Saat kamu duduk termenung menatap layar laptop yang kosong karena kehabisan tenaga, atau saat kamu diam-diam menyembunyikan air mata di balik kaca helm motormu ketika menembus hujan deras setelah hari yang teramat panjang dan melukai hatimu, Sang Penghibur itu ada di sana bersamamu. Ia tidak hanya mengamati perjuanganmu dari kejauhan; Ia merasakan denyut jantungmu yang berdegup cemas dan Ia dengan saksama mendengarkan jeritan hatimu yang terlalu perih untuk diucapkan dengan kata-kata.

Sayangnya, pemahaman tentang dipenuhi oleh Roh Kudus sering kali disempitkan maknanya sebagai sebuah pengalaman mistis yang meledak-ledak sesaat, atau sekadar luapan emosi yang hanya terjadi di dalam gedung gereja ber-AC yang diiringi oleh alunan musik yang megah. Padahal, jika kita mau menengok lebih dalam ke dalam esensi firman Tuhan, dipenuhi oleh Roh Kudus adalah sebuah realitas keseharian yang sangat praktis, nyata, dan membumi. Bayangkanlah dirimu sebagai sebuah gelas kosong yang diletakkan tepat di bawah curahan air terjun yang mengalir deras tanpa henti. Gelas itu tidak hanya sekadar terisi penuh, tetapi air kehidupan itu akan terus meluap, tumpah, dan membasahi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Seperti itulah gambaran hidup yang sungguh-sungguh dipenuhi oleh Roh Kudus. Kehadiran-Nya membersihkan ketakutan-ketakutan kita yang telah lama berkerak, membasuh segala kekhawatiran kita yang kotor oleh debu tuntutan dunia, dan secara perlahan menggantikannya dengan kedamaian utuh yang melampaui segala akal pikiran manusia. Ketika kita hidup dipenuhi oleh-Nya, kita tidak lagi dituntut untuk mengandalkan sisa-sisa tenaga kita sendiri yang sudah terkuras habis. Kita mulai melangkah dan bernapas dengan napas surga. Kita mulai memiliki kemampuan untuk melihat berbagai masalah, rekan kerja yang mungkin menekan batin, atau bahkan tumpukan tanggung jawab di pundak kita, menggunakan kacamata ketenangan Ilahi, karena ada kesadaran baru bahwa kita tidak sedang menghadapi badai itu sendirian.

Masalah terbesar manusia modern sering kali bukanlah ketiadaan jalan keluar dari sebuah persoalan, melainkan keengganan kita untuk berhenti sejenak, diam, dan menantikan janji Bapa tersebut. Ego kita sering kali membuat kita terlalu sibuk bertindak menjadi penghibur bagi diri kita sendiri. Ketika badai stres melanda, kita dengan cepat lari pada pelarian-pelarian sementara yang ditawarkan dunia. Kita mengusap layar ponsel berjam-jam lamanya hanya untuk mencari sedikit validasi, kita membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan demi kepuasan sesaat, atau kita menenggelamkan diri secara ekstrem dalam kesibukan pekerjaan hanya untuk mematikan rasa sakit di hati. Kita terus-menerus meminum air dari sumur-sumur duniawi yang pada akhirnya hanya akan membuat kerongkongan jiwa kita kembali merasa haus. Padahal, Yesus telah dengan sangat jelas membedakan antara baptisan air lambang pertobatan dengan baptisan Roh Kudus yang memberikan kuasa. Ada sebuah dimensi kehidupan spiritual yang jauh lebih dalam, jauh lebih memuaskan dahaga batin, dan jauh lebih berkuasa mengubah arah hidup yang telah disiapkan oleh Bapa bagi anak-anak-Nya. Pengenalan yang intim akan Sang Penghibur inilah yang akan menjadi fondasi kehidupan, dasar yang paling kokoh, ketika ombak kehidupan bermasyarakat, dengan segala dinamika sosial dan tekanannya yang berat, mencoba menghempaskan perahu kecil kehidupan kita.

