Selamat datang di website resmi kami! Nikmati layanan dan pengalaman terbaik bersama kami. Tuhan Yesus memberkati.
Malam itu, di dalam gerbong KRL yang padat merayap menuju batas kota, tatapan mata kosong menembus kaca jendela yang buram oleh hujan. Deretan pesan pekerjaan di ponsel belum tuntas, sementara media sosial justru menyajikan rentetan berita tentang ketidakadilan dan hukum yang tumpul. Di luar sana, jalanan macet tak berkesudahan, klakson bersahutan memekakkan telinga, dan orang-orang saling sikut demi pulang lebih cepat. Kelelahan mental perlahan menyelinap masuk ke dalam relung hati kita yang paling sunyi, membuat dada terasa sesak oleh rutinitas. Di tengah kerasnya himpitan bertahan hidup ini, tuntutan untuk menjadi warga negara yang teladan dan melayani sesama sering kali terdengar seperti sebuah beban moral yang sangat memberatkan.
Kita menjadi begitu lelah dan mulai membangun tembok pertahanan batin yang tebal. Kita memutuskan untuk sekadar datang ke kantor, mengerjakan apa yang diwajibkan, menerima upah, lalu menutup pintu rumah rapat-rapat dari urusan dunia luar. Kekecewaan pada keadaan yang seolah selalu mengkhianati usaha keras masyarakat kecil perlahan menumbuhkan rasa apatis yang dingin di dalam diri kita. Menjadi warga negara yang peduli terasa sangat menguras sisa tenaga yang nyaris habis. Jangankan untuk memikirkan kontribusi besar bagi bangsa, untuk sekadar bertahan menghadapi kerasnya hari esok saja kita sudah kehabisan napas.
Kita sering merasa sendirian dalam usaha mempertahankan integritas dan nilai-nilai kebenaran di tengah lingkungan yang saling menjatuhkan. Ketika kita berusaha jujur, tidak jarang justru kita yang tersingkirkan dari sistem yang membenarkan kelicikan. Realitas sosial yang begitu bertolak belakang dengan nilai-nilai firman Tuhan membuat kita ingin menyerah dan mematikan empati sepenuhnya. Namun, tepat di titik nadir kepenatan inilah, firman Tuhan melalui surat rasul Paulus kepada Titus menyapa kita dengan cara yang sangat radikal. Paulus mengajak kita untuk duduk menepi sejenak dan menelaah kembali fondasi panggilan kita sebagai pengikut Kristus di tengah dunia yang hancur.
Paulus menuliskan pesannya kepada Titus bukan dari ruang diskusi teologi yang nyaman dan steril dari masalah sosial. Surat ini ditujukan untuk jemaat di Kreta, sebuah wilayah yang secara historis terkenal dengan masyarakatnya yang memberontak, pendusta, pembuat onar, dan sangat lekat dengan korupsi. Lingkungan sosial mereka jauh lebih keras, kasar, dan menantang daripada apa yang mungkin kita hadapi dalam keseharian saat ini. Mereka hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan penguasa yang menindas dan tradisi lokal yang melegalkan segala bentuk tipu daya demi keuntungan pribadi.
Di tengah situasi masyarakat yang merusak tatanan itulah, Paulus justru memberikan instruksi yang sekilas terdengar sama sekali tidak logis bagi akal sehat. Ia meminta Titus untuk mengingatkan jemaat agar mereka tunduk, taat, dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Bagaimana mungkin kita diminta untuk ramah dan bersikap lemah lembut di tengah orang-orang yang siap mengeksploitasi kebaikan kita? Apakah Tuhan memalingkan wajah-Nya terhadap rasa sakit, ketidakadilan, dan kepenatan yang kita rasakan? Sama sekali tidak. Paulus sama sekali tidak sedang mengajarkan kepasrahan buta terhadap kelaliman atau menyuruh kita memalsukan senyuman.
Panggilan untuk siap sedia dalam kebaikan ini bukanlah sebuah hukum legalistik yang menuntut kita memperbaiki dunia dengan kekuatan otot kita sendiri. Jika kita berusaha berkontribusi bagi negara demi mendapat tepuk tangan manusia, kita pasti akan tenggelam dalam lautan keputusasaan. Panggilan ini justru berakar pada sebuah identitas baru yang telah disematkan oleh kasih karunia Allah di dalam diri kita. Kita diajak untuk mengingat bahwa kedamaian batin kita tidak bergantung pada negara yang sempurna atau sistem kemasyarakatan yang tanpa cacat. Kedamaian itu bersumber dari karya penebusan Kristus di atas kayu salib yang telah memerdekakan jiwa kita sepenuhnya.
Ketika Tuhan Yesus melayani, Ia tidak menawarkan revolusi pedang untuk menggulingkan penjajahan penguasa lalim yang memeras rakyat-Nya. Ia justru membawa revolusi hati yang dampaknya jauh lebih menembus zaman dan membebaskan. Kristus membuktikan bahwa jiwa yang sungguh-sungguh tertebus tidak lagi dikendalikan oleh kepahitan, kemarahan, atau dendam terhadap sistem dunia yang bobrok. Kemerdekaan inilah yang memampukan kita untuk tetap mengasihi orang-orang yang paling sulit dikasihi. Kita dimampukan berbuat baik, semata-mata karena kita menyadari bahwa kita pun telah lebih dulu menerima anugerah pengampunan tak ternilai dari Bapa.
Melakukan pekerjaan baik di tengah masyarakat yang kehilangan kompas kebenaran adalah bentuk ibadah keseharian yang paling hidup. Saat kita memilih untuk tidak ikut menyerobot antrean panjang di stasiun yang melelahkan, kita sedang bersaksi tentang ketertiban. Saat kita menahan jari untuk tidak ikut menyebarkan ujaran kebencian di grup obrolan keluarga, kita sedang menghadirkan kasih penyembuh. Saat kita memberikan senyuman tulus kepada petugas parkir yang tubuhnya basah kuyup oleh hujan, kita sedang memancarkan terang Kristus. Kebaikan-kebaikan kecil yang konsisten ini adalah proklamasi iman kita yang paling jernih.
Melalui tindakan-tindakan sunyi yang berlawanan dengan arus dunia itu, kita sedang menegaskan bahwa dunia yang lelah ini bukanlah pelabuhan terakhir kita. Kita sedang menaburkan benih-benih Kerajaan Allah secara nyata di atas tanah Indonesia yang sedang kita doakan pemulihannya. Tentu saja, tunduk pada pemerintah bukan berarti kita mengamini ketidakadilan atau berkompromi dengan dosa korupsi. Kekristenan yang berakar kuat pada firman selalu menuntut kita untuk menyuarakan kebenaran secara berani dan membela mereka yang dipinggirkan. Namun, perlawanan kita terhadap ketidakbenaran tidak pernah boleh menggunakan senjata amarah yang sama dengan dunia ini.
Kita menolak memfitnah orang yang mengusik ketenangan kita, kita menjauhi pertengkaran yang sia-sia, dan kita merawat kelembutan hati di tengah berbagai provokasi jalanan. Kelembutan ini bukanlah tanda kepengecutan, melainkan wujud kekuatan jiwa yang telah belajar bersandar total pada kedaulatan Sang Arsitek Kehidupan. Hanya hati yang telah diremukkan lalu disatukan kembali oleh anugerah Tuhan yang bisa tetap bersikap ramah di tengah realitas yang begitu kasar. Ini adalah sebuah mukjizat transformasi karakter yang murni dikerjakan oleh Roh Kudus, bukan hasil olah batin manusia.
Mungkin malam ini pundakmu terasa begitu berat dan langkahmu begitu tertatih menyusuri trotoar yang basah. Membawa status sebagai pengikut Kristus yang konsisten di tengah realitas negara yang abu-abu memang sering kali memicu kelelahan mental yang menguras air mata. Tidak apa-apa untuk mengakui batas kekuatan manusiawimu, menepi sejenak, dan jujur bahwa kamu tidak lagi sanggup berjuang sendirian. Bawalah rasa apatis dan tumpukan kekecewaanmu itu langsung ke hadapan salib Kristus, tanpa basa-basi. Izinkan Dia merengkuhmu dan membalut setiap sayatan kecewamu dengan kasih karunia-Nya yang meneduhkan.
Dari perjumpaan yang intim dengan anugerah-Nya itulah, kita akan disuntikkan kekuatan baru untuk melangkah keluar dari tempat persembunyian kita. Kita akan kembali menjadi terang yang menghangatkan kegelapan, dan terus berbuat baik bagi bangsa ini. Kita melakukannya bukan karena masyarakat membalasnya dengan sepadan, melainkan karena kita adalah milik Kristus yang tidak pernah menyerah mengasihi dunia yang cemar ini.

Refleksi & Diskusi 0
Bagikan rhema yang Anda dapatkan dari renungan ini.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memberkati orang lain melalui komentar Anda.