Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Kemuliaan Tuhan di Tengah Rencana Hancur

Kemuliaan Tuhan di Tengah Rencana Hancur

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
2
7
0
0

Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”
Yohanes 9:3 (TB)

Lampu merah menyala terlalu lama di perempatan jalan yang basah oleh hujan sore itu. Seseorang memukul setir mobilnya dengan pelan, menghela napas panjang melihat antrean panjang kendaraan yang seolah tidak berujung. Mungkin Anda pernah berada di posisi itu, atau sekadar duduk terdiam di sudut kamar sambil menatap layar ponsel yang menampilkan pesan penolakan lamaran kerja untuk kesekian kalinya. Saat masalah datang bertubi-tubi tanpa jeda, pikiran kita mulai merangkai skenario penghakiman. Kita mulai menghitung mundur, mencari-cari kesalahan apa yang baru saja kita lakukan hingga hidup terasa begitu berat dan menyesakkan.

Reaksi alami manusia saat tertimpa musibah adalah mencari kambing hitam atas situasi buruk tersebut. Kita cenderung mengadopsi pola pikir transaksional, meyakini bahwa penderitaan selalu bermula dari dosa spesifik yang belum dibereskan. Jika hidup sedang lancar, berarti kita anak baik yang disayang Tuhan sepenuh hati. Sebaliknya, jika penyakit datang, bisnis bangkrut, atau hubungan keluarga hancur berantakan, kita merasa Tuhan sedang menjatuhkan vonis hukuman kepada kita. Kecemasan batin semacam ini perlahan-lahan membuat kita kelelahan secara spiritual setiap harinya. Kita menghabiskan energi bukan untuk mencari wajah Tuhan yang penuh kasih, melainkan sibuk mengais-ngais rasa bersalah di masa lalu.

Pertanyaan penuh curiga yang sama juga diajukan oleh murid-murid Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Saat mereka berjalan melewati seorang pria yang buta sejak lahir, mereka melihat sebuah teka-teki teologis rumit yang menuntut untuk segera dipecahkan. Mereka bertanya kepada Yesus tentang siapa yang sebenarnya berdosa, orang tua pria itu atau pria itu sendiri, sehingga ia harus lahir buta tanpa pernah melihat warna dunia. Pola pikir masyarakat Yahudi abad pertama memang sangat melekat pada konsep retribusi otomatis dalam menilai nasib seseorang. Penyakit fisik maupun cacat bawaan sering disamakan begitu saja dengan kutukan langsung atau hukuman atas dosa berat pendahulunya.

Namun, jawaban Yesus benar-benar meruntuhkan teologi kaku yang tidak berempati tersebut dalam sekejap. Yesus dengan tegas menggeser fokus murid-murid-Nya dari masa lalu yang kelam menuju masa depan yang penuh dengan pengharapan. Ia menegaskan bahwa kebutaan pria malang itu sama sekali bukanlah hasil dari dosa siapa pun, melainkan sebuah ruang kosong yang sengaja disediakan supaya kuasa Tuhan didemonstrasikan. Penderitaan, ketika dipandang melalui kacamata anugerah, tiba-tiba berubah fungsi secara total. Ia tidak lagi menjadi penjara yang mengurung kebebasan manusia, melainkan panggung utama tempat pekerjaan Allah dinyatakan dengan megah.

Bapa-bapa Gereja secara historis seperti Yohanes Krisostomus juga menafsirkan bagian firman ini dengan pandangan yang sangat membebaskan jiwa. Krisostomus mengingatkan bahwa Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa Tuhan dengan kejam sengaja membutakan pria itu hanya demi kesenangan-Nya semata. Kebutaan fisik tersebut adalah realitas wajar dari dunia yang telah jatuh dan rusak oleh dosa. Namun, Tuhan memiliki hak prerogatif untuk mengambil puing-puing penderitaan yang paling menyakitkan sekalipun, lalu meramunya kembali menjadi karya penebusan yang indah. Keterbatasan sang pria buta justru menjadi titik temu yang paling sempurna baginya dengan Kristus Sang Terang Dunia.

Pesan kebenaran ini seharusnya membawa kelegaan yang luar biasa besar bagi kita yang sedang memikul beban berat hari ini. Saat menghadapi berbagai persoalan rumit yang tidak kunjung usai, kita tidak perlu lagi terus-menerus memukuli diri sendiri dengan rasa bersalah yang tidak berdasar kebenaran Alkitab. Tentu saja dosa memang sering membawa konsekuensi buruk bagi jalan hidup kita, dan teguran keras Tuhan adalah bentuk pendisiplinan kasih sayang-Nya yang murni. Namun, kita harus sadar bahwa tidak semua penderitaan adalah akibat langsung dari dosa pribadi kita. Ada misteri penderitaan mendalam yang diizinkan terjadi sekadar agar kita menyadari bahwa kita butuh Tuhan secara mutlak. Kelemahan kita sedang dipanggil untuk berkolaborasi dengan anugerah-Nya yang menyegarkan.