Cobalah sesekali menyisihkan waktu untuk mengingat kembali momen-momen di mana kamu merasa benar-benar hancur, terpuruk, dan seolah tidak lagi memiliki setitik pun harapan untuk melanjutkan hidup. Mungkin itu terjadi saat kamu harus melepaskan kepergian seseorang yang sangat kamu cintai, saat kamu mengalami kegagalan karir atau bisnis yang begitu menyakitkan, atau saat kamu harus memungut kepingan hatimu akibat kehancuran sebuah hubungan. Tanyakan pada dirimu sendiri, bagaimana mungkin kamu bisa melewati hari-hari yang sangat gelap dan panjang itu hingga akhirnya kamu masih bisa berdiri di titik ini hari ini? Jika kamu mau jujur menelusuri ke dalam relung hatimu, engkau akan menyadari ada sebuah kekuatan tak kasatmata yang setia menopang punggungmu tepat ketika kedua lututmu tak lagi sanggup untuk berdiri tegak. Itulah pekerjaan nyata dari Roh Kudus, janji Bapa yang diam-diam bekerja menenun kembali serpihan-serpihan jiwamu yang hancur. Ia adalah wujud daya tahan sejati yang membuat seorang ibu tunggal mampu bangun pagi memasak demi anak-anaknya, Ia adalah wujud keberanian yang membuat seorang kepala keluarga tetap pulang membawa senyuman meski baru saja kehilangan pekerjaan, dan Ia adalah ketenangan yang memampukan seorang anak muda di perantauan menolak menyerah pada tekanan mental dari kerasnya lingkungan sekitar.

Lalu, kembali pada pertanyaan awal, mengapa para murid disuruh menunggu justru di Yerusalem? Yerusalem adalah episentrum dari ketakutan terbesar mereka, tempat yang merekam peristiwa penyaliban dan keputusasaan. Kadang-kadang dalam perjalanan iman kita, Tuhan juga meminta kita untuk tinggal, diam, dan menantikan-Nya justru di tempat-tempat, situasi, atau kondisi yang paling tidak nyaman bagi daging kita. Mungkin itu di tengah lingkungan pekerjaan yang penuh intrik dan tekanan, di dalam dinamika rumah tangga yang sedang penuh gesekan, atau di kota yang terasa terlalu keras untuk ditaklukkan ini. Di sanalah, tepat di tengah pusaran tantangan tersebut, Ia ingin membuktikan secara langsung bahwa kekuatan Sang Penghibur itu nyata dan tidak dapat dibantah. Tuhan kita memang tidak selalu memindahkan kita dari tengah badai secara instan, tetapi Ia selalu memastikan bahwa kehadiran-Nya di dalam perahu kita membuat kita sama sekali tidak bisa ditenggelamkan oleh badai tersebut. Kita pada akhirnya dipanggil untuk mengalami transformasi batin yang radikal, berubah dari pribadi yang mudah digoyahkan oleh angin keadaan sekitar menjadi pribadi yang memiliki jangkar jiwa yang teramat kuat karena hidup kita secara penuh dikuasai dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

Hari ini, undangan kasih itu kembali terbuka lebar bagi setiap kita tanpa terkecuali. Tidak peduli seberapa lelahnya tubuh dan pikiranmu, atau seberapa keringnya kerohanianmu belakangan ini, janji Bapa itu tetap berlaku, tetap utuh, dan tidak pernah ditarik kembali darimu. Mari kita letakkan sejenak segala kebanggaan diri dan kemandirian palsu yang sering kali hanya menjadi topeng untuk menutupi kerapuhan kita. Mari kita kembali merendahkan hati, menjadi seperti seorang anak kecil yang dengan tulus merentangkan tangannya, menyadari sepenuhnya bahwa kita sangat membutuhkan dekapan hangat seorang Bapa dan tuntunan pasti dari Sang Penghibur untuk sanggup melangkah ke hari esok. Ketika kamu melangkah keluar dari pintu rumahmu hari ini, bersiap menghadapi kemacetan jalanan, tuntutan pekerjaan, atau bahkan tatapan sinis dunia, bawalah kebenaran ini di dalam hatimu: kamu tidak pernah dibiarkan berjalan sendirian. Ada Pribadi agung, Sang Penghibur sejati, yang selalu berjalan menemanimu.

Ya Bapa kami yang penuh dengan kasih setia, terima kasih untuk janji-Mu yang ajaib dan tidak pernah gagal dalam hidup kami. Ampuni kami yang sering kali keras kepala mengandalkan kekuatan kami sendiri, hingga akhirnya kami tersungkur dalam kelelahan yang teramat sangat. Penuhi kami pada hari ini dengan Roh Kudus-Mu, perkenalkan kami lebih dan lebih dalam lagi dengan kelembutan kasih Sang Penghibur. Biarlah kehadiran-Nya mengalir membasuh batin kami, menenangkan setiap kecemasan yang berteriak, menyembuhkan luka-luka yang tak terlihat oleh manusia, dan memampukan kami untuk terus melangkah menjadi terang-Mu di mana pun kami Engkau tempatkan, karena kami tahu, kami sungguh tak pernah sendirian. Dalam nama Tuhan Yesus, satu-satunya sumber pengharapan dan kekuatan kami.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa