Skip to Content

Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.

Ujian Karakter Terberat Ada di Hal Sepele

Ujian Karakter Terberat Ada di Hal Sepele

Avatar Chat Kristen Chat Kristen
2
5
0
0

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Lukas 16:10 (TB)

Kita mungkin sering melihat atau bahkan pura-pura tidak melihat kebiasaan kecil di meja kantor. Seseorang menyelipkan nota makan siang bodong untuk diklaim ke bagian keuangan. Ada juga sisa uang kembalian dinas luar kota yang mengendap tenang di dompet pribadi. Atau sekadar membawa pulang beberapa bungkus kopi dan pulpen dari lemari stok kantor karena merasa gaji bulan ini belum cukup untuk mengimbangi lelahnya bekerja.

Semua itu terlihat remeh dan sangat lumrah terjadi di sekitar kita. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa mengambil sedikit keuntungan dari perusahaan bukanlah sebuah kejahatan. Kita sering menenangkan nurani dengan berkata bahwa semua orang juga melakukannya dan tidak ada yang benar-benar dirugikan. Lagipula, apalah arti puluhan ribu rupiah bagi perusahaan yang omzetnya miliaran setiap bulan.

Namun, justru di celah-celah kecil inilah karakter asli kita sedang diuji dengan sangat tajam. Lukas 16:10 tidak sedang berbicara tentang besaran nominal angka di rekening bank. Perkataan ini muncul tepat setelah Yesus memberikan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Bendahara itu mengubah angka utang para debitur tuannya demi mengamankan nasibnya sendiri tanpa memikirkan integritas.

Yesus dengan sengaja memutarbalikkan logika manusia tentang integritas. Kita sering berpikir bahwa kita pasti akan jujur jika nanti memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar. Kita berjanji dalam hati tidak akan pernah korupsi jika suatu saat menjadi direktur perusahaan atau pejabat publik. Padahal, kesetiaan bukanlah sebuah tombol lampu yang bisa kita nyalakan dan matikan sesuka hati sesuai situasi.

Bapa Gereja, Agustinus dari Hippo, pernah memberikan renungan yang sangat menohok tentang ayat ini. Ia menegaskan bahwa hal-hal kecil memang tetaplah hal kecil secara materi, tetapi kesetiaan di dalam hal-hal kecil adalah sebuah perkara yang sangat besar. Integritas bukanlah soal ukuran harta yang sedang dipercayakan, melainkan tentang postur hati kita di hadapan Sang Pemberi kepercayaan.

Ketika kita mulai membiasakan diri berkompromi dengan ketidakjujuran sekecil apa pun, kita sebenarnya sedang menumpulkan kepekaan nurani kita sendiri. Ketidakjujuran itu ibarat karat pada sepotong besi penyangga bangunan. Awalnya hanya setitik noda cokelat yang tidak terlihat, tetapi jika dibiarkan, ia perlahan menggerogoti dan meruntuhkan seluruh struktur baja yang paling kuat sekalipun.

Jika nurani kita tidak lagi merasa bersalah atau gelisah saat mengambil seribu rupiah yang bukan hak kita, itu adalah tanda bahaya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga kita menjadi mati rasa secara total saat disodori kesempatan untuk menggelapkan puluhan juta rupiah. Dosa selalu bekerja dengan cara yang sangat halus, menipu dan membuat kita merasa bahwa pelanggaran kecil tidak memiliki konsekuensi kekal.

Kenyataan ini mungkin membuat kita merasa tertampar sekaligus takut. Kita sadar betul betapa rapuhnya pertahanan diri kita saat berhadapan dengan himpitan ekonomi rumah tangga atau sekadar godaan gaya hidup di lingkungan pergaulan. Ada kalanya kita gagal menahan diri dan ikut terseret arus kompromi hanya karena lelah menjadi satu-satunya orang yang jujur di ruangan tersebut.

Di titik kelemahan inilah kita perlu mengarahkan pandangan kembali kepada Kristus, sang penebus kita. Kekristenan tidak memanggil kita untuk sekadar menjadi karyawan bermoral baik atau mematuhi peraturan buku tata tertib perusahaan. Kita dipanggil untuk memancarkan gambar Kristus yang telah menebus kita dengan harga yang luar biasa mahal.

Kristus adalah wujud nyata dari integritas dan kesetiaan yang mutlak. Ia setia melakukan kehendak Bapa sampai titik darah penghabisan di atas kayu salib. Ia tidak pernah sekalipun mengambil jalan pintas atau berkompromi dengan godaan dosa, meski tawaran kemuliaan duniawi disodorkan kepada-Nya di padang gurun. Ketaatan-Nya yang sempurna itulah yang kini diperhitungkan kepada kita yang percaya.

Menyadari kasih karunia yang begitu besar dan tak bersyarat ini seharusnya mengubah total cara kita memandang rutinitas pekerjaan sehari-hari. Kita tidak lagi berusaha jujur semata-mata karena takut ditegur atasan atau takut terekam kamera pengawas. Kita menjaga kejujuran karena kita sangat mengasihi Tuhan yang selalu hadir menemani dan mengawasi kita di ruang-ruang sunyi kantor.

Setiap nota yang kita laporkan dengan apa adanya adalah bentuk ibadah kita kepada-Nya. Setiap jam kerja yang kita dedikasikan dengan penuh tanggung jawab adalah persembahan syukur yang hidup. Bekerja dengan integritas berarti kita sungguh-sungguh mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas hidup kita dan Dia memercayakan rincian terkecil itu untuk kita kelola dengan setia.

Tentu saja, besok pagi godaan itu tidak akan otomatis menghilang dari meja kerja kita. Gesekan dengan realita kehidupan akan tetap ada, dan tawaran untuk mengambil jalan pintas mungkin akan datang dengan kemasan yang semakin menggiurkan. Namun, kebenaran firman Tuhan memberi kita pijakan kokoh untuk berani menolak arus dan memilih jalan sempit yang benar.

Kita sangat bersyukur karena anugerah-Nya selalu cukup untuk menopang niat baik kita sekaligus memulihkan kelemahan kita setiap hari.

Tuhan, ampuni kelalaian kami jika selama ini kami sering mengabaikan ketulusan dalam hal-hal yang tampak remeh di mata manusia, dan tolonglah kami melalui kuat kuasa Roh Kudus untuk terus menjaga kebersihan hati, pikiran, serta tindakan kami agar nama-Mu saja yang dimuliakan melalui setiap hasil pekerjaan kami.
Amin

Refleksi & Diskusi 0

Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.

Belum ada diskusi

Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.

Minta Doa