Ketika rencana keuangan keluarga berantakan atau orang terkasih terbaring sakit tanpa kepastian medis, kita diajak untuk melihat melampaui rasa sakit yang membayangi. Yesus menghentikan perdebatan teologis para murid yang dingin dan segera beralih pada tindakan belas kasih yang sangat nyata bagi pria itu. Ia meludah ke tanah, membuat lumpur dari debu, dan mengoleskannya perlahan ke kelopak mata sang pria buta. Tindakan fisik ini mengingatkan kita pada peristiwa penciptaan awal, di mana Sang Pencipta membentuk manusia pertama dari debu tanah dengan tangan-Nya sendiri. Melalui air mata dan kehancuran hati kita saat ini, Yesus sesungguhnya sedang melakukan proses penciptaan ulang atas diri kita. Ia sedang membentuk karakter rapuh kita menjadi jauh lebih tangguh dan serupa dengan gambar-Nya.

Masalah terbesar yang sering menghalangi kita bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan rasa mandiri yang terlalu tinggi dan kesombongan rohani. Kesuksesan karier dan kenyamanan hidup bisa menjadi ilusi yang sangat berbahaya karena membuat kita merasa hebat dan tidak membutuhkan pertolongan siapa pun. Penderitaan, sebaliknya, dengan cepat merobek ilusi palsu tersebut, menelanjangi ketidakberdayaan kita di hadapan semesta. Di titik nadir yang paling sunyi itulah, kemenangan rohani justru baru akan dimulai. Kemenangan mutlak dalam kekristenan bukanlah tentang ketiadaan masalah hidup, melainkan penyerahan kedaulatan secara total kepada kehendak Kristus.

Penderitaan panjang pria buta tersebut membawanya pada sebuah pengenalan rohani akan siapa Tuhan yang ia sembah. Setelah ia disembuhkan dari lumpur dan air kolam Siloam, ia tidak hanya sekadar mendapatkan penglihatan fisik, tetapi juga penglihatan iman. Ia tersungkur sujud menyembah Yesus di muka umum, sementara orang-orang Farisi yang melek secara fisik sejak lahir justru buta secara rohani akibat kesombongan mereka. Terkadang Tuhan memang sengaja membiarkan penglihatan kita terhadap masa depan menjadi buram agar kita berhenti bersandar pada hitungan logika kita sendiri. Kegelapan sesaat yang menakutkan itu adalah cara Tuhan menarik kita mendekat, merasakan eratnya genggaman tangan-Nya justru saat kita sama sekali tidak bisa melihat jalan setapak di depan.

Tuhan Yesus tidak pernah memberikan janji palsu bahwa perjalanan iman pengikut-Nya akan bebas hambatan dari badai. Ia sendiri memilih jalan penderitaan yang hina menuju kayu salib demi membebaskan kita semua dari cengkeraman maut yang mengerikan. Jika Sang Juruselamat saja harus melewati rasa sakit yang tak terkatakan untuk membawa kemuliaan, kita pun sebagai murid-Nya akan dibawa melewati proses pembentukan yang serupa. Bekas luka paku yang tetap ada di tangan dan kaki Yesus yang bangkit membuktikan bahwa kehancuran masa lalu bisa ditebus dan diubah menjadi tanda kemenangan. Demikian juga halnya dengan luka-luka tak terlihat di hati kita; semuanya sedang diproses secara teliti oleh tangan Tuhan untuk menjadi kesaksian iman yang hidup.

Kita mungkin belum mampu mengerti alasan pasti di balik masalah berat yang sedang datang menimpa keluarga atau pekerjaan kita hari ini. Logika manusiawi kita mungkin melayangkan protes keras, meminta penjelasan yang masuk akal atas kehilangan waktu dan tenaga yang terasa sangat tidak adil. Namun, iman di dalam Kristus tidak menuntut penjelasan yang menyeluruh; iman menuntut kepercayaan yang penuh. Sama seperti pria buta yang bersedia disuruh berjalan tertatih membasuh diri ke kolam Siloam tanpa banyak membantah, kita pun secara personal diundang untuk taat dalam ketidakmengertian kita. Ketaatan utuh di tengah kegelapan pikiran adalah bentuk ibadah syukur yang sangat berkenan di mata Tuhan.

Pada akhirnya, biarlah setiap serpihan kelemahan yang kita miliki hari ini menjadi pengingat kuat akan kasih karunia Tuhan yang sama sekali tidak terbatas. Ketika pundak terasa terlalu berat menanggung tuntutan hidup dan langkah kaki terasa semakin gontai menapaki realitas, ingatlah bahwa panggung anugerah sedang dipersiapkan untuk Anda. Di balik tirai kesulitan dan tangisan malam ini, kemuliaan-Nya yang agung sedang menanti waktu yang tepat untuk diungkapkan kepada dunia.

Ya Bapa, ampunilah kami yang sering salah sangka terhadap-Mu saat penderitaan mendadak datang menyapa, dan tolonglah kami hari ini agar mampu menyerahkan segala kelemahan kami ke dalam tangan-Mu supaya hanya kemuliaan-Mu saja yang nyata lewat hidup kami yang rapuh ini.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